Banyak masyarakat pedesaan dan pinggiran kota di Indonesia masih mengandalkan air sumur sebagai sumber air minum utama, namun pemantauan dan pengolahan kualitas air di lingkungan tersebut sebagian besar masih dilakukan secara manual, tidak akurat, dan tidak konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi Smart Tandon, sebuah sistem penyimpanan air minum masyarakat berbasis IoT yang mengintegrasikan pemantauan kualitas air multi parameter secara real time dan evaluasi kinerja filtrasi otomatis. Sistem ini menggunakan mikrokontroler ESP32 yang terhubung dengan sensor pH, Total Dissolved Solids (TDS), kekeruhan, dan suhu, serta modul filtrasi berlapis yang terdiri dari pasir, karbon aktif, dan zeolit. Data sensor dikirimkan melalui WiFi ke dasbor pemantauan IoT untuk visualisasi dan pencatatan data secara real time. Eksperimen dilakukan selama 55 menit dengan interval pengambilan sampel 5 menit. Hasil menunjukkan bahwa air sumur sebelum pengolahan memiliki pH 6,3–6,5, TDS 300–400 ppm, dan kekeruhan 8–16 NTU. Setelah filtrasi, pH stabil pada 7,1–7,5, TDS berkurang menjadi 100–150 ppm, dan kekeruhan turun menjadi 1–3 NTU, dengan penurunan sekitar 64% untuk TDS dan 81% untuk kekeruhan. Seluruh nilai pasca filtrasi memenuhi standar kualitas air minum WHO dan SNI. Sistem mencapai tingkat keberhasilan transmisi data sebesar 98,7% selama periode pengujian, dengan rata rata waktu respons sensor di bawah 2 detik. Hasil ini menunjukkan bahwa Smart Tandon memberikan solusi yang terukur, skalabel, dan berbiaya rendah untuk pengelolaan kualitas air otomatis di lingkungan komunitas, khususnya di daerah yang tidak memiliki akses terhadap infrastruktur pengolahan air terpusat.