Darurat perundungan di lingkungan sekolah telah bertransformasi menjadi ancaman sistemik yang mencerminkan krisis empati dan kegagalan institusi pendidikan dalam merawat kepekaan afektif peserta didik. Penelitian kepustakaan ini bertujuan untuk mengkaji bentuk faktual dan akar psikososial perundungan, mengeksplorasi konsep teoretis Love-Based Curriculum, serta merumuskan strategi implementasinya sebagai solusi preventif yang humanis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), kajian ini membedah literatur relevan melalui sintesis pemikiran pedagogi kritis Paulo Freire dan psikologi humanis Carl Rogers. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perundungan baik fisik, verbal, relasional, maupun siber berakar dari ruang kelas yang dingin yang terjebak pada pencapaian kognitif semata dan pendekatan disiplin punitif yang reaktif. Sebagai respons radikal, Love-Based Curriculum menawarkan reorientasi filosofis dari teaching subjects menjadi teaching human beings guna mendidik manusia seutuhnya. Karakteristik utamanya berfokus pada penerimaan tanpa syarat (unconditional positive regard), inklusivitas radikal, dan pembentukan komunitas belajar yang aman secara psikologis. Adapun strategi implementasinya mencakup penghapusan pendidikan gaya bank melalui dialog otentik, integrasi nilai afektif lintas kurikuler, pelembagaan Social-Emotional Learning (SEL), penerapan keadilan restoratif (restorative justice), serta kemitraan strategis dengan orang tua. Kurikulum berbasis cinta ini terbukti mampu mendekonstruksi kekeringan emosional di sekolah serta mewujudkan ekosistem pendidikan yang humanis, inklusif, dan bebas dari kekerasan.