p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Borneo Nursing Journal
Nindha Prabaningrum
Universitas Aisyiyah Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perbedaan Efektivitas Square Stepping Exercise dan Resistance Exercise terhadap Keseimbangan Dinamis pada Lansia Vita Alifiani; Fitri Yani; Nindha Prabaningrum
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1516

Abstract

Latar Belakang: Penurunan keseimbangan dinamis merupakan masalah yang sering terjadi pada lansia akibat proses penuaan dan dapat meningkatkan risiko jatuh. Square Stepping Exercise (SSE) berfokus pada koordinasi pola langkah dan kontrol Postural, sedangkan Resistance Exercise (RE) berfokus pada peningkatan kekuatan otot dan stabilitas tubuh. Kedua latihan tersebut dapat digunakan sebagai intervensi fisioterapi untuk meningkatkan keseimbangan dinamis pada lansia. Tujuan: Mengetahui pengaruh SSE dan RE terhadap keseimbangan dinamis serta membandingkan efektivitas kedua latihan pada lansia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan Pretest-Posttest two group design. Sebanyak 26 lansia dibagi menjadi kelompok SSE (n = 13) dan RE (n = 13). Intervensi diberikan selama 4 minggu dengan frekuensi 3 kali per minggu. Keseimbangan dinamis diukur menggunakan Timed Up and Go Test (TUGT). Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan Mann–Whitney. Hasil: Kelompok SSE menunjukkan nilai Z = -3,180 dan p = 0,001, sedangkan kelompok RE menunjukkan nilai Z = -3,181 dan p = 0,001. Hasil uji Mann–Whitney menunjukkan U = 51,000; Z = -1,719; dan p = 0,086. Kesimpulan: SSE dan RE berpengaruh signifikan terhadap peningkatan keseimbangan dinamis pada lansia, namun tidak terdapat perbedaan efektivitas yang signifikan antara kedua latihan tersebut.
Hubungan Beban Kerja, Postur Kerja, dan Kelelahan Kerja dengan Keluhan Low Back Pain Pada Pekerja Produksi Bakpia di Yogyakarta Muhammad Iqbal Saputra; Hilmi Zadah Faidullah; Nindha Prabaningrum
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1724

Abstract

Latar Belakang: Low back pain (LBP) merupakan gangguan muskuloskeletal yang sering dialami pekerja industri. Faktor seperti beban kerja yang tinggi, postur kerja yang tidak ergonomis, aktivitas berulang, dan kelelahan kerja dapat meningkatkan risiko terjadinya LBP. Pekerja produksi bakpia termasuk kelompok yang berisiko karena melakukan pekerjaan manual dalam durasi yang relatif panjang. Tujuan: Menganalisis hubungan beban kerja, postur kerja, dan kelelahan kerja dengan keluhan Low back pain pada pekerja produksi bakpia di Yogyakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 56 pekerja dipilih melalui purposive sampling. Beban kerja diukur menggunakan Cardiovascular Load (CVL), postur kerja menggunakan Rapid Entire Body Assessment (REBA), kelelahan kerja menggunakan Swedish Occupational Fatigue Inventory (SOFI), dan keluhan LBP menggunakan Oswestry Disability Index (ODI). Analisis dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Spearman's rho, dan multivariat menggunakan regresi linear berganda dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara beban kerja, postur kerja, dan kelelahan kerja dengan keluhan Low back pain (p<0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa ketiga variabel secara simultan berpengaruh terhadap keluhan Low back pain dengan koefisien determinasi (R²) sebesar 57,5%. Kesimpulan: Beban kerja, postur kerja, dan kelelahan kerja berhubungan dengan keluhan Low back pain pada pekerja produksi bakpia. Penerapan prinsip ergonomi, pengelolaan beban kerja, dan pengendalian kelelahan kerja diperlukan untuk menurunkan risiko gangguan muskuloskeletal di lingkungan kerja.