Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas pada balita di Indonesia. Kondisi lingkungan fisik rumah dan perilaku keluarga diduga berkontribusi terhadap peningkatan risiko kejadian ISPA, terutama di wilayah kerja Puskesmas Bantuil, Kabupaten Barito Kuala. Penelitian ini menganalisis hubungan faktor lingkungan fisik rumah dan perilaku keluarga terhadap kejadian ISPA pada balita serta menguji peran kualitas udara sebagai variabel mediator. Penelitian menggunakan desain case-control dengan pendekatan kuantitatif analitik. Sampel berjumlah 128 responden, terdiri atas 64 kelompok kasus dan 64 kelompok kontrol yang dipilih secara purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur, observasi kondisi rumah, serta pengukuran ventilasi, suhu, kelembaban, pencahayaan, kecepatan angin, dan kualitas udara. Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-square, regresi logistik berganda, dan analisis mediasi Baron dan Kenny. Hasil menunjukkan bahwa luas ventilasi, suhu ruangan, kelembaban, kecepatan angin, perilaku ibu, perilaku merokok, dan penggunaan obat nyamuk bakar berhubungan signifikan dengan kejadian ISPA (p<0,05). Faktor yang berhubungan secara independen meliputi luas ventilasi (AOR=0,081), kelembaban (AOR=0,059), kecepatan angin (AOR=0,041), dan perilaku merokok (AOR=0,215). Kualitas udara memediasi secara parsial hubungan ventilasi, kelembaban, dan kecepatan angin dengan kejadian ISPA, serta memediasi secara penuh hubungan suhu ruangan, perilaku merokok, dan penggunaan obat nyamuk bakar terhadap kejadian ISPA. Disimpulkan bahwa perbaikan kondisi lingkungan fisik rumah dan perilaku keluarga, terutama peningkatan ventilasi, pengendalian kelembaban, optimalisasi sirkulasi udara, serta penerapan rumah bebas asap rokok, merupakan strategi penting dalam pencegahan ISPA pada balita.