Nizmarani Muftia Dewi
Prodi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Hubungan Kadar Hemoglobin dan Hematokrit dengan Kejadian Kejang Demam Pasien Anak yang di Rawat Inap di RSUD Umar Wirahadikusumah Januari - Juli 2025 Nizmarani Muftia Dewi; Zulmansyah; Yani Dewi Suryani
Bandung Conference Series: Medical Science 133-140
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22089

Abstract

Abstract. Febrile seizures are one of the most common neurological conditions in children and often cause significant concern for parents. Various factors are thought to influence seizure thresholds, including hematological parameters such as hemoglobin and hematocrit levels. However, evidence regarding the relationship between these parameters and febrile seizures remains inconsistent. This study aimed to describe hemoglobin and hematocrit levels in children with febrile seizures and to analyze their relationship with the occurrence of febrile seizures at Umar Wirahadikusumah Regional Hospital, Sumedang. An observational analytic study with a cross-sectional design was conducted. The sample consisted of 120 hospitalized children from January to July 2025. Collected data included sex, age, hemoglobin level, hematocrit level, and febrile seizure status. Bivariate analysis was performed using the chi-square test. Most children with febrile seizures had hemoglobin and hematocrit levels within normal ranges. A significant association was found between hemoglobin levels and febrile seizure occurrence, where lower hemoglobin levels tended to be associated with an increased incidence of febrile seizures. Conversely, no significant association was found between hematocrit levels and febrile seizures. Hemoglobin levels play a significant role in febrile seizure occurrence, whereas hematocrit levels show no meaningful relationship. Hemoglobin assessment should be considered as part of the clinical evaluation in febrile children to identify potential seizure risks. Further research is needed to explore other contributing factors in the mechanism of febrile seizures. Abstrak. Kejang demam merupakan salah satu kondisi neurologis tersering pada anak dan sering menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua. Berbagai faktor diduga berperan dalam memengaruhi ambang kejang, termasuk status hematologis seperti kadar hemoglobin dan hematokrit. Namun, bukti hubungan antara kedua parameter ini dengan kejadian kejang demam masih bervariasi. Mengetahui gambaran kadar hemoglobin dan hematokrit pada anak dengan kejang demam serta menganalisis hubungan keduanya dengan kejadian kejang demam di RSUD Umar Wirahadikusumah Kabupaten Sumedang. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan potong lintang. Sampel terdiri dari 120 anak yang dirawat pada periode Januari hingga Juli 2025. Data meliputi jenis kelamin, usia, kadar hemoglobin, kadar hematokrit, dan status kejang demam. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji chi-square. Sebagian besar anak dengan kejang demam memiliki kadar hemoglobin dan hematokrit dalam batas normal. Terdapat hubungan signifikan antara kadar hemoglobin dengan kejadian kejang demam di mana hemoglobin lebih rendah cenderung berkaitan dengan peningkatan kejadian kejang demam. Sebaliknya, tidak terdapat hubungan signifikan antara kadar hematokrit dengan kejadian kejang demam. Kadar hemoglobin berperan signifikan terhadap kejadian kejang demam, sedangkan kadar hematokrit tidak menunjukkan hubungan bermakna. Pemeriksaan hemoglobin perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari evaluasi klinis pada anak dengan demam untuk mengidentifikasi potensi risiko kejang. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengeksplorasi faktor lain yang berkontribusi terhadap mekanisme terjadinya kejang demam.