Aksara Jawa memiliki tingkat kompleksitas ortografis yang tinggi akibat banyaknya grafem yang berbagi kemiripan struktur visual. Kondisi ini memicu kebingungan ortografis terkait arah hadap, variasi lengkungan, dan penambahan struktur kaki aksara, yang menjadi hambatan utama bagi pembelajar tingkat dasar dan menengah. Artikel konseptual ini menyajikan rekayasa metode Grana Raja (Grafem Legena Aksara Jawa) sebagai pendekatan instruksional inovatif untuk mengatasi tantangan kognitif tersebut. Metode ini merestrukturisasi pembelajaran 20 aksara legena dari pendekatan sekuensial konvensional menjadi empat klaster berbasis kemiripan bentuk visual. Klasterisasi ini tidak bersifat saling eksklusif, melainkan memungkinkan keanggotaan ganda (khusus pada aksara nga) demi mengakomodasi tumpang tindih visual antar-kelompok. Secara teoretis, desain metode ini didasarkan pada sintesis tiga kerangka konseptual yang saling melengkapi, yaitu teori pemrosesan informasi, teori beban kognitif, dan teori persepsi visual Gestalt. Teori pemrosesan informasi berfungsi memandu mekanisme spesifik dalam proses encoding melalui penyandian visual terarah, storage melalui retensi berbasis skema klaster, dan retrieval melalui pemanggilan kembali memori lewat petunjuk kemiripan. Teori beban kognitif dari Sweller digunakan sebagai landasan primer untuk mengelola kapasitas mental, di mana metode ini secara teoretis dirancang untuk mereduksi extraneous cognitive load akibat materi yang tidak terstruktur, mengelola intrinsic cognitive load dari kompleksitas bentuk aksara, dan mengoptimalkan germane load demi pembentukan skema mental yang mendalam. Sementara itu, teori persepsi visual Gestalt berfungsi memandu analisis visual siswa secara sistematis melalui pemanfaatan prinsip kesamaan (similarity) dan kedekatan (proximity). Sebagai sebuah artikel konseptual, metode Grana Raja belum diuji secara empiris pada peserta didik sehingga efektivitasnya di lapangan belum dapat dinyatakan secara pasti. Kendati demikian, melalui mekanisme pengelompokan informasi yang terstruktur, metode ini secara teoretis berpotensi mengoptimalisasi proses memori manusia. Oleh karena itu, metode Grana Raja direkomendasikan untuk diuji sebagai alternatif strategi pembelajaran aksara Jawa yang berbasis kognisi dan berorientasi pada pemecahan masalah ortografis.