The rapid growth of social media has increased individuals’ tendency to express emotions impulsively when facing psychological distress, potentially leading to social conflict and cyberbullying. This study aimed to describe the psychological assessment process and the implementation of a cognitive behavioral-based emotion regulation intervention for an emerging adult woman displaying impulsive behavior on social media. The study employed a case study approach involving a 22-year-old woman identified as RAN, who experienced difficulties in emotion regulation after receiving cyberbullying triggered by emotional posts on social media X. Assessment procedures included observation, semi-structured interviews, the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), graphic tests, the Wartegg Test, and the Raven’s Standard Progressive Matrices (SPM). The intervention consisted of cognitive behavioral-based emotion regulation training. The findings demonstrated improved emotion regulation abilities, indicated by increased ERQ scores from the low to moderate category. Behavioral changes were reflected in reduced impulsive responses, improved emotional awareness, and more adaptive coping strategies following experiences of cyberbullying. Abstrak Perkembangan media sosial meningkatkan kecenderungan individu untuk mengekspresikan emosi secara impulsif ketika menghadapi tekanan psikologis. Kondisi tersebut dapat memunculkan konflik sosial dan pengalaman cyberbullying. Penelitian ini bertujuan menggambarkan proses asesmen psikologis dan pelaksanaan intervensi regulasi emosi berbasis pendekatan cognitive behavioral pada perempuan dewasa awal dengan perilaku impulsif di media sosial. Penelitian menggunakan desain penelitian studi kasus individual dengan pendekatan deskriptif dan kualitatif pada perempuan berinisial RAN berusia 22 tahun yang mengalami kesulitan regulasi emosi setelah menerima cyberbullying akibat unggahan emosional di media sosial X. Asesmen dilakukan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), tes grafis, Tes Wartegg, dan Raven’s Standard Progressive Matrices (SPM). Intervensi diberikan melalui pelatihan regulasi emosi berbasis cognitive behavioral. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan regulasi emosi yang ditandai dengan peningkatan skor ERQ dari 15 yang berada pada kategori rendah menjadi 28 pada kategori sedang. Perubahan perilaku tampak pada menurunnya respons impulsif, meningkatnya kemampuan mengenali emosi, serta berkembangnya strategi pengelolaan emosi yang lebih adaptif dalam menghadapi tekanan psikologis akibat cyberbullying.