Nugraha Sutadipura
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Studi literatur: Hubungan Status Gizi dengan Kecerdasan Intelektual pada Siswa SDN Cigarung Kecamatan Leuwisadeng Bogor Farrel Zhafran; Nugraha Sutadipura; Mirasari Putri
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6941

Abstract

Abstract. Nutritional status is a condition obtained from the balance between the intake of nutrients from food and the nutritional needs of the body for metabolic processes. Poor nutritional status can trigger an adrenal cortex response so that it will increase plasma cortisol in the body and will inhibit hormone responses which result in impaired brain development resulting in a decrease in the value of intellectual intelligence in children. Intelligence or intelligence is the ability required in solving problems that require understanding and the use of symbols. This study aims to determine the effect of nutritional status on intellectual intelligence in grades 4 and 5 of SDN Cigarung Leuwisadeng District Bogor. The type of research used is observational analytic by using cross sectional study method on 80 respondents by measuring nutritional status (weight/age) and measuring intelligence level by using Coloured Progressive Matrices. The results of bivariate analysis using the chi-square test proved that there was no relationship between nutritional status and intellectual intelligence (p-value=0.091). The conclusion of this study is that nutritional status is not related to intellectual intelligence in grades 4 and 5 of SDN Cigarung, Leuwisadeng District, Bogor. Abstrak. Status gizi merupakan keadaan yang didapatkan dari keseimbangan antara asupan zat gizi yang berasal dari makanan dengan kebutuhan zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk proses metabolisme. Status gizi yang buruk dapat memicu respon korteks adrenal sehingga akan meningkatkan plasma kortisol dalam tubuh dan akan menginhibisi respon hormon yang berakibat pada gangguan perkembangan otak sehingga terjadi penurunan nilai kecerdasan intelektual pada anak. Inteligensi atau kecerdasan merupakan, kemampuan yang dituntut dalam pemecahan masalah yang membutuhkan pemahaman dan penggunaan simbol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh status gizi terhadap kecerdasan intelektual pada siswa kelas 4 dan 5 SDN Cigarung Kecamatan Leuwisadeng Bogor. Jenis penelitian yang dipergunakan adalah analitik observasional dengan menggunakan metode cross sectional study pada 80 responden melalui pengukuran status gizi (berat badan/umur) dan pengukuran tingkat kecerdasan dengan menggunakan Coloured Progressive Matrices. Hasil analisis bivariat menggunakan uji chi-square membuktikan bahwa tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan kecerdasan intelektual (p value=0,091). Simpulan dari penelitian ini adalah status gizi tidak berhubungan dengan kecerdasan intelektual pada siswa kelas 4 dan 5 SDN Cigarung Kecamatan Leuwisadeng Bogor.
Gambaran Karakteristik Pasien Keratitis di RSUD Welas Asih Bandung Tahun 2024 Muhammad Raihan Abdillah; Nugraha Sutadipura; Bambang Setiohadji
Bandung Conference Series: Medical Science 697-704
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22339

