Pemeriksaan leukosit urin merupakan salah satu parameter penting dalam diagnosis infeksi saluran kemih (ISK). Pemeriksaan leukosit urin dapat dilakukan menggunakan metode carik celup dan sedimen urin yang memiliki prinsip pemeriksaan berbeda sehingga berpotensi menghasilkan perbedaan hasil. Perbedaan tersebut dapat mempengaruhi interpretasi laboratorium dan pengambilan keputusan klinis, namun belum diketahui apakah kedua metode memberikan hasil yang berbeda pada pemeriksaan rutin di Puskesmas Jatilawang. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan hasil pemeriksaan leukosit urin menggunakan metode carik celup dan metode sedimen di Puskesmas Jatilawang. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan retrospektif menggunakan data sekunder hasil pemeriksaan leukosit urin periode Januari-Desember 2025. Populasi penelitian sebanyak 128 data, dan setelah seleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi diperoleh 88 data yang dianalisis menggunakan teknik total eligible sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dan dilanjutkan dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode sedimen cenderung memberikan hasil leukosit lebih tinggi dibandingkan metode carik celup. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,003 (p < 0,05) yang menunjukkan adanya perbedaan bermakna antara kedua metode, dengan dominasi positive ranks yang menunjukkan proporsi hasil positif lebih tinggi pada metode sedimen. Disimpulkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara hasil pemeriksaan leukosit urin metode carik celup dan metode sedimen di Puskesmas Jatilawang. Pemeriksaan sedimen urin dapat digunakan sebagai pemeriksaan konfirmasi, terutama pada hasil carik celup yang meragukan atau tidak sesuai dengan kondisi klinis pasien.