Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

FORMULASI SEDIAAN KRIM TIPE M/A EKSTRAK DAUN BIDARA ARAB (Ziziphus Mauritiana Lam) SEBAGAI ANTIINFLAMASI TERHADAP MENCIT PUTIH JANTAN (Mus musculus L) Gina Lestari; Agung Giri Samudera; Ayu Reka Safira
Jurnal Sains Kesehatan Vol 29, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tri Mandiri Sakti Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37638/jsk.29.1.9-17

Abstract

Daun tanaman bidara arab (Ziziphus Mauritiana Lam) dimasyarakat memiliki banyak manfaat salah satunya sebagai antiinflamasi. Tanaman bidara memiliki kandungan senyawa aktif seperti flavonoid, alkaloid, terpenoid, dan saponin. Ekstrak daun bidara arab  diformulasikan menjadi sediian krim. Tujuan penelitian untuk mengetahui efektivitas antiinflamasi sediaan krim ekstrak daun bidara arab pada mencit jantan putih. Ekstrak daun bidara arab dibuat sediaan krim dengan empat formula, formula 0 dengan kadar ekstrak 0 %, formula I dengan kadar ekstrak 5 %,  formula 2 dengan kadar ekstrak 10 %, formula 3 dengan kadar ekstrak 15 %. Efektifitas antiinflamasi diuji menggunakan metode Inflammation-associated edema. Hewan uji  digunakan sebanyak 30 ekor mencit jantan putih yang dibagi menjadi 6 kelompok yaitu kontrol normal, kontrol negatif (karagenin 2%), kontrol positif (krim voltadex), dan kelompok perlakuan krim ekstrak daun bidara arab F1, F2, dan F3. Pengamatan dan pengukuran volume tebal lipat kulit punggung mencit menggunakan jangka sorong digital dilakukan saat sebelum diinduksi dan setelah diinduksi karagenan 2%. Pengamatan penurunan volume tebal lipat kulit punggung mencit dilakuan setiap satu jam sekali selama 6 jam. Data yang didapat diolah dan dianalisa menggunakan one-way anova dan uji duncan dengan tingkat kepercayaan 95%.                Hasil uji sifat fisik krim semua formula memenuhi persyaratan uji sifat fisik krim meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, dan uji hedonik. Formula paling baik pada formula 3 dengan kadar ekstrak 15%. Hasil uji one-way anova menunjukan perbedaan yang signifikan antar kelompok perlakuan (0,000,05). Hasil uji duncan menunjukan kelompok yang memberikan efektifitas antiinflamasi terbaik adalah formula 3 yang mengandung kadar ekstrak daun bidara arab 15%.
SKRINING RESEP SECARA ADMINISTRASI, FARMASETIK DAN KLINIS PADA PASIEN RAWAT JALAN APOTEK X DIKOTA BENGKULU TAHUN 2023 Gina Lestari; Ranny Puji Astuti; Luky Dharmayanti
JFM (Jurnal Farmasi Malahayati) Vol 9, No 1 (2026)
Publisher : Jurnal Farmasi Malahayati (JFM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jfm.v9i1.23235

Abstract

Skrining resep secara administrasi, farmasetik dan  klinik merupakan  Penelaahan resep memegang peranan penting dalam proses peresepan karena dapat berkontribusi dalam menurunkan risiko medication error.  Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui persentase kelengkapan resep pada pasien rawat jalan  pada  apotek X Kota Bengkulu Tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang data bersifat retrospektif, pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling dengan kriteria inklusi semua resep yang masuk di apotek X baik dari dalam apotek maupun dari luar apotek pada tahun 2023 dan kriteria eksklusi resep yang sudah rusak atau robek, resep yang tidak terbaca dan resep yang tidak memiliki kop resep/hanya lembaran kertas biasa. Hasil penelitian menunjukkan kelengkapan resep secara administrasi 71,28% (meliputi kelengkapan nama pasien, alamat pasien, umur pasien, berat badan, jenis kelamin, nama dokter, alat dokter, SIP dokter, nomor telepon dokter dan paraf dokter), kelengkapan aspek farmasetik sebesar 72,75% (yang meliputi nama obat, bentuk sediaan obat, kekuatan obat, jumlah obat dan ketercampuran obat) dan aspek farmasi klinis 61,90% (meliputi aspek ketepatan indikasi dan dosis, aturan pakai, polifarmasi, reaksi obat dan kontraindikasi dan interaksi obat).
Formulasi dan Evaluasi Sediaan Nanogel Menggunakan HPMC Sebagai Gelling Agent Putri ayu Kusuma; Tri Yanuarto; Gina Lestari; Betna Dewi
Jurnal Entitas Kesehatan Vol. 1 No. 3 (2026): AGUSTUS
Publisher : PT Mara Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64465/jek.v1i3.125

