Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penguatan Budaya Sekolah Aman Dan Nyaman Melalui Sosialisasi Antiperundungan Partisipatif Di SDN Jayanti 1 Desma Desma; Galuh Mulyawan; Romeo Dharma Rizaldi; Salwa Magfirah; Lika Pajriyani; Zahrotussita; Sabrinah Meilani
JURIBMAS : Jurnal Hasil Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): Oktober 2026
Publisher : LKP KARYA PRIMA KURSUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62712/juribmas.v5i2.1616

Abstract

Perundungan di sekolah dasar tidak hanya berbentuk agresi fisik yang mudah diamati, tetapi juga dapat hadir melalui ejekan verbal, pengucilan relasional, dan agresi di ruang digital yang memengaruhi rasa aman, partisipasi, serta pengalaman belajar peserta didik. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memperkuat pemahaman siswa mengenai perundungan sekaligus mendukung praktik pencegahan pada tingkat sekolah di SDN Jayanti 1. Pelaksanaan menggunakan pendekatan edukatif-partisipatif yang melibatkan siswa kelas IV–VI, guru, dan pimpinan sekolah. Rangkaian kegiatan mencakup identifikasi kebutuhan awal, pemaparan kontekstual mengenai perundungan, diskusi kelompok kecil, klasifikasi kasus berbasis skenario, permainan edukatif berorientasi empati, simulasi respons aman dan pelaporan, serta refleksi pascakegiatan. Capaian program dievaluasi secara deskriptif melalui observasi partisipatif, wawancara singkat, dokumentasi, dan angket prapasca berbasis skenario. Evaluasi menunjukkan pergeseran pemahaman dari konsepsi sempit yang menempatkan perundungan sebagai kekerasan fisik menuju pengenalan yang lebih luas terhadap bentuk verbal, relasional, dan siber. Kesiapan siswa untuk menceritakan pengalaman terkait perundungan kepada orang dewasa tepercaya juga meningkat, sedangkan guru mengidentifikasi pentingnya umpan balik privat, kesempatan remedial yang setara, dan praktik asesmen yang tidak memberi stigma. Karena evaluasi dilakukan dalam jangka pendek tanpa kelompok pembanding dan tanpa instrumen prevalensi terstandar, hasil diposisikan sebagai perubahan langsung pada pengetahuan, kemampuan mengenali situasi, dan kesiapan melapor, bukan sebagai bukti penurunan perundungan dalam jangka panjang. Program ini menunjukkan nilai praktis integrasi edukasi siswa, keterampilan saksi, praktik guru, dan mekanisme pelaporan sekolah dalam kerangka pencegahan berbasis budaya sekolah.
Integrasi Edukasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika dan Literasi Digital bagi Generasi Muda di Desa Jayanti Desma Yuliadi Saputra; Romeo Dharma Rizaldi; Muhammad Ridho Amri; Zahrotussita; Sabrinah Meilani
Prosiding Senapas Vol. 1 No. 1 (2026): Prosiding Senapas
Publisher : LPPM Universitas Bina Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.68321/pw1n9170

Abstract

Generasi muda di tingkat komunitas semakin berhadapan dengan risiko yang saling beririsan, terutama penyalahgunaan narkotika dan penggunaan ruang digital yang tidak aman. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkuat pengetahuan preventif, kesadaran terhadap risiko, dan kecakapan digital kritis masyarakat, khususnya generasi muda, di Desa Jayanti. Kegiatan dilaksanakan pada 5 Agustus 2026 oleh mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 91 Universitas Bina Bangsa melalui edukasi masyarakat, penyampaian materi oleh narasumber, dan diskusi interaktif. Bhabinkamtibmas Brigpol Anggi Wahyudi menyampaikan materi mengenai bahaya dan pencegahan penyalahgunaan narkotika, sedangkan Dieng Asep Jamaludin, S.Pd., M.Ti. menyampaikan materi literasi digital yang mencakup keamanan digital, etika bermedia, dan verifikasi informasi. Peserta terdiri atas perangkat Desa Jayanti, pengurus RT/RW, Karang Taruna, dan masyarakat. Evaluasi menggunakan indikator proses secara kualitatif berdasarkan observasi dan dokumentasi kegiatan, dengan fokus pada keterlibatan peserta, partisipasi dalam diskusi, dan indikasi pemahaman; kegiatan belum menggunakan instrumen kuantitatif berupa tes awal dan tes akhir. Pelaksanaan kegiatan menunjukkan interaksi aktif dan indikasi kualitatif bahwa peserta memperoleh pemahaman yang lebih jelas mengenai pencegahan narkotika, perilaku digital yang bertanggung jawab, keamanan penggunaan internet, dan pentingnya memverifikasi informasi sebelum membagikannya. Integrasi kedua materi relevan karena keduanya menuntut kemampuan menilai risiko, berpikir kritis, melindungi diri, mengambil keputusan secara bertanggung jawab, dan membangun dukungan sosial. Meskipun demikian, keterbatasan data demografis peserta, pengukuran sebelum-sesudah, dan tindak lanjut membatasi penarikan kesimpulan kausal. Program lanjutan perlu mengembangkan sesi berkala, instrumen evaluasi yang tervalidasi, penguatan sebaya, dan mekanisme keberlanjutan di tingkat desa.