Jabes Pasaribu
Institut Agama Kristen REAL Batam, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Sabbath as Resistance in Early Childhood Parenting: A Theological-Prophetic Critique of Hustle Culture in Urban Christian Families Mitra Binariang Lase; Jabes Pasaribu; Ervi Johan Lo
Real Kiddos: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 5 No. 1: September
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/q2b7n360

Abstract

Early childhood parenting among urban Christian families in Indonesia is vulnerable to a logic of productivity that measures childhood by quantifiable achievement. Sociological studies have mapped this pattern as intensive parenting and concerted cultivation, and Indonesia's 2023 policy on the transition from preschool to primary school has addressed it pedagogically, yet its theological and spiritual dimensions remain underexplored. Through conceptual library research, this article develops a theological-prophetic critique of this logic. Its diagnostic framework is Mata-McMahon et al.'s essence–origin–action framework of children's spirituality, adapted heuristically. Its corrective framework is Walter Brueggemann's four forms of Sabbath resistance (to anxiety, coercion, exclusivism, and multitasking), read alongside an exegesis of Deuteronomy 5:12–15 and Psalm 127:2–3 and in dialogue with Hartmut Rosa's social acceleration theory and Byung-Chul Han's burnout society. The study advances the conceptual proposition that the non-instrumental elements of the essence dimension, such as wonder, calm, joy, and play, are the most vulnerable, since their erosion leaves no visible marker of achievement. Parts of the action dimension are similarly vulnerable, whereas the origin dimension tends to be redirected as parents, the external source of children's spirituality, transmit the logic of productivity itself. The novelty lies in combining both frameworks within Indonesia's early childhood policy context, yielding a framework of Sabbath-shaped parenting across three domains: time, relationships, and community. Here, children are recipients of life, not objects of continuous development. The framework has implications for families, churches, and Christian early childhood institutions, especially among the urban middle class, and requires empirical testing. Abstract Pengasuhan anak usia dini di kalangan keluarga Kristen urban di Indonesia rentan dibentuk oleh logika produktivitas yang menilai masa kanak-kanak dari capaian terukur. Kajian sosiologi pengasuhan telah memetakan gejala ini sebagai pengasuhan intensif dan concerted cultivation, dan kebijakan transisi PAUD–SD tahun 2023 telah meresponsnya secara pedagogis, tetapi dimensi teologis dan spiritualnya belum banyak dikaji. Melalui studi pustaka dengan analisis konseptual, artikel ini merumuskan kritik teologis-profetik terhadap logika tersebut. Kerangka diagnosisnya adalah kerangka spiritualitas anak essence–origin–action dari Mata-McMahon dkk. yang diadaptasi secara heuristik. Kerangka koreksinya adalah empat bentuk resistensi Sabat menurut Walter Brueggemann, yaitu resistensi terhadap kecemasan, koersi, eksklusivisme, dan multitasking, yang dibaca bersama eksegesis Ulangan 5:12–15 dan Mazmur 127:2–3 serta didialogkan dengan teori percepatan sosial Hartmut Rosa dan konsep masyarakat kelelahan Byung-Chul Han. Kajian ini mengajukan proposisi konseptual bahwa unsur-unsur non-instrumental dalam dimensi essence, seperti kekaguman, ketenangan, sukacita, dan bermain, dapat dipahami sebagai yang paling rentan tergerus karena penggerusannya tidak meninggalkan penanda capaian yang terlihat. Kerentanan serupa tampak pada sebagian dimensi action, sedangkan dimensi origin cenderung terarah ulang ketika orang tua, sebagai sumber eksternal spiritualitas anak, mewariskan logika produktivitas itu sendiri. Kebaruan artikel terletak pada perpaduan kedua kerangka tersebut dalam konteks kebijakan PAUD Indonesia, yang menghasilkan kerangka pengasuhan Sabatis dalam tiga ranah: waktu, relasi, dan komunitas. Dalam kerangka ini, anak dipandang sebagai penerima kehidupan, bukan objek yang terus-menerus dikembangkan. Kerangka ini berimplikasi bagi keluarga, gereja, dan lembaga PAUD Kristen, terutama di kalangan kelas menengah urban, dan perlu diuji secara empiris.
Faith and the Coastal Shore: A Theological Reflection on Community Engagement in Pulau Buluh Timotius Togatorop; Rini Sumanti Sapalakkai; Jabes Pasaribu; Desetina Harefa; Johan Natanael Sitinjak
Real Coster : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 2: September 2026
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/gzptpw42

