Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

KADER TERAMPIL, ASI LANCAR: OPTIMALISASI KETERAMPILAN PIJAT OKSITOSIN DALAM MENDUKUNG KELANCARAN PENGELUARAN ASI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DAHLIA, PUSKESMAS PANNAMBUNGAN, DAN PUSKESMAS BATUA MAKASSAR Subriah Subriah; St Subriani; Agustina Ningsi; Hidayati Hidayati
JURNAL PENGABDIAN MANDIRI Vol. 5 No. 9 (2026): September 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menyusui merupakan upaya penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi yang optimal. Salah satu tantangan umum yang dialami oleh ibu menyusui adalah kesulitan yang dirasakan atau dialami dalam pengeluaran ASI, yang dapat memengaruhi keberhasilan menyusui. Pijat oksitosin adalah teknik non-farmakologis yang dapat merangsang pelepasan oksitosin, meningkatkan relaksasi, dan mendukung pengeluaran ASI. Kader kesehatan masyarakat memiliki peran strategis dalam memberikan pendidikan dan bantuan kepada ibu menyusui. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, motivasi, kemandirian, dan keterampilan kader dalam memberikan pendidikan menyusui dan melakukan pijat oksitosin dengan benar. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 4–7 Agustus 2026, di Puskesmas Dahlia, Jalan Seroja, melibatkan 21 kader dari Puskesmas Dahlia, Pannambungan, dan Batua. Tim pengabdian masyarakat terdiri dari empat dosen dan dua mahasiswa. Metode yang digunakan meliputi pretest, kuliah interaktif, diskusi, demonstrasi, bermain peran, praktik terbimbing, umpan balik dan koreksi, praktik mandiri, posttest, dan diskusi evaluatif. Penilaian keterampilan menggunakan daftar periksa observasi menunjukkan skor rata-rata 95, dengan skor terendah 80 dan skor tertinggi 100. Sebanyak 19 dari 21 kader (90,5%) mencapai skor ≥90. Hasil ini menunjukkan bahwa pelatihan berhasil meningkatkan penguasaan keterampilan pijat oksitosin pada kader. Pelatihan pijat oksitosin dapat digunakan sebagai strategi pemberdayaan masyarakat untuk memperkuat peran kader dalam mendukung keberhasilan pemberian ASI.