Agroindustri tape merupakan salah satu bentuk pengolahan hasil pertanian yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas singkong sekaligus mendukung daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Namun, pengembangan usaha masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan inovasi produk, teknologi produksi, dan strategi pemasaran. Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai tambah pengolahan singkong menjadi tape, merumuskan strategi pengembangan usaha, serta menentukan prioritas strategi pada UMKM Tape Mayangsari, Kabupaten Jember. Penelitian dilaksanakan pada Januari–Februari 2026 menggunakan pendekatan kualitatif dengan data primer dan sekunder. Analisis data dilakukan menggunakan metode Hayami untuk menghitung nilai tambah, analisis SWOT melalui matriks IFAS dan EFAS untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal, serta Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan prioritas strategi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan singkong menjadi tape menghasilkan nilai tambah sebesar Rp9.889/kg dengan rasio nilai tambah 52% dan tingkat keuntungan 88%, sehingga termasuk kategori nilai tambah tinggi. Hasil analisis SWOT menunjukkan skor IFAS sebesar 2,85 dan EFAS sebesar 2,73, yang menempatkan usaha pada posisi growth strategy,sehingga memiliki kekuatan dan peluang yang lebih dominan dibandingkan kelemahan dan ancaman. Berdasarkan analisis AHP, strategi prioritas adalah memaksimalkan infrastruktur dan teknologi produksi dengan bobot 0,31, diikuti pemanfaatan teknologi digital untuk pemasaran (0,24), pengembangan produk olahan turunan (0,23), dan perluasan pasar nasional maupun internasional (0,22). Penerapan strategi tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi produksi, kualitas produk, nilai tambah, daya saing, serta keberlanjutan UMKM Tape Mayangsari.