This Author published in this journals
All Journal Ulil Albab
Khotimah Dwi Safitri
Universitas Adhirajasa Reswara Sanjaya, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Strategi Menanggulangi Overcrowding Dalam Waktu Tunggu Transit Berdasarkan Evaluasi NEDOCS Di IGD Rumah Sakit: Studi Kasus di Rumah Sakit Angkatan Laut dr. Ramelan Surabaya Khotimah Dwi Safitri; Bayu Wahyudi; Rinawati Rinawati
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 5 No. 11: Oktober 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v5i11.21082

Abstract

Kepadatan berlebih (overcrowding) di Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan masalah sistemik yang berdampak pada penurunan mutu pelayanan dan keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi penanggulangan overcrowding di IGD Rumah Sakit Angkatan Laut dr. Ramelan Surabaya menggunakan pendekatan National Emergency Department Overcrowding Scale (NEDOCS). Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi operasional sebagai data dasar (baseline), dilanjutkan dengan kuesioner terbuka dan tertutup kepada 30 tenaga medis yang dianalisis secara tematik menggunakan model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor NEDOCS berada pada angka 117,31 (kategori Overcrowded). Triangulasi data kualitatif mengonfirmasi bahwa penumpukan antrean didominasi oleh hambatan arus keluar, yang disebabkan oleh keterbatasan tempat tidur rawat inap, lambatnya birokrasi BPJS, serta beban ganda pengisian Rekam Medis Elektronik (EMR) yang belum adaptif terhadap situasi darurat. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa overcrowding secara dominan dipicu oleh hambatan sistemik. Strategi manajerial yang direkomendasikan meliputi penerapan Dashboard Bed Management terintegrasi secara real-time, penyediaan posko asuransi/BPJS 24 jam, serta penyederhanaan antarmuka EMR menjadi "Mode Darurat".)