Abstract

This article reports a qualitative study employing participatory and theologically reflective approaches to examine the Community Engagement Program conducted by the Undergraduate Theology Program of Sekolah Tinggi Teologi Real Batam in Pulau Buluh, Batam, Indonesia. Conducted on August 29, 2024, the program combined a coastal clean-up campaign and community education in collaboration with Free the Sea, local leaders, and residents. Drawing on field observation, participatory dialogue, and theological reflection, the study argues that grassroots ecological action constitutes an embodied and contextual enactment of the cultural mandate (mandatum culturae). The findings suggest that such action cultivates ecological awareness while reflecting a Pentecostal/charismatic missiological sensibility that integrates creationcare with the Church’s spiritual and social mission. The study concludes that environmental stewardship is an integral expression of Christian faith and mission and that theological institutions can translate ecological convictions into participatory, community-based practices of creation stewardship. Abstrak Artikel ini melaporkan penelitian kualitatif dengan pendekatan partisipatif dan reflektif-teologis untuk mengkaji Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dilaksanakan oleh Program Studi Sarjana Teologi Sekolah Tinggi Teologi Real Batam di Pulau Buluh, Batam, Indonesia. Program yang dilaksanakan pada 29 Agustus 2024 ini memadukan aksi bersih pantai dan edukasi masyarakat melalui kolaborasi dengan Free the Sea, tokoh masyarakat, dan warga setempat. Berdasarkan observasi lapangan, dialog partisipatif, dan refleksi teologis, penelitian ini menunjukkan bahwa aksi ekologis berbasis masyarakat merupakan perwujudan konkret dan kontekstual dari mandat budaya (mandatum culturae). Temuan menunjukkan bahwa tindakan tersebut menumbuhkan kesadaran ekologis sekaligus mencerminkan sensibilitas misiologis Pentakostal/Kharismatik yang mengintegrasikan pemeliharaan ciptaan dengan misi spiritual dan sosial Gereja. Penelitian ini menegaskan bahwa tanggung jawab lingkungan merupakan bagian integral dari iman dan misi Kristen serta menunjukkan bahwa lembaga pendidikan teologi dapat menerjemahkan keyakinan ekologis ke dalam praktik pemeliharaan ciptaan yang partisipatif dan berbasis komunitas.
Academic Capitalism and Theological Education: A Critical Analysis of the Commodification of Ministerial Vocation in the Neoliberal Era Jabes Pasaribu; Oniaman Buulolo; Frank Hammond-Essel
Manthano: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 5 No 2 (2026): September
Publisher : Institut Kristen Teologi REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/dqmxcc97

Abstract

Christian theological education faces serious challenges as academic capitalism increasingly shapes higher education. Market logic emphasizing efficiency, competition, and profit shifts theological education from spiritual formation and vocational calling toward economic investment and expected returns. This article critically examines how the commodification of education affects theological institutions, particularly graduates’ orientations toward ecclesial ministry. Using a critical interdisciplinary literature review, the study integrates sociology of education, practical theology, and postcolonial studies, engaging international scholarship alongside literature and policy sources from Indonesia and Asia. It argues that rising educational costs, market-oriented accreditation, and the declining role of churches as financial guarantors intensify tensions between ministerial vocation and post-study economic needs, risking the reduction of ministry to a materially rewarded profession. The article’s novelty lies in connecting academic capitalism with Maldonado-Torres’s concept of coloniality and interpreting educational and economic pressures through a Global South perspective. It concludes by proposing theological education reform that integrates spiritual formation, communal responsibility, and financial sustainability. Abstrak Pendidikan teologi Kristen menghadapi tantangan serius seiring semakin kuatnya pengaruh kapitalisme akademik dalam pendidikan tinggi. Logika pasar yang menekankan efisiensi, kompetisi, dan keuntungan menggeser pendidikan teologi dari proses pembentukan spiritual dan panggilan vokasional menuju investasi ekonomi yang menuntut imbal hasil. Artikel ini secara kritis mengkaji bagaimana komodifikasi pendidikan memengaruhi institusi teologi, khususnya orientasi lulusan terhadap pelayanan gerejawi. Dengan menggunakan tinjauan literatur interdisipliner kritis, penelitian ini mengintegrasikan sosiologi pendidikan, teologi praktis, dan studi pascakolonial melalui dialog antara literatur internasional dan sumber literatur serta kebijakan dari Indonesia dan Asia. Artikel ini berargumen bahwa meningkatnya biaya pendidikan, akreditasi yang berorientasi pasar, dan melemahnya peran gereja sebagai penjamin pembiayaan memperkuat ketegangan antara panggilan pelayanan dan kebutuhan ekonomi pascastudi, yang berisiko mereduksi pelayanan menjadi profesi yang berorientasi pada imbalan material. Kebaruan artikel ini terletak pada pengaitan kapitalisme akademik dengan konsep coloniality Maldonado-Torres serta interpretasi terhadap tekanan pendidikan dan ekonomi melalui perspektif Global South. Artikel ini mengusulkan reformasi pendidikan teologi yang mengintegrasikan pembentukan spiritual, tanggung jawab komunal, dan keberlanjutan finansial.