Abstract

Ciprofloxacin adalah antibiotik yang termasuk dalam kelompok fluorokuinolon dan memiliki masalah dalam permeabilitas, oleh karena itu pengembangan dalam bentuk nanogel diharapkan bisa meningkatkan permeabilitas obat untuk penggunaan sediaan topikal. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan nanogel ciprofloxacin dengan memanfaatkan hidroksipropil metilselulosa (HPMC) sebagai agen pengental. Metode penelitian dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan empat variasi konsentrasi, yaitu F0 (tanpa ciprofloxacin), F1 (0,3%), F2 (0,4%), dan F3 (0,5%). Evaluasi mencakup pengujian kemurnian bahan dasar, spektrofotometri UV-Vis, ukuran partikel, uji organoleptik, homogenitas, uji pH, uji viskositas, uji daya sebar dan uji daya lekat pada penyimpanan selama empat minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan yang homogen, semi padat, tidak berbau, dan berwarna putih hingga sedikit kekuningan. Ukuran rata-rata partikel untuk F1, F2, dan F3 masing-masing adalah 477,8 nm, 509,4 nm, dan 1.544 nm. Formula F1 dan F2 sesuai dengan ukuran nanogel yang diharapkan 1-1.000 nm, sedangkan F3 melebihi ukuran. Dapat disimpulkan sediaan memenuhi standar untuk sifat fisik sediaan. Oleh karena itu, formulasi nanogel ciprofloxacin yang menggunakan HPMC menunjukkan karakteristik fisik yang baik, terutama pada formula F1 dan F2, sehingga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sediaan topikal.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Sikap Orang Tua Dengan Kepatuhan Obat Cacing Balita di Puskesmas Y Rosi Ananda; Dede Handika; Gina Lestari
Jurnal Entitas Kesehatan Vol. 1 No. 4 (2026): NOVEMBER
Publisher : PT Mara Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64465/jek.v1i4.134

Abstract

Kecacingan berupa masalah kesehatan yang dapat memengaruhi kesehatan dan tumbuh kembang anak. Pemberian obat cacing secara berkala memerlukan keterlibatan orang tua karena orang tua berperan dalam memastikan obat diberikan kepada balita sesuai anjuran. Tujuan penelitian ini guna mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap orang tua dengan kepatuhan pemberian obat cacing pada balita di Puskesmas Y. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Responden berjumlah 84 orang tua yang memiliki balita usia 2–5 tahun. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan, sikap, dan kepatuhan, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square atau Fisher's Exact Test. Pengetahuan kategori baik sebanyak 42 (50,0%), sikap kategori sangat baik sebanyak 59 (70,2%), dan kepatuhan baik sebanyak 61 (72,6%). Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dan kepatuhan (p=0,002). Terdapat pula hubungan signifikan antara sikap dan kepatuhan (p=0,002).
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN SIKAP ORANG TUA TERHADAP KEPATUHAN PEMBERIAN OBAT CACING PADA BALITA DI PUSKESMAS X Dede Handika; Rosi Ananda; Gina Lestari
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 9 No. 3 (2026): Inpress Vol. 9 No. 3 Tahun 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v9i3.62916

Abstract

Kecacingan merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat memengaruhi kesehatan dan tumbuh kembang anak. Pemberian obat cacing secara berkala memerlukan keterlibatan orang tua karena orang tua berperan dalam memastikan obat diberikan kepada balita sesuai anjuran. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap orang tua dengan kepatuhan pemberian obat cacing pada balita di Puskesmas X. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Responden berjumlah 86 orang tua yang memiliki balita usia 2–5 tahun. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan, sikap, dan kepatuhan, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square atau Fisher’s Exact Test. Pengetahuan kategori baik sebanyak 32 (37,2%), sikap kategori tertinggi sebanyak 45 (52,3%), dan kepatuhan baik sebanyak 41 (47,7%). Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dan kepatuhan (p=0,001). Tidak terdapat hubungan signifikan antara sikap dan kepatuhan (p=0,107).
Rasionalitas Penggunaan Obat Kemoterapi Pada Pasien Kanker Payudara di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Abdi Setia Laksana; Luky Dharmayanti; Devi Novia; Gina Lestari
Jurnal Kesehatan Farmasi Nusantara Vol. 2 No. 3 (2026): SEPTEMBER
Publisher : PT Mara Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64465/jkfn.v2i3.123

