Research on mandates in literary works has been widely conducted; however, studies specifically examining mandates related to Papuan customary traditions, particularly the snail oath (sumpah siput), in Dzikry El Han's novel Cinta Putih di Bumi Papua remain limited. This study aims to describe the mandates of the snail oath contained in Dzikry El Han's novel Cinta Putih di Bumi Papua. This study employed a qualitative approach with a descriptive method. The research data consisted of excerpts from the novel containing the mandates of the snail oath, while the data source was Dzikry El Han's novel Cinta Putih di Bumi Papua, published by PT Mizan Publika (Noura Books). Data were collected through reading, listening, and note-taking techniques, with the researcher serving as the main research instrument. Data analysis was conducted through several stages: reading and listening to the text, identifying and classifying the data, describing the findings, presenting the analysis results, and drawing conclusions. Data validity was established through theoretical triangulation using relevant concepts of literary mandates and sociology of literature. The findings indicate that the mandates of the snail oath in the novel consist of five forms: (1) disputes, which emphasize resolving problems amicably by prioritizing rational thinking and mutual compassion; (2) compliance with customary regulations, which highlights the importance of justice, wisdom, and adherence to customary rules; (3) providing protection, which reflects the human right to receive defense and protection as social beings; (4) feeling guilty, which emphasizes acknowledging mistakes, apologizing, and not forcing others to forgive; and (5) steadfastness, which highlights the importance of maintaining trust, attitudes, and principles while considering responsibility in life. These findings demonstrate that the snail oath in the novel functions not only as a representation of Papuan customary traditions but also conveys moral and social values relevant to communal life. This study implies that literary works can serve as a medium for understanding local wisdom, social life, and the development of wise attitudes within society. ABSTRAK Penelitian mengenai amanat dalam karya sastra telah banyak dilakukan, tetapi kajian yang secara khusus mengungkap amanat yang berkaitan dengan tradisi adat Papua, terutama sumpah siput, dalam novel Cinta Putih di Bumi Papua karya Dzikry El Han masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan amanat sumpah siput yang terkandung dalam novel Cinta Putih di Bumi Papua karya Dzikry El Han. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data penelitian berupa kutipan teks novel yang mengandung amanat sumpah siput, sedangkan sumber data berupa novel Cinta Putih di Bumi Papua karya Dzikry El Han yang diterbitkan oleh PT Mizan Publika (Noura Books). Data dikumpulkan melalui teknik membaca, menyimak, dan mencatat, dengan peneliti sebagai instrumen utama. Analisis data dilakukan melalui tahapan membaca dan menyimak teks, mengidentifikasi dan mengklasifikasikan data, mendeskripsikan temuan, menyajikan hasil analisis, dan menarik kesimpulan. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi teori dengan menggunakan konsep amanat dan kajian sosiologi sastra yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa amanat sumpah siput dalam novel meliputi lima bentuk, yaitu (1) perselisihan, yang mengajarkan penyelesaian masalah secara kekeluargaan dengan mengedepankan akal sehat dan kasih sayang; (2) mematuhi peraturan adat, yang menekankan pentingnya keadilan, kebijaksanaan, dan kepatuhan terhadap ketentuan adat; (3) memberi perlindungan, yang menunjukkan hak manusia untuk memperoleh pembelaan dan perlindungan sebagai makhluk sosial; (4) merasa bersalah, yang mengajarkan pentingnya mengakui kesalahan, meminta maaf, dan tidak memaksakan pengampunan; serta (5) keteguhan, yang menekankan pentingnya menjaga amanah, sikap, dan pendirian dengan mempertimbangkan tanggung jawab dalam kehidupan. Temuan ini menunjukkan bahwa sumpah siput dalam novel tidak hanya berfungsi sebagai representasi tradisi adat Papua, tetapi juga memuat nilai moral dan sosial yang relevan dengan kehidupan bersama. Penelitian ini berimplikasi pada pemanfaatan karya sastra sebagai media untuk memahami nilai kearifan lokal, kehidupan sosial, dan pembentukan sikap bijaksana dalam kehidupan bermasyarakat.