Febrian Indar Surya Kusuma
Universitas Negeri Surabaya, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Limits of Constitutional Environmentalism: Anti-SLAPP Protection in Indonesian Constitutional Adjudication: Batasan Konstitusionalisme Lingkungan: Perlindungan Anti-SLAPP dalam Ajudikasi Konstitusional Indonesia Abdi Nauffal Satria Eraffif; Febrian Indar Surya Kusuma
Jurnal Kajian Konstitusi Vol. 6 No. 1 (2026): JURNAL KAJIAN KONSTITUSI
Publisher : Department of Constitutional Law, Faculty of Law, University of Jember, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/j.kk.v6i1.53738

Abstract

The increasing use of Strategic Lawsuits Against Public Participation (SLAPP) against environmental defenders demonstrates that Indonesia's legal framework has yet to fully safeguard the constitutional right to a healthy environment. This study examines why Constitutional Court Decision No. 119/PUU-XXIII/2025 has not fully constitutionalized Anti-SLAPP protection and proposes a more substantive reconstruction of such protection. The research employs doctrinal legal research using statutory, conceptual, and case-based constitutional approaches. The findings reveal that the Constitutional Court maintains a formalistic and procedural interpretation, preventing environmental defenders from being fully recognized as constitutional rights holders. This study develops the concept of Constitutional Anti-SLAPP Protection as a doctrinal framework that reconceptualizes Anti-SLAPP from a procedural safeguard into constitutional rights protection. Accordingly, the study recommends reinterpreting the phrase "every person," legislative reform, and a more progressive constitutional approach to strengthen protection for environmental defenders. Meningkatnya praktik Strategic Lawsuit Against Public Participation (SLAPP) terhadap pembela lingkungan menunjukkan bahwa perlindungan hukum di Indonesia masih belum sepenuhnya menjamin hak konstitusional atas lingkungan hidup. Penelitian ini bertujuan menganalisis mengapa Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 119/PUU-XXIII/2025 belum mampu mengkonstitusionalisasikan perlindungan Anti-SLAPP serta merumuskan rekonstruksi perlindungan yang lebih substansial. Penelitian menggunakan metode doctrinal legal research dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan analisis konstitusional berbasis putusan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mahkamah Konstitusi masih mempertahankan pendekatan formalistik dan prosedural sehingga perlindungan terhadap environmental defenders belum diposisikan sebagai hak konstitusional. Penelitian ini menawarkan konsep Constitutional Anti-SLAPP Protection sebagai kerangka doktrinal yang menempatkan Anti-SLAPP sebagai perlindungan hak konstitusional. Oleh karena itu, diperlukan reinterpretasi frasa "setiap orang", reformasi legislasi, dan pendekatan yudisial yang lebih progresif.
Fragmented Constitutional Criminal Enforcement: Judicial Pragmatism and Constitutional Coherence in the Indonesian Constitutional Court: Fragmentasi Penegakan Hukum Pidana Konstitusional: Pragmatisme Yudisial dan Koherensi Konstitusional dalam Mahkamah Konstitusi Indonesia Ruping Ragsanjani; Anisa Deny Setiawati; Febrian Indar Surya Kusuma
Jurnal Kajian Konstitusi Vol. 6 No. 1 (2026): JURNAL KAJIAN KONSTITUSI
Publisher : Department of Constitutional Law, Faculty of Law, University of Jember, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/j.kk.v6i1.53740

Abstract

The expansion of investigative authority to sectoral institutions within the Indonesian administrative state has created constitutional tensions within the national criminal justice system. Through Law Number 4 of 2023 concerning the Development and Strengthening of the Financial Sector (UU P2SK), the Financial Services Authority (OJK) is granted investigative authority that overlaps with the Indonesian National Police (POLRI) as the primary investigator under the Criminal Code (KUHP). This study analyzes Constitutional Court Decision Number 59/PUU-XXI/2023 and its implications for constitutional coherence in criminal law enforcement. Using normative legal research with statutory, conceptual, and case-based approaches, this article applies Ronald Dworkin's concept of law as integrity, Richard Posner's judicial pragmatism, and Mirjan Damaska's integrated criminal justice system. The study finds that the Court implicitly legitimizes fragmented investigative authority without adequate coordination mechanisms. This article proposes a coordinated multi-agency system to maintain constitutional coherence and institutional accountability. Perluasan kewenangan investigasi ke lembaga-lembaga sektoral dalam negara administrasi Indonesia telah menciptakan ketegangan konstitusional dalam sistem peradilan pidana nasional. Melalui UU P2SK Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diberikan kewenangan investigasi yang tumpang tindih dengan Kepolisian Nasional Indonesia (POLRI), yang bertindak sebagai penyidik ​​utama berdasarkan KUHP. Studi ini menganalisis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 59/PUU-XXI/2023 dan implikasinya terhadap koherensi konstitusional dalam penegakan hukum pidana. Studi ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan statutori, konseptual, dan berbasis kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mahkamah secara implisit melegitimasi fragmentasi kewenangan investigasi tanpa mekanisme koordinasi yang memadai. Artikel ini mengusulkan model sistem multi-lembaga yang terkoordinasi untuk menjaga integrasi sistem peradilan pidana dan akuntabilitas kelembagaan.