Nensy Dwi Astika
Medical Student, Faculty of Medicine and Health Sciences, University of Mataram, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

THE ROLE OF SOCIAL AND DIGITAL ENVIRONMENTS IN ADOLESCENT NEUROPSYCHIATRIC HEALTH : A NARRATIVE REVIEW Pande Komang Inten Widya Iswari Oka; Made Prajnana Adhi Parasikan Susana; Nensy Dwi Astika; Kurniati Kurniati; Pujiarohman Pujiarohman
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 3 (2026): SEPTEMBER 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i3.62911

Abstract

Masa remaja merupakan periode perkembangan dengan perubahan biologis, psikologis, sosial, dan neurologis yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap masalah neuropsikiatri. Perkembangan lingkungan digital semakin memperluas interaksi sosial remaja, tetapi juga menghadirkan tekanan berupa peer pressure, social comparison, cyberbullying, dan penggunaan media sosial yang bermasalah. Narrative review ini bertujuan untuk mengkaji peran lingkungan sosial dan digital terhadap kesehatan neuropsikiatri remaja, termasuk faktor risiko, faktor protektif, serta mekanisme psikologis dan neurobiologis yang mendasarinya. Penelusuran literatur dilakukan melalui PubMed/MEDLINE dan Google Scholar pada periode Mei hingga Agustus 2026 menggunakan kata kunci terkait remaja, kesehatan neuropsikiatri, lingkungan sosial dan digital, media sosial, cyberbullying, self-esteem, depresi, kecemasan, gangguan tidur, dan suicidal behavior. Literatur yang relevan dianalisis secara deskriptif dan naratif berdasarkan tema utama. Hasil telaah menunjukkan bahwa peer pressure, cyberbullying, social comparison, rendahnya self-esteem, serta penggunaan media sosial yang bermasalah berkaitan dengan peningkatan risiko depresi, kecemasan, gangguan tidur, perilaku adiktif, self-harm, dan suicidal behavior. Sebaliknya, dukungan keluarga dan teman sebaya, regulasi emosi, coping adaptif, self-compassion, dan literasi digital dapat berperan sebagai faktor protektif. Interaksi perkembangan korteks prefrontal dan sistem limbik, sistem reward, serta respons stres melalui aksis hipotalamus–pituitari–adrenal turut menjelaskan kerentanan tersebut. Disimpulkan bahwa kesehatan neuropsikiatri remaja dipengaruhi oleh interaksi faktor individu, sosial, digital, dan neurobiologis sehingga pencegahan perlu melibatkan remaja, keluarga, dan sekolah.