Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang memerlukan penggunaan antibiotik secara rasional untuk mencapai keberhasilan terapi sekaligus mengurangi risiko resistensi antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien, pola penggunaan antibiotik berdasarkan klasifikasi Access, Watch, Reserve (AWaRe), serta luaran terapi pasien demam tifoid yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit Harapan dan Doa (RSHD) Kota Bengkulu tahun 2025. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain potong lintang (cross-sectional). Populasi penelitian terdiri atas 579 pasien demam tifoid yang menjalani rawat inap selama tahun 2025. Sebanyak 237 pasien dipilih sebagai sampel menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data diperoleh dari rekam medis dan dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien berusia 18–65 tahun (98,3%), berjenis kelamin perempuan (55,3%), dan tidak memiliki komorbid (85,2%). Seluruh penggunaan antibiotik (100%) termasuk dalam kelompok Watch, dengan kesesuaian dosis sebesar 100% dan seluruh durasi penggunaan antibiotik kurang dari tujuh hari. Sebanyak 230 pasien (97,0%) dinyatakan sembuh setelah mendapatkan terapi antibiotik dan 195 pasien (82,3%) menjalani rawat inap selama ≥3 hari. Penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid di RSHD Kota Bengkulu menunjukkan kesesuaian dosis dan durasi terapi serta memberikan luaran klinis yang baik, namun dominasi kelompok Watch menunjukkan pentingnya pemantauan penggunaan antibiotik secara berkelanjutan.