Dina Evyana
1Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, Rumah Sakit Airan Raya, Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

IKTIOSIS LAMELAR EKSTENSIF DAN TERLAMBAT DIAGNOSIS: SEBUAH LAPORAN KASUS Nuriasani Yukendri; Dina Evyana; Rizki Hanriko
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 3 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i3.640

Abstract

   Pendahuluan: Iktiosis lamelar (IL) merupakan bentuk iktiosis non-sindrom herediter dalam kelompok autosomal recessive congenital ichthyosis (ARCI) yang jarang, dengan prevalensi sekitar 1:300.000. Laporan ini menyajikan satu kasus IL yang ekstensif pada pasien dewasa muda untuk memperlihatkan manifestasi klinis dalam kondisi terlambat didiagnosis dan terabaikan, dengan stigma sosial yang menyertainya. Kasus: Seorang perempuan berusia 20 tahun pascapersalinan dirujuk ke departemen dermatovenerologi dengan plak hiperpigmentasi generalisata dan skuama hiperkeratotik berbentuk lempengan menyerupai sisik ikan. Riwayat lahir menyerupai membran kolodion yang kemudian menghilang dan menjadi skuama besar, tebal, dan kehitaman. Histopatologi menunjukkan hiperkeratosis, parakeratosis, keratotic plugging, dan infiltrasi limfosit, mendukung diagnosis IL. Diskusi: Meskipun kelainan muncul sejak lahir, pasien tidak mendapat terapi karena keterbatasan sosial ekonomi, pendidikan, dan akses terhadap layanan kesehatan. Kondisi ini menyebabkan keterlambatan diagnosis, gangguan aktivitas, serta stigma sosial hingga pasien putus sekolah. Simpulan: Diagnosis IL idealnya dikonfirmasi dengan uji genetik, namun pada fasilitas terbatas dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan histopatologi. Keterlambatan diagnosis berdampak pada kualitas hidup dan kesehatan psikologis. Deteksi dini, terapi suportif, dan pendekatan psikososial penting untuk mencapai prognosis yang lebih baik.