Penelitian ini mengkaji persepsi petani jagung terhadap peran penyuluhan pertanian dan kaitannya dengan tingkat adopsi teknologi di Kecamatan Bulango Utara, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Jagung merupakan komoditas strategis utama di Provinsi Gorontalo, namun produktivitasnya masih berada di bawah potensi optimal akibat rendahnya adopsi teknologi di tingkat petani. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan instrumen kuesioner berskala Likert yang diadministrasikan kepada 68 petani jagung yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Data dianalisis menggunakan skor persentase, indeks persepsi, dan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi petani jagung terhadap peran penyuluhan pertanian berada pada kategori cukup baik dengan indeks rata-rata 67,0%. Dimensi kompetensi teknis penyuluh memperoleh penilaian tertinggi (74,9%), sedangkan frekuensi kunjungan penyuluh mendapat penilaian terendah dan termasuk kategori kurang baik (58,3%). Tingkat adopsi teknologi jagung secara keseluruhan berada pada kategori sedang dengan indeks rata-rata 63,7%; adopsi tertinggi tercatat pada penggunaan benih varietas unggul hibrida (78,3%) dan pengendalian hama terpadu (72,5%), sedangkan penggunaan pupuk organik (46,0%) dan sistem tanam jajar legowo (42,7%) mencatat adopsi terendah. Hasil uji korelasi menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara persepsi terhadap penyuluhan dan tingkat adopsi teknologi jagung (rs = 0,634; p < 0,05). Temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan intensitas kunjungan penyuluh dan relevansi materi penyuluhan berbasis kebutuhan petani sebagai strategi mendorong adopsi teknologi.