Abstract

Abstract. Keratitis is an inflammation of the cornea that can cause visual impirment and serious complications if not treated properly. This study aims to describe the characteristics of keratitis patients at Welas Asih Regional Public Hospital Bandung in 2024. This study is a quantitative descriptive study using secondary data from patients medical records. The sampling methode used was purposive sampling, amounting to 73 people. The variables studied included age, gender, type of keratitis, type of infectious keratitis, diagnosed eye, and visual acuity at the beginning and end of the visit. The results showed that most keratitis patients were aged ≥18 years (79.5%) and the majority were male(52%). The most common type of keratitis was non-infectious keratitis (67.2%), with some cases being infectious keratitis. Most patients had keratitis in the left eye (45.2%). Visual acuity at the beginning of the visit showed that the majority was in the range of 6/6 - 6/18 (47%), and for visual acuity at the end of the visit, the majority was in the range of 6/6 - 6/18 (51%). The conclusion of this study shows that keratitis patients at Welas Asih Hospital are predominantly adults with diverse clinical characteristics. Abstrak. Keratitis merupakan peradangan kornea yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik pasien keratitis di RSUD Welas Asih Bandung tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif menggunakan data sekunder rekam medis. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, berjumlah 73 orang. Variabel yang diteliti meliputi usia, jenis kelamin, jenis keratitis, jenis keratitis infeksius, mata yang terdiagnosis, serta visual acuity pada awal dan akhir kunjungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien keratitis berusia ≥18 tahun (79,5%) dan mayoritas berjenis kelamin laki-laki (52%). Jenis keratitis yang paling banyak ditemukan adalah jenis keratitis non-infeksius (67,2%), dengan sebagian kasus merupakan keratitis infeksius. Sebagian besar pasien mengalami keratitis pada mata kiri (45,2%). Visual acuity pada awal kunjungan menunjukkan mayoritas dalam rentang 6/6 - 6/18 (47%), dan untuk visual acuity pada akhir kunjungan mayoritas dalam rentang 6/6 - 6/18 (51%). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pasien keratitis di RSUD Welas Asih didominasi oleh usia dewasa dengan gambaran karakteristik klinis yang beragam.
Hubungan Status Gizi Terhadap Keparahan Pneumonia pada Anak di RSUD Waled Kabupaten Cirebon Faza Auliya Firmansyah; Ratna Dewi Indi Astuti; Nugraha Sutadipura
Bandung Conference Series: Medical Science 1053-1060
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22474

Abstract

Abstract. Pneumonia is an infection that occurs in the lung parenchyma due to the invasion of microorganisms. One factor that affects the body's immune system is nutritional status. This study aims to analyze the relationship between nutritional status and the severity of pneumonia in pediatric patients at Waled Regional General Hospital, Cirebon Regency. This analytical observational study used a cross-sectional design from the medical records of pneumonia patients in 2024. The research subjects were pediatric patients suffering from pneumonia who were hospitalized at Waled Regional General Hospital. The severity of pneumonia was categorized as mild and severe. Nutritional status was classified as good, poor, and bad. The relationship analysis was performed using the Chi-Square test. The results showed that of the 232 subjects, 173 subjects (74.6%) had mild pneumonia with poor nutritional status (30.2%). There was no significant relationship between nutritional status and the severity of pneumonia (p = 0.398). The conclusion of this study is that there is no relationship between nutritional status and the severity of pneumonia. Nutritional status is not a determining factor in the severity of pneumonia; rather, there are other factors that can influence it, such as individual factors including exposure to cigarette smoke, age, breastfeeding, and immunization status, as well as environmental factors such as air pollution and environmental conditions. Abstrak. Pneumonia merupakan kondisi infeksius yang melibatkan jaringan parenkim paru dan diakibatkan oleh invasi mikroorganisme. Sistem imun yang lemah dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah. Salah satu faktor yang mempengaruhi sistem imun tubuh adalah status gizi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status gizi dengan derajat keparahan pneumonia pada pasien anak di RSUD Waled Kabupaten Cirebon. Penelitian observasional analitik ini menggunakan desain cross-sectional dari data rekam medik pasien pneumonia periode 2024. Subjek penelitian adalah pasien anak-anak yang menderita pneumonia dan di rawat inap di RSUD Waled. Derajat keparahan pneumonia dikategorikan menjadi ringan dan berat. Status gizi diklasifikasikan menjadi baik, kurang, dan buruk. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 232 subjek, sebanyak 173 subjek (74,6%) mengalami pneumonia ringan dengan status gizi buruk 30,2%. Tidak terdapat hubungan bermakna antara status gizi dengan derajat keparahan pneumonia (p = 0,398). Kesimpulan penelitian ini tidak ada hubungan antara status gizi dengan derajat keparahan pneumonia. Status gizi bukan faktor penentu dari keparahan pneumonia, melainkan ada faktor lain yang dapat mempengaruhinya seperti faktor individu herupa paparan asap rokok, usia, pemberian asi, dan status imunisasi. serta faktor lingkungan seperti polusi udara dan kondisi lingkungan.
Hubungan Durasi Tidur Siang terhadap Short-Term Memory Mahasiswa Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Tahun Ajaran 2025/2026 Mochammad Ilham Maulana Hidayatullah Ruhiyat; Nugraha Sutadipura; Rizki Perdana
Bandung Conference Series: Medical Science 1167-1174
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22514

