UMKM batik memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan kerajinan berbasis budaya sekaligus mendukung kegiatan ekonomi masyarakat. Proses produksi batik melibatkan berbagai bahan dan peralatan yang memerlukan penanganan secara tepat. Identifikasi awal pada UMKM Batik Sampur Tayub, Pedukuhan Gentan, Kalurahan Tayuban, Kapanewon Panjatan, Kabupaten Kulon Progo menunjukkan bahwa pengrajin telah berpengalaman membatik, tetapi penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), penggunaan alat pelindung diri (APD), serta keseragaman prosedur beberapa tahapan produksi masih perlu diperkuat. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan 20 pengrajin dalam menerapkan K3 dan proses kerja yang lebih teratur melalui penyuluhan, demonstrasi, praktik, penyusunan prosedur kerja tertulis, penyediaan sarana produksi, dan pendampingan. Pengetahuan dievaluasi dengan pre-test dan post-test, sedangkan penerapan K3 diamati selama praktik dan pendampingan. Rata-rata skor pengetahuan peserta (n = 20; skala 0–100) meningkat dari 64,6 menjadi 88,8, dengan peningkatan pada pemahaman bahaya bahan kimia, penggunaan APD, penanganan bahan dan prosedur kerja, serta pengelolaan limbah produksi. Kegiatan juga menghasilkan prosedur kerja tertulis untuk tahapan yang berkaitan dengan keselamatan dan penanganan bahan, serta sarana produksi (bak celup dan ketel pelorodan stainless steel, rak pengering, dan gawangan kain) yang dimanfaatkan mitra. Penerapan K3 diamati secara kualitatif; data kepatuhan penggunaan APD secara kuantitatif belum dianalisis. Pendampingan berkelanjutan masih diperlukan.