Abstract

Kanker payudara adalah salah satu kanker yang sering menyerang wanita dan memerlukan terapi kemoterapi yang aman serta efektif. Penggunaan obat kemoterapi harus dievaluasi secara rasional karena pilihan obat, dosis, cara, atau interval yang tidak tepat dapat memengaruhi keberhasilan terapi dan meningkatkan risiko toksisitas. Oleh karena itu, penilaian rasionalitas penggunaan kemoterapi sangat penting untuk memastikan bahwa terapi yang diberikan sesuai dengan kondisi klinis pasien serta pedoman pengobatan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik pasien, pola pemakaian regimen, serta rasionalitas obat kemoterapi pada penderita kanker payudara di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu. Penelitian ini bersifat observasional deskriptif dengan desain retrospektif menggunakan data rekam medis dari Januari hingga Desember 2025. Sampel dipilih dengan total sampling. Kriteria inklusi meliputi pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi dan memiliki rekam medis serta data pengobatan lengkap, sedangkan kriteria eksklusi meliputi rekam medis yang tidak lengkap atau tidak jelas, serta pasien yang meninggal, dipulangkan paksa, atau pindah ke rumah sakit lain. Sebanyak 140 pasien memenuhi kriteria tersebut. Hasilnya menunjukkan semua pasien berjenis kelamin perempuan (100 %), mayoritas berusia 45–59 tahun (61 %), dan regimen CAF paling sering dipakai (70 %). Penilaian rasionalitas terapi menunjukkan kesesuaian diagnosis, indikasi, pasien, obat, cara pemberian, interval, dan durasi terapi masing‑masing sebesar 100 %, sementara kesesuaian dosis mencapai 98,6 %. Temuan ini mengindikasikan bahwa secara umum penggunaan kemoterapi telah mengikuti prinsip penggunaan obat yang rasional.
Hubungan Sikap Keluarga Terhadap Kepatuhan Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit X Kota Bengkulu Andreas Geovanny Leo Vernandes; Devi Novia; Elly Mulyani; Gina Lestari
Jurnal Kesehatan Farmasi Nusantara Vol. 3 No. 1 (2027): JANUARI
Publisher : PT Mara Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64465/jkfn.v3i1.160

Abstract

Sebagai penyakit kronis yang menuntut penanganan jangka panjang, hipertensi menjadikan kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat sebagai penentu utama keberhasilan terapi. Di sinilah keluarga memegang peran krusial bukan sekedar pendamping, tetapi juga sumber informasi, penopang emosional, sekaligus pengingat agar pasien tidak lalai minum obat. Berangkat dari hal tersebut, penelitian ini disusun untuk menelusuri kaitan antara dukungan keluarga dan kepatuhan penggunaan obat antihipertensi pada pasien rawat inap di Rumah Sakit X, Kota Bengkulu. Sebanyak 133 responden dilibatkan melalui teknik purposive sampling, dengan data dihimpun lewat kuesioner dukungan keluarga dan kuesioner kepatuhan minum obat. Analisis data kemudian dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rho pada program SPSS. Dari segi karakteristik, responden didominasi oleh kelompok usia 51–60 tahun (45,1%) dan berjenis kelamin perempuan (72%). Sementara itu, tingkat dukungan keluarga yang diterima mayoritas responden berada pada kategori cukup (65,4%), sejalan dengan tingkat kepatuhan pengobatan yang juga tergolong baik—73,7% responden dinyatakan patuh. Hasil uji Spearman Rho memperkuat temuan ini dengan nilai p<0,001, yang mengindikasikan adanya hubungan signifikan antara dukungan keluarga dan kepatuhan penggunaan obat antihipertensi. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa dukungan keluarga bukan sekadar pelengkap, melainkan faktor yang benar-benar berkaitan erat dengan kepatuhan pasien hipertensi dalam menjalani pengobatan di Rumah Sakit X, Kota Bengkulu.
Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Kepatuhan Pasien Infeksi Saluran Pernapasan Atas terhadap Penggunaan Antibiotik di Puskesmas Sawah Lebar Wulan Sari; Devi Novia; Gina Lestari; Dewi Winni Fauziah
Jurnal Padamu Negeri Vol. 3 No. 4 (2026): Oktober : Jurnal Padamu Negeri (JPN)
Publisher : CV. Denasya Smart Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69714/vy6wgv02

