Abstract. Napping is a fatigue recovery strategy commonly practiced by medical students to maintain cognitive function amidst high academic loads. This study aimed to determine the relationship between napping duration and cognitive function, specifically short-term memory, among students in the academic stage of the Faculty of Medicine, Universitas Islam Bandung in the academic year 2024/2025. This study used an analytic observational method with a cross-sectional design on 75 respondents selected through purposive sampling. Napping duration data were collected using the Behavioral Nap Questionnaire, while short-term memory data were measured using the Forward Digit Span Test. The results showed that the majority of students had short to medium napping durations and moderate to high category cognitive function, however, bivariate analysis showed no significant relationship between the two variables (p = 0.310). This insignificant result is likely caused by the use of a cross-sectional design which cannot capture the transient (acute) cognitive enhancement effects post-nap. Additionally, short-term memory performance is suspected to be more influenced by other multifactorial factors not fully controlled in this study, such as nocturnal sleep quality, academic stress levels, and individual fatigue conditions. Abstrak. Tidur siang merupakan strategi pemulihan kelelahan yang umum dilakukan mahasiswa kedokteran untuk mempertahankan fungsi kognitif di tengah beban akademik yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara durasi tidur siang terhadap fungsi kognitif, khususnya short term memory, pada mahasiswa Tahap Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung tahun ajaran 2024/2025. Studi ini menggunakan metode observasional analitik dengan rancangan cross-sectional terhadap 75 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Data durasi tidur siang diambil menggunakan Behavioral Nap Questionnaire, sementara data short term memory diukur menggunakan Forward Digit Span Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa memiliki durasi tidur siang singkat hingga menengah dan fungsi kognitif kategori sedang hingga tinggi, namun analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara kedua variabel tersebut (p = 0,310). Hasil yang tidak signifikan ini diduga disebabkan oleh penggunaan desain cross-sectional yang tidak dapat menangkap efek peningkatan kognitif pasca-tidur yang bersifat sementara (akut), selain itu performa memori jangka pendek diduga lebih dipengaruhi oleh faktor multifaktorial lain yang tidak dikontrol penuh dalam penelitian ini, seperti kualitas tidur malam, tingkat stres akademik, dan kondisi kelelahan individu.