Lower Crossed Syndrome (LCS) merupakan kondisi ketidakseimbangan otot yang ditandai dengan kelemahan otot abdominal dan gluteal serta ketegangan otot iliopsoas, yang berpotensi menyebabkan nyeri punggung bawah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi latihan kombinasi strengthening dan stretching terhadap perbaikan kondisi LCS pada mahasiswa program studi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Aisyiyah Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen pre-test post-test one group design. Sebanyak 20 mahasiswa (11 perempuan dan 9 laki-laki) berusia 20-22 tahun yang telah terdiagnosis LCS berdasarkan pemeriksaan fisik oleh fisioterapis, berpartisipasi dalam intervensi dengan latihan strengthening otot abdominal (curl-up) dan stretching otot iliopsoas (pelvic bridging) selama 6 minggu dengan frekuensi 3 kali per minggu. Pengukuran kekuatan otot abdominal dan gluteal dilakukan menggunakan isometric abdominal endurance test dan manual muscle testing (skala Oxford), sedangkan panjang otot iliopsoas diukur dengan modified Thomas test menggunakan goniometer universal. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada kekuatan otot abdominal (dari 3,255 ± 0,5823 menjadi 4,861 ± 0,2181) dan kekuatan otot gluteal (dari 2,754 ± 0,256 menjadi 4,876 ± 0,1562), serta penurunan panjang otot iliopsoas (dari 15,510 ± 1,556 menjadi 4,244 ± 1,090) setelah intervensi (p < 0,05). Disimpulkan bahwa intervensi latihan kombinasi strengthening dan stretching efektif dalam meningkatkan kekuatan otot abdominal dan gluteal, serta fleksibilitas otot iliopsoas pada mahasiswa dengan LCS. Intervensi ini berpotensi menjadi bagian dari program penanganan komprehensif untuk LCS, yang dapat dikombinasikan dengan edukasi ergonomi dan modifikasi gaya hidup untuk hasil yang optimal. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi dampak jangka panjang dan efektivitas intervensi ini pada populasi yang lebih beragam.