Perundungan di sekolah dasar tidak hanya berbentuk agresi fisik yang mudah diamati, tetapi juga dapat hadir melalui ejekan verbal, pengucilan relasional, dan agresi di ruang digital yang memengaruhi rasa aman, partisipasi, serta pengalaman belajar peserta didik. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memperkuat pemahaman siswa mengenai perundungan sekaligus mendukung praktik pencegahan pada tingkat sekolah di SDN Jayanti 1. Pelaksanaan menggunakan pendekatan edukatif-partisipatif yang melibatkan siswa kelas IV–VI, guru, dan pimpinan sekolah. Rangkaian kegiatan mencakup identifikasi kebutuhan awal, pemaparan kontekstual mengenai perundungan, diskusi kelompok kecil, klasifikasi kasus berbasis skenario, permainan edukatif berorientasi empati, simulasi respons aman dan pelaporan, serta refleksi pascakegiatan. Capaian program dievaluasi secara deskriptif melalui observasi partisipatif, wawancara singkat, dokumentasi, dan angket prapasca berbasis skenario. Evaluasi menunjukkan pergeseran pemahaman dari konsepsi sempit yang menempatkan perundungan sebagai kekerasan fisik menuju pengenalan yang lebih luas terhadap bentuk verbal, relasional, dan siber. Kesiapan siswa untuk menceritakan pengalaman terkait perundungan kepada orang dewasa tepercaya juga meningkat, sedangkan guru mengidentifikasi pentingnya umpan balik privat, kesempatan remedial yang setara, dan praktik asesmen yang tidak memberi stigma. Karena evaluasi dilakukan dalam jangka pendek tanpa kelompok pembanding dan tanpa instrumen prevalensi terstandar, hasil diposisikan sebagai perubahan langsung pada pengetahuan, kemampuan mengenali situasi, dan kesiapan melapor, bukan sebagai bukti penurunan perundungan dalam jangka panjang. Program ini menunjukkan nilai praktis integrasi edukasi siswa, keterampilan saksi, praktik guru, dan mekanisme pelaporan sekolah dalam kerangka pencegahan berbasis budaya sekolah.
Copyrights © 2026