Abstract

Abstract. Napping is a fatigue recovery strategy commonly practiced by medical students to maintain cognitive function amidst high academic loads. This study aimed to determine the relationship between napping duration and cognitive function, specifically short-term memory, among students in the academic stage of the Faculty of Medicine, Universitas Islam Bandung in the academic year 2024/2025. This study used an analytic observational method with a cross-sectional design on 75 respondents selected through purposive sampling. Napping duration data were collected using the Behavioral Nap Questionnaire, while short-term memory data were measured using the Forward Digit Span Test. The results showed that the majority of students had short to medium napping durations and moderate to high category cognitive function, however, bivariate analysis showed no significant relationship between the two variables (p = 0.310). This insignificant result is likely caused by the use of a cross-sectional design which cannot capture the transient (acute) cognitive enhancement effects post-nap. Additionally, short-term memory performance is suspected to be more influenced by other multifactorial factors not fully controlled in this study, such as nocturnal sleep quality, academic stress levels, and individual fatigue conditions. Abstrak. Tidur siang merupakan strategi pemulihan kelelahan yang umum dilakukan mahasiswa kedokteran untuk mempertahankan fungsi kognitif di tengah beban akademik yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara durasi tidur siang terhadap fungsi kognitif, khususnya short term memory, pada mahasiswa Tahap Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung tahun ajaran 2024/2025. Studi ini menggunakan metode observasional analitik dengan rancangan cross-sectional terhadap 75 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Data durasi tidur siang diambil menggunakan Behavioral Nap Questionnaire, sementara data short term memory diukur menggunakan Forward Digit Span Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa memiliki durasi tidur siang singkat hingga menengah dan fungsi kognitif kategori sedang hingga tinggi, namun analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara kedua variabel tersebut (p = 0,310). Hasil yang tidak signifikan ini diduga disebabkan oleh penggunaan desain cross-sectional yang tidak dapat menangkap efek peningkatan kognitif pasca-tidur yang bersifat sementara (akut), selain itu performa memori jangka pendek diduga lebih dipengaruhi oleh faktor multifaktorial lain yang tidak dikontrol penuh dalam penelitian ini, seperti kualitas tidur malam, tingkat stres akademik, dan kondisi kelelahan individu.
Gambaran Karakteristik Ibu Hamil Dengan Kejadian Sifilis Yogi Zahary Ramdhan; Yani Triyan; Mia Yasmina Andarini; Rafdi Ahmed; Nugraha Sutadipura
Bandung Conference Series: Medical Science 1335-1342
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22617

