Zaki Mubarak
UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TAFSIR AL-QUR'AN DI MEDIA SOSIAL: ANALISIS PENAFSIRAN LORA ISMAIL PADA AKUN INSTAGRAM @ISMAILASCHOLY Habibah Sufriani; Zaki Mubarak; Sajida Putri
At-Tibyan Vol 9 No 1 (2026): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/hdxky133

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perkembangan tafsir al-Qur'an pada era globalisasi yang ditandai dengan transformasi media penyampaian dari tradisi lisan, tulisan, kitab tafsir, hingga media digital. Salah satu bentuk perkembangannya ialah hadirnya tafsir al-Qur'an melalui media sosial, khususnya Instagram. Penelitian ini mengkaji penafsiran al-Qur'an pada akun Instagram @ismailascholy yang secara konsisten menyajikan konten tafsir dengan gaya komunikatif dan kreatif. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis metode dan pendekatan penafsiran yang digunakan oleh Lora Ismail dalam konten tafsirnya. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data primer diperoleh dari unggahan tafsir pada akun @ismailascholy, sedangkan data sekunder berasal dari berbagai literatur yang relevan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan dokumentasi. Objek penelitian difokuskan pada penafsiran Surah al-Fīl dan Ayat Kursi karena keduanya disajikan secara lebih komprehensif serta menunjukkan perbedaan dengan sejumlah kitab tafsir klasik dan modern, seperti Tafsir al-Jalālayn, Tafsir al-Miṣbāḥ, Tafsir al-Ibrīz, Tafsir al-Azhar, Fayḍ al-Raḥmān, dan Marāḥ Labīd. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial berperan dalam memperluas dinamika penyebaran tafsir al-Qur'an di ruang digital. Penafsiran Lora Ismail menggunakan metode taḥlīlī, bersumber pada tafsīr bi al-ra'y, serta menerapkan pendekatan kontekstual. Dalam menjelaskan Surah al-Fīl dan Ayat Kursi, ia memanfaatkan istilah populer, analogi, ilustrasi, dan humor sehingga lebih mudah dipahami oleh berbagai kalangan pengguna media sosial. Secara substantif, penafsirannya menekankan nilai-nilai ketauhidan, keimanan, dan kemuliaan umat Nabi Muhammad SAW. Penelitian ini juga menemukan bahwa faktor sosial turut memengaruhi konstruksi penafsiran yang dibangun oleh Lora Ismail.
PERBANDINGAN PENAFSIRAN AYAT NIKAH BEDA AGAMA PERSPEKTIF AL-QURTUBI DAN MUHAMMAD ABDUH Af'idatun Nisa; Zaki Mubarak; Rusmanto Rusmanto
At-Tibyan Vol 8 No 1 (2025): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/qca1pk72

Abstract

Nikah beda agama merupakan polemik yang kerap muncul di masyarakat, khususnya dalam relasi pernikahan antara muslim dan non-muslim. Perbedaan pandangan ulama terkait isu ini umumnya berakar pada definisi musyrik dan ahl al-kitab. Penelitian ini berfokus pada kajian ayat-ayat al-Qur’an tentang pernikahan beda agama, yakni QS. Al-Baqarah [2]: 221 dan QS. Al-Ma'idah [5]: 5. Pendekatan yang digunakan adalah metode tafsir muqaran dengan membandingkan Tafsir al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān karya al-Qurtubi dan Tafsir al-Manār karya Muhammad Abduh. Hasil penelitian menunjukkan adanya persamaan dan perbedaan dalam penafsiran kedua mufasir tersebut. Pada QS. Al-Baqarah [2]: 221, kedua mufasir sepakat bahwa pernikahan antara laki-laki muslim dan perempuan musyrik dilarang. Namun, perbedaan terletak pada definisi musyrikāt. Al-Qurtubi memaknainya sebagai perempuan penyembah berhala dan penganut Majusi, sedangkan Muhammad Abduh membatasinya pada perempuan Arab yang tidak memiliki kitab suci, sehingga Majusi tidak termasuk kategori musyrik. Dalam penafsiran QS. Al-Ma’idah [5]: 5, keduanya juga memiliki titik temu dan perbedaan. Mereka sepakat bahwa al-muḥṣanāt merujuk pada perempuan yang menjaga kehormatan. Namun, al-Qurtubi menekankan status merdeka, sedangkan Abduh menekankan aspek moral. Perbedaan utama terletak pada hukum menikahi perempuan ahl al-kitab. Al-Qurtubi cenderung melarang karena menganggap mereka bagian dari musyrik, sementara Abduh membolehkan dengan cakupan ahl al-kitab yang lebih luas.