Mabina Jenetri
UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ETIKA BERHIAS DALAM PERSPEKTIF QIRA’AH MUBADALAH: INTERPRETASI QS. AL-AHZAB AYAT 32–33 BERDASARKAN NALAR KEADILAN GENDER Mabina Jenetri; Jamilah Jamilah
At-Tibyan Vol 7 No 2 (2024): AT-TIBYAN: Journal of Qur'an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/skcpzv44

Abstract

Berhias adalah segala sesuatu yang mencerminkan kecantikan dan keindahan, tentu saja ini tidak terbatas hanya pada pakaian, perhiasan, aksesori, alat perias wajah, parfum, dan sebagainya. Berhias juga bermakna perbuatan memperindah penampilan yang biasa dikerjakan dalam kegiatan sehari-hari. Berhias realitanya juga dapat melahirkan sifat tabarruj (berlebihan). Dalam penelitian ini penulis memfokuskan pada ayat-ayat tentang berhias dan tabarruj, kemudian ayat-ayat yang terkumpul dapat dilihat makna yang tersirat di dalamnya. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan metode kualitatif yang bersifat deskriptif-analitis. Pada penelitian ini, metode pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi. Data dokumentasi yang dikumpulkan berupa teks ayat al-Qur’an, kitab, buku, jurnal, artikel dan lainnya. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari pendekatan qira’ah mubadalah yaitu dengan cara menggali universalitas Islam tanpa memandang jenis kelamin, menemukan gagasan utama ayat tanpa melihat jenis kelamin objek yang disebutkan, memberikan gagasan utama yang telah didapat dari langkah sebelumnya pada jenis kelamin yang tidak disebutkan dalam ayat. Hasil penelitian ini menemukan bahwa: pertama, salah satu penyebab adanya perilaku berhias adalah baik laki-laki maupun perempuan pada zaman sekarang ini ingin terlihat fashionable dengan menggunakan pakaian yang kekinian dan hanya mementingkan aspek keindahan, bukan sebagai tujuan utama dalam berpakaian yakni untuk menutup aurat. Kedua, dalam menafsirkan QS. Al-Ahzab ayat 32-33 para mufasir klasik, modern hingga kontemporer melarang berhias secara berlebih-lebihan seperti perilaku tabarruj kaum jahiliyah dahulu. Ketiga, hasil dari interpretasi terhadap QS. Al-Ahzab ayat 32-33 dengan pendekatan qira’ah mubadalah maka ditemukan argumentasi umum bahwa laki-laki memiliki potensi yang sama dengan perempuan untuk terjerumus ke dalam perbuatan tabarruj yang dilarang oleh syariat agama Islam.