Rina Aristiani
Universitas Muria Kudus

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peningkatan Kontrol Diri dalam Menghadapi Fear of Missing Out (FOMO) melalui Bimbingan Kelompok Behavioral Contract di SMA Negeri 2 Kudus Silviana Sulistia Putri; Rina Aristiani; Santoso Santoso
DIKSI: Jurnal Kajian Pendidikan dan Sosial Vol. 7 No. 3 (2026): Diksi: Jurnal Kajian Pendidikan dan Sosial
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/diksi.v7i3.5475

Abstract

Fear of Missing Out (FOMO) merupakan kekhawatiran yang meresap bahwa orang lain sedang mengalami pengalaman sosial yang lebih bermakna, yang mendorong perilaku kompulsif memantau media sosial dan berkaitan dengan rendahnya kontrol diri murid. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kondisi awal, pelaksanaan, dan peningkatan kontrol diri murid kelas XI F2 SMA Negeri 2 Kudus dalam menghadapi FOMO melalui layanan bimbingan kelompok dengan teknik behavioral contract. Penelitian menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling (PTBK) dua siklus, masing-masing tiga pertemuan. Subjek penelitian adalah 8 murid yang dipilih secara purposif berdasarkan skor kontrol diri rendah dan FOMO tinggi. Data dikumpulkan melalui angket kontrol diri (30 butir), angket FOMO (28 butir), observasi, dan wawancara, kemudian dianalisis secara deskriptif komparatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor kontrol diri meningkat dari 44,8% (kategori rendah) pada pra siklus menjadi 58,8% (kategori sedang) pada akhir Siklus I, dan 79,4% (kategori tinggi) pada akhir Siklus II. Sebaliknya, rata-rata skor FOMO menurun dari 79,1% (kategori tinggi) menjadi 63,4% (kategori sedang), dan akhirnya 41,3% (kategori rendah). Peningkatan paling signifikan terjadi setelah behavioral contract bersifat bilateral dan bertahap atau graduated diterapkan pada Siklus II. Penelitian ini menyimpulkan bahwa layanan bimbingan kelompok dengan teknik behavioral contract efektif meningkatkan kontrol diri murid dalam menghadapi FOMO, sehingga dapat menjadi alternatif intervensi bagi guru bimbingan dan konseling di sekolah. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan desain dengan kelompok kontrol pembanding serta pengukuran tindak lanjut atau follow-up untuk menguji keberlanjutan perubahan perilaku dalam jangka panjang, mengingat dimensi kecanduan atau addiction pada FOMO masih menunjukkan capaian perbaikan yang paling moderat dibandingkan dimensi.
Upaya Mereduksi Kecanduan Game Online melalui Layanan Konseling Kelompok dengan Teknik Self-management pada Siswa Kelas XI F7 SMA Negeri 2 Kudus Iqlima Maharani; Sucipto Sucipto; Rina Aristiani
DIKSI: Jurnal Kajian Pendidikan dan Sosial Vol. 7 No. 3 (2026): Diksi: Jurnal Kajian Pendidikan dan Sosial
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/diksi.v7i3.5512

Abstract

Kecanduan game online pada siswa perlu mendapat penanganan terstruktur karena dapat mengganggu aktivitas belajar dan fungsi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi awal kecanduan game online, pelaksanaan layanan konseling kelompok dengan teknik self-management, serta perubahan tingkat kecanduan game online pada siswa kelas XI F7 SMA Negeri 2 Kudus. Penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling (PTBK) dalam dua siklus yang masing-masing terdiri atas tiga pertemuan. Subjek penelitian berjumlah lima siswa laki-laki yang dipilih secara purposif berdasarkan rekomendasi guru BK, hasil observasi, wawancara, dan skor skala kecanduan game online. Data dikumpulkan melalui skala, observasi, dan wawancara, kemudian dianalisis secara deskriptif komparatif dan kualitatif. Hasil menunjukkan skor rata-rata menurun dari 130 (61,9%) pada pra-siklus menjadi 107 (50,9%) pada Siklus I dan 80 (38,1%) pada Siklus II. Kategori rata-rata berubah dari tinggi menjadi sedang dan kemudian rendah. Perubahan lebih stabil pada Siklus II setelah ditambahkan target terukur, kontrak perilaku, pemantauan progres, stimulus control, self-reward, dan dukungan teman sebaya. Penurunan relatif dari pra-siklus ke Siklus II sebesar 38,5% belum mencapai target kuantitatif 50% dalam proposal. Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan subjek yang lebih luas, kelompok pembanding, serta pengukuran tindak lanjut untuk menguji keberlanjutan perubahan.