Abstract

Abstract. Syphilis in pregnancy remains a public health problem because it can cause various pregnancy complications, including congenital syphilis, preterm birth, and fetal death. Early detection through serological examination is an important step in preventing vertical transmission. This study aimed to describe the characteristics of pregnant women with syphilis. This research was a descriptive study. Data were obtained from medical records of pregnant women who underwent syphilis serological testing. The sampling technique used was total sampling, with a total of 130 pregnant women included. The variables analyzed consisted of age, education level, parity, and occupation. Data were presented in the form of frequency distributions and percentages. The results showed that most pregnant women were in the 20–35 year age group (84,6%), had secondary education (84,6%), were employed (60,8%), and had primiparous and multiparous parity in equal proportions (50% each). The conclusion of this study indicates that syphilis among pregnant women was predominantly found in those of reproductive age, with secondary education, employed status, and primiparous or multiparous parity. Therefore, strengthening routine screening and follow-up treatment for syphilis in pregnant women is necessary. Abstrak. Sifilis pada ibu hamil masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena dapat menyebabkan berbagai komplikasi kehamilan, seperti sifilis kongenital, kelahiran prematur, hingga kematian janin. Deteksi dini melalui pemeriksaan serologis merupakan langkah penting dalam pencegahan penularan vertikal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik ibu hamil dengan kejadian sifilis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Data diperoleh dari rekam medis ibu hamil yang menjalani pemeriksaan serologis sifilis. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 130 ibu hamil. Variabel yang dianalisis meliputi usia, tingkat pendidikan, paritas, dan pekerjaan. Data disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar ibu hamil berada pada kelompok usia 20–35 tahun (84,6%), memiliki tingkat pendidikan menengah (84,6%), bekerja (60,8%), serta memiliki paritas primipara dan multipara dengan proporsi yang sama (masing-masing 50%). Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kejadian sifilis pada ibu hamil didominasi oleh usia reproduktif, pendidikan menengah, status bekerja, serta paritas primipara dan multipara, sehingga diperlukan penguatan skrining dan tindak lanjut pengobatan sifilis pada ibu hamil.
Hubungan Tingkat Stres dengan Derajat Hipertensi pada Pasien di RS Ciremai Ayu Syahreymedi Makhmud Pratidina; Nugraha Sutadipura; Rio Dananjaya
Bandung Conference Series: Medical Science 1469-1476
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.23123

Abstract

Abstract. Hypertension remains a significant health challenge with high prevalence but low control rates in Indonesia, including Cirebon City. While physical factors are commonly studied, psychosocial contributions such as stress are often overlooked in clinical management, necessitating local empirical evidence to support holistic intervention strategies. This quantitative study aims to analyze the association between psychological stress levels and the grade of hypertension at the Internal Medicine Polyclinic of Ciremai Hospital in 2025 using a cross-sectional approach. A sample of 61 respondents was selected through consecutive sampling. Research instruments included blood pressure observation sheets and the Perceived Stress Scale (PSS-10) questionnaire, with data analyzed using the Fisher’s Exact Test test. Results showed that the majority of respondents were in Grade 1 hypertension. In the mild stress group, most respondents (66.7%) had Grade 1 hypertension, whereas all respondents with moderate to high stress (100%) were categorized into Grade 2 hypertension. Statistical analysis confirmed a significant association between psychological stress levels and the grade of hypertension (p < 0.001). In conclusion, higher levels of perceived stress are associated with more severe grades of hypertension. Stress management should be integrated into hypertension control programs to prevent disease progression. Abstrak. Hipertensi memiliki prevalensi tinggi namun pengendaliannya rendah di Indonesia, termasuk Kota Cirebon. Meski faktor fisik umum dipelajari, kontribusi psikososial seperti stres sering terabaikan dalam manajemen klinis, sehingga diperlukan bukti empiris lokal untuk mendukung strategi intervensi yang holistik. Penelitian kuantitatif ini bertujuan menganalisis hubungan tingkat stres psikologis dengan derajat hipertensi di Poliklinik Penyakit Dalam RS Ciremai Kota Cirebon tahun 2025 melalui pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 61 responden dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi tekanan darah dan kuesioner Perceived Stress Scale (PSS-10), dengan analisis data melalui uji Fisher’s Exact Test. Hasil menunjukkan mayoritas responden berada pada hipertensi derajat 1. Pada kelompok stres ringan, sebagian besar responden (66,7%) mengalami hipertensi derajat 1, sedangkan seluruh responden dengan stres sedang dan tinggi (100%) berada pada kategori hipertensi derajat 2. Uji statistik mengonfirmasi adanya hubungan signifikan antara tingkat stres psikologis dengan derajat hipertensi (p < 0,001). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan di mana semakin tinggi tingkat stres, semakin berat derajat hipertensi yang dialami. Manajemen stres perlu diintegrasikan dalam pengendalian hipertensi guna mencegah progresivitas penyakit.