Perkembangan media sosial telah memperluas ruang paparan bahasa bagi pembelajar bahasa kedua, termasuk bahasa Arab. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran media sosial sebagai sumber input linguistik dalam pemerolehan bahasa Arab sebagai bahasa kedua serta menjelaskan proses tersebut dari perspektif psikolinguistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi pustaka melalui strategi sintesis literatur kritis. Sumber penelitian berupa artikel ilmiah yang dipilih berdasarkan relevansi dengan media sosial, input linguistik, pemerolehan bahasa kedua, pembelajaran bahasa Arab, dan aspek psikolinguistik. Analisis dilakukan melalui tahap identifikasi, seleksi, pembacaan kritis, ekstraksi data, kategorisasi tematik, dan sintesis konseptual. Hasil sintesis menunjukkan empat karakteristik utama media sosial sebagai sumber input linguistik, yaitu multimodal, kontekstual, repetitif, dan variatif. Input multimodal memungkinkan bahasa Arab disajikan melalui kombinasi teks, audio, visual, dan video. Input kontekstual memungkinkan pembelajar menemukan kosakata, ungkapan, dan struktur bahasa dalam situasi penggunaan tertentu. Karakteristik digital juga memungkinkan terjadinya paparan berulang terhadap bentuk bahasa, sedangkan keberagaman konten memperluas variasi kosakata dan penggunaan bahasa. Namun, paparan terhadap bahasa tidak secara otomatis menghasilkan pemerolehan. Dari perspektif psikolinguistik, input perlu mendapat perhatian, dipersepsi, dipahami, serta diproses melalui hubungan antara bentuk dan makna agar dapat berkontribusi terhadap perkembangan pengetahuan bahasa. Berdasarkan sintesis literatur, kontribusi media sosial yang paling konsisten terlihat pada perluasan paparan bahasa, pengayaan kosakata, dan pemahaman makna berdasarkan konteks. Dengan demikian, media sosial lebih tepat dipahami sebagai lingkungan penyedia input linguistik yang dapat mendukung pemerolehan bahasa Arab, bukan sebagai faktor tunggal yang secara langsung menentukan keberhasilan pemerolehan.