Pembelajaran matematika di sekolah dasar, khususnya pada materi bilangan prima, Faktor Persekutuan Terbesar (FPB), dan Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK), sering dianggap abstrak dan sulit dipahami oleh siswa karena kurangnya keterhubungan dengan konteks budaya kehidupan sehari-hari mereka. Integrasi kearifan lokal melalui pendekatan etnomatematika telah diusulkan sebagai solusi kontekstual agar pembelajaran matematika menjadi lebih bermakna. Penelitian ini merupakan kajian literatur yang menelaah efektivitas integrasi kearifan lokal, meliputi permainan tradisional seperti congklak dan Dakota (Dakon Matematika), serta praktik budaya lokal dalam pembelajaran bilangan prima, FPB, dan KPK di tingkat sekolah dasar. Data diperoleh dari berbagai jurnal ilmiah nasional yang relevan dan diterbitkan pada rentang tahun 2021 hingga 2026. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan berbasis budaya secara signifikan meningkatkan pemahaman konsep, hasil belajar, dan motivasi siswa. Penggunaan media konkret manipulatif seperti congklak dan Dakota terbukti mampu memvisualisasikan konsep abstrak secara konkret, mendorong pembelajaran kolaboratif, dan meningkatkan partisipasi aktif siswa. Kendala dalam implementasi mencakup keterbatasan sumber ajar berbasis budaya, kurangnya pelatihan guru tentang etnomatematika, serta kesenjangan geografis dalam mengakses inovasi pembelajaran. Dapat disimpulkan bahwa integrasi kearifan lokal terbukti efektif meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di sekolah dasar. Kajian ini merekomendasikan upaya kolaboratif antara guru, institusi pendidikan, dan masyarakat lokal untuk mengembangkan strategi pembelajaran kontekstual berbasis budaya daerah, yang didukung oleh kebijakan fleksibel seperti Kurikulum Merdeka.