Abstract

Background: Upper Respiratory Tract Infections (ISPA) are among the conditions frequently encountered in healthcare settings. Inappropriate antibiotic use can lead to patient non-adherence to therapy and increase the risk of antibiotic resistance. A patient’s level of knowledge regarding antibiotic use is believed to be associated with treatment adherence. Objective: This study aims to determine the relationship between the level of knowledge and the adherence of patients with Upper Respiratory Tract Infections (ISPA) regarding antibiotic use at the Sawah Lebar Community Health Center in Bengkulu City. Method: The study employed a cross-sectional design with a prospective approach. The sample consisted of 100 patients with upper respiratory tract infections (ISPA), selected using purposive sampling. Data were collected via questionnaires assessing knowledge (15 questions) and adherence (8 questions), both of which had undergone validity and reliability testing. Data analysis was conducted using univariate and bivariate methods, specifically the Chi-Square test via SPSS. Result: The study results indicate a significant relationship between the level of knowledge and patient adherence regarding antibiotic use p=0,000, X²=39,555, with a Contingency Coefficient of C=0,532, indicating a relationship of moderate to strong strength. Conclusion: There is a significant relationship between the level of knowledge and the adherence of patients with upper respiratory tract infections (ISPA) regarding antibiotic use at the Sawah Lebar Community Health Center in Bengkulu City. The better the patients' level of knowledge, the greater their tendency to adhere to proper antibiotic use.
Drug Related Problems (DRPs) terhadap Pengobatan Skizofrenia di Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Provinsi Bengkulu Anggita Yosma Rahayu; Gina Lestari; Eka Putri Wiyati; Devi Novia
Jurnal Padamu Negeri Vol. 3 No. 4 (2026): Oktober : Jurnal Padamu Negeri (JPN)
Publisher : CV. Denasya Smart Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69714/5t53kd06

Abstract

Background: Schizophrenia is a chronic mental disorder characterized by disturbances in thinking, perception, emotion, and behavior, requiring continuous antipsychotic therapy. Long-term medication use may increase the risk of Drug-Related Problems (DRPs), which can affect treatment effectiveness, increase the occurrence of adverse effects, and reduce patients’ quality of life. Objective: This study aimed to identify the occurrence of DRPs based on the Cipolle classification among patients with schizophrenia at Soeprapto Mental Hospital, Bengkulu Province, during January–December 2025. Method: This study employed an observational approach using a retrospective descriptive design through medical record review. The sample consisted of 169 patients who met the inclusion criteria and were selected using purposive sampling. DRPs were identified based on the Cipolle classification. the use of medications that are not in accordance with indications, the need for additional therapy, administration of doses exceeding requirements, and administration of doses below requirements. The data were analyzed descriptively and presented as frequencies and percentages. Result: The results showed 7 occurrences of DRPs. The identified categories were unnecessary drug therapy with 3 occurrences (1.78%), need for additional drug therapy with 3 occurrences (1.78%), and dosage too high with 1 occurrence (0.59%), while no occurrence of dosage too low was identified (0%). Conclusion: Drug-related problems were still found among patients with schizophrenia. Periodic therapy evaluation through collaboration among healthcare professionals, particularly pharmacists, is needed to improve the rational use of medicines, treatment effectiveness, and patient safety.
Analisis DRPs Penggunaan Obat Tuberkulosis Paru pada Pasien Rawat Jalan RSUD X Periode 2024 Adinda Dwinka Az-Zahra; Gina Lestari; Tri Yanuarto; Herlin Sulita
Jurnal Entitas Kesehatan Vol. 1 No. 4 (2026): NOVEMBER
Publisher : PT Mara Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64465/jek.v1i4.156

Abstract

Tuberkulosis  paru merupakan penyakit infeksi yang memerlukan pengobatan yang tepat untuk mencapai keberhasilan terapi. Ketidaktepatan penggunaan obat dapat menyebabkan Drug Related Problems (DRPs) yang berpotensi memengaruhi efektivitas dan keamanan terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian, kategori, dan persentase DRPs pada penggunaan obat TB paru pasien rawat jalan di RSUD X periode Januari–Desember 2024. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan retrospektif. Data diperoleh dari rekam medis dan resep pasien TB paru dewasa usia 18–59 tahun dengan jumlah sampel sebanyak 80 pasien. Identifikasi DRPs dilakukan berdasarkan klasifikasi Cipolle yang meliputi perlunya tambahan obat, obat tanpa indikasi, dosis terlalu rendah, dan dosis terlalu tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien laki-laki lebih banyak yaitu 42 pasien (52,5%), dengan kelompok usia terbanyak 48–57 tahun sebanyak 25 pasien (31,25%). Dari 80 pasien, ditemukan 13 pasien (16,25%) mengalami DRPs, terdiri atas obat tanpa indikasi sebanyak 7 pasien (8,75%) dan dosis terlalu rendah sebanyak 6 pasien (7,5%). Sementara itu, kategori perlunya tambahan obat dan dosis terlalu tinggi tidak ditemukan. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pasien tidak mengalami DRPs, namun masih ditemukan permasalahan terkait ketepatan indikasi dan dosis obat yang memerlukan evaluasi untuk mendukung keberhasilan terapi TB paru.