kehamilan yang sehat, pengaturan jarak kelahiran, dan pengambilan keputusan reproduksi secara sadar pada pasangan usia subur. Namun, keterbatasan informasi, kesalahpahaman mengenai kontrasepsi, kekhawatiran terhadap efek samping, serta keterlibatan pasangan yang belum seimbang dapat memengaruhi pemanfaatan layanan keluarga berencana. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi dan mendukung pengambilan keputusan keluarga berencana secara terinformasi pada pasangan usia subur. Kegiatan melibatkan 30 peserta dan dilaksanakan pada September 2026 di salah satu wilayah pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Kegiatan meliputi edukasi kesehatan, diskusi interaktif, penyampaian informasi metode kontrasepsi, fasilitasi konseling, dan rujukan kepada tenaga kesehatan yang berwenang. Materi mencakup kesehatan reproduksi, perencanaan kehamilan, jarak kelahiran, metode kontrasepsi, kemungkinan efek samping, serta pentingnya pilihan yang sukarela dan berdasarkan informasi yang memadai. Pengetahuan dievaluasi melalui kuesioner pre-test dan post-test, sedangkan partisipasi dan pemahaman pilihan keluarga berencana dinilai melalui diskusi dan observasi. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan rerata skor pengetahuan dari 61,2 menjadi 86,5. Peserta menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai kesehatan reproduksi dan pilihan metode kontrasepsi yang tersedia. Kegiatan ini menegaskan peran edukasi terstruktur dan pendampingan dalam mendukung pengambilan keputusan reproduksi secara terinformasi. Konseling keluarga berencana harus tetap bersifat sukarela, menjaga kerahasiaan, tidak diskriminatif, serta mempertimbangkan kebutuhan dan preferensi kesehatan setiap individu.