Penelitian ini merupakan eksperimen semu yang bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan Japanese Multiplication Method (JAMED) dan Lattice Multiplication dalam model Problem Based Learning (PBL), mendeskripsikan pemahaman konsep perkalian bilangan bulat siswa setelah pembelajaran, serta menganalisis perbedaan hasil antara kedua metode. Penelitian dilaksanakan pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Anggeraja semester genap tahun ajaran 2025/2026. Sampel dipilih dengan teknik cluster random sampling, yaitu kelas VII A sebagai eksperimen 1 (JAMED) dan kelas VII B sebagai eksperimen 2 (Lattice Multiplication), masing-masing berjumlah 25 siswa. Data dikumpulkan melalui tes posttest berbentuk uraian, lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, dan angket respon siswa. Analisis data meliputi statistik deskriptif, uji Shapiro-Wilk, uji Levene, dan independent samples t-test dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata posttest kelas JAMED sebesar 66,00 (kategori sedang) dan kelas Lattice Multiplication sebesar 74,60 (kategori tinggi). Keterlaksanaan pembelajaran pada kedua kelas berada pada kategori sangat baik, masing-masing 96,28% dan 96,08%. Uji hipotesis menghasilkan t = -2,115, df = 48, dan Sig. (2-tailed) = 0,040 < 0,05, sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil kedua kelompok. Persentase ketuntasan berdasarkan KKM 73 adalah 28,00% pada kelas JAMED dan 56,00% pada kelas Lattice Multiplication. Walaupun capaian tes kelas Lattice lebih tinggi, respon siswa terhadap JAMED lebih positif dengan rata-rata skor angket 43,04 (kategori tinggi), dibandingkan Lattice 38,80 (kategori sedang).