Fitri Ilya Astuti
Prodi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Hubungan Kualitas Tidur dengan Premenstrual Syndrome pada Mahasiswa FK UNISBA Fitri Ilya Astuti; Yuniarti; Alvira Widiyanti
Bandung Conference Series: Medical Science 1-8
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22004

Abstract

Abstract. Poor sleep quality is a common problem among medical students due to high academic demands and intensive learning activities. This condition may affect not only physical and mental health but also reproductive health, including the occurrence of Premenstrual Syndrome (PMS). PMS is characterized by a combination of physical, emotional, and behavioral symptoms that occur during the luteal phase of the menstrual cycle and may interfere with daily activities and academic performance. This study aimed to analyze the association between sleep quality and the occurrence of Premenstrual Syndrome among medical students at the Faculty of Medicine, Universitas Islam Bandung. This study employed an analytic observational design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 203 first-, second-, and third-year students selected using stratified random sampling based on inclusion and exclusion criteria. Sleep quality was assessed using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), while PMS was measured using the Shortened Premenstrual Syndrome Assessment Form (SPAF). Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with Fisher’s exact test. The results showed that most respondents had poor sleep quality (95.6%), and nearly all experienced PMS symptoms (98.5%). Bivariate analysis revealed a statistically significant association between sleep quality and PMS occurrence (p=0.005; p<0.05). These findings indicate that sleep quality plays an important role in the occurrence of PMS among medical students. Therefore, improving sleep quality should be considered a preventive and control strategy for PMS symptoms in medical students.Abstrak. Kualitas tidur yang buruk merupakan permasalahan yang sering dialami oleh mahasiswa kedokteran akibat tingginya tuntutan akademik dan dapat berdampak kepada kesehatan reproduksi, salah satunya Premenstrual Syndrome (PMS). Gejala PMS ditandai oleh kombinasi gejala fisik, emosional, dan perilaku yang muncul pada saat fase luteal siklus menstruasi dan berpotensi mengganggu aktivitas dan perfoma akademik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kualitas tidur dengan kejadian Premenstrual Syndrome pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendeketan cross-sectional. Sampel terdiri atas 203 mahasiswa tingkat satu, dua, dan tiga yang dipilih melalui stratified random sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Kualitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Indeks (PSQI) sedangkan kejadian PMS diukur dengan menggunakan Shortened Premenstrual Syndrome Assessmont Form (SPAF). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji fisher’s exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kualitas tidur buruk (95,6%) dan hampir seluruhnya mengalami gejala PMS (98,5%). Analisis bivariat menunjukkan nilai p=0,005 (p<0,05) yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara kualitas tidur dengan kejadian PMS. Temuan ini menegaskan bahwa kualitas tidur penting dalam kejadian PMS pada mahasiswa kedokteran. Sehingga, upaya perbaikan kualitas tidur perlu dipertimbangkan sebagai strategi pencegahan dan pengendalian gejala PMS pada mahasiswa kedokteran.