Upik Rahmi
Program Studi Keperawatan, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, Universitas Pendidikan Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Efektivitas latihan senam poundfit high-intensity interval training (HIIT) terhadap kualitas tidur pada dewasa muda sedentary lifestyle Gionovie Khalisha Isaura; Upik Rahmi; Slamet Rohaedi; Ridha Wahdini
Hik Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2328

Abstract

Background: Sleep quality disturbances are highly prevalent among young adults and are closely associated with sedentary behavior, defined as waking activities performed in a sitting or reclining position with low energy expenditure for prolonged periods. Among university students, sedentary time exceeding 7 hours per day has been linked to poorer sleep quality. Although high-intensity physical activity is known to improve sleep quality, evidence regarding music-based High-Intensity Interval Training (HIIT), such as poundfit, remains limited. Purpose: To examine the effectiveness of poundfit-based HIIT on sleep quality among sedentary young adults. Methods: A quasi-experimental design with a pretest-posttest control group. A total of 40 female participants with high sedentary time, defined as more than 7 hours per day spent sitting or reclining while awake, were assessed using the Sedentary Behavior Questionnaire (SBQ). Participants were allocated into an intervention group (n = 20) and a control group (n = 20). The intervention group participated in poundfit-based HIIT sessions three times per week for four weeks, with each session lasting 45-60 minutes. Sleep quality was measured using the Indonesian version of the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), which has demonstrated good validity and reliability, with Cronbach’s alpha of 0.741. Data were analyzed using the Wilcoxon test, independent sample t-test, and effect size calculation. Results: The intervention group showed a significant reduction in PSQI scores from 8.35 ± 2.21 to 4.15 ± 2.18 (p < 0.001; r = 0.85), while the control group showed no significant change (p = 0.198). A significant difference in PSQI score changes was found between the intervention and control groups (p = 0.001). Conclusion: Poundfit-based HIIT is effective in improving sleep quality among young adults with high sedentary behavior of more than 7 hours per day. This intervention may serve as a practical and clinically meaningful physical activity program. Suggestion: Poundfit-based HIIT as a structured physical activity to improve sleep quality among university students with a sedentary lifestyle. The program can be effectively performed three times per week for four weeks, with a duration of 45-60 minutes per session. For less optimal outcomes, additional light-to-moderate physical activity, sleep hygiene education, and stress management are recommended. This intervention is considered more applicable and motivating for university students than conventional physical exercise in the context of promotive nursing care.   Keywords: High-Intensity Interval Training (HIIT); Poundfit; Sedentary Behavior; Sleep Quality; Young Adults.   Pendahuluan: Gangguan kualitas tidur banyak terjadi pada dewasa muda dan berkaitan erat dengan perilaku sedentari, yaitu aktivitas saat terjaga yang dilakukan dalam posisi duduk atau berbaring dengan pengeluaran energi rendah dalam waktu yang lama. Pada mahasiswa, waktu sedentari lebih dari 7 jam per hari telah dikaitkan dengan kualitas tidur yang lebih buruk. Meskipun aktivitas fisik intensitas tinggi diketahui dapat meningkatkan kualitas tidur, bukti mengenai latihan High-Intensity Interval Training (HIIT) berbasis musik, seperti poundfit, masih terbatas. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas latihan poundfit berbasis HIIT terhadap kualitas tidur pada dewasa muda dengan gaya hidup sedentary. Metode: Penelitian desain kuasi-eksperimen dengan rancangan pretest-posttest control group. Sebanyak 40 partisipan perempuan dengan waktu sedentari tinggi, yaitu lebih dari 7 jam per hari dalam posisi duduk atau berbaring saat terjaga, dinilai menggunakan Sedentary Behavior Questionnaire (SBQ). Partisipan dibagi menjadi kelompok intervensi (n = 20) dan kelompok kontrol (n = 20). Kelompok intervensi mengikuti latihan poundfit berbasis HIIT sebanyak 3 kali per minggu selama 4 minggu, dengan durasi 45-60 menit setiap sesi. Kualitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) versi bahasa Indonesia yang telah menunjukkan validitas dan reliabilitas baik dengan nilai Cronbach’s alpha sebesar 0.741. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon, independent sample t-test, dan perhitungan effect size. Hasil: Kelompok intervensi menunjukkan penurunan skor PSQI yang signifikan dari 8.35 ± 2.21 menjadi 4.15 ± 2.18 (p < 0.001; r = 0.85), sedangkan kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan yang signifikan (p = 0.198). Terdapat perbedaan perubahan skor PSQI yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p = 0.001). Simpulan: Latihan poundfit berbasis HIIT efektif dalam meningkatkan kualitas tidur pada dewasa muda dengan perilaku sedentari tinggi lebih dari 7 jam per hari. Intervensi ini dapat menjadi program aktivitas fisik yang praktis dan bermakna secara klinis. Saran: Latihan HIIT berbasis poundfit sebagai aktivitas fisik terstruktur untuk meningkatkan kualitas tidur mahasiswa dengan gaya hidup sedentari. Program ini efektif dilakukan 3 kali seminggu selama 4 minggu dengan durasi 45-60 menit per sesi. Pada hasil yang belum optimal, diperlukan tambahan aktivitas fisik ringan hingga sedang, edukasi sleep hygiene, dan manajemen stres. Intervensi ini dinilai lebih aplikatif dan memotivasi mahasiswa dibandingkan latihan fisik konvensional dalam konteks keperawatan promotif.   Kata Kunci: Dewasa Muda; Kualitas Tidur; High-Intensity Interval Training (HIIT); Perilaku Sedentari; Poundfit.
Intekoneksi antara kecanduan media sosial, alexithymia, dan empati pada mahasiswa keperawatan Yovanetha Maria Margareth; Upik Rahmi; Lina Anisa Nasution
Hik Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2350

Abstract

Background: Empathy is a fundamental competency for nursing students to build therapeutic relationships and effective communication. This ability is at risk of declining due to the phenomena of alexithymia and social media addiction. Although the impact is significant, the maladaptive use of social media as a coping mechanism for alexithymia often goes unnoticed in the context of nursing education. Identifying the relationship between social media addiction, alexithymia, and empathy is crucial. Purpose: To analyze the relationship between social media addiction, alexithymia, and empathy, as well as to examine the mediating role of alexithymia in nursing students. Method: This study used a quantitative cross-sectional design on 197 nursing students selected through simple random sampling. Data were collected using the SMAS-SF, TAS-20, and JSPE-R questionnaires, then analyzed using path analysis. Results: The majority of respondents experienced high levels of social media addiction (57.4%), alexithymia (39.1%), and high empathy (77.7%). The path analysis results proved that alexithymia acted as the main mediator, social media addiction was significantly related to alexithymia (p=0.000) and alexithymia was significantly related to empathy (p=0.002), while the direct relationship between social media addiction and empathy was not significant (p=0.206). Conclusion: This study proves that alexithymia acts as the primary mediator. Social media addiction indirectly reduces empathy through blunted emotional sensitivity. The implications of this study emphasize the need for attention to the phenomenon of social media addiction related to alexithymia in order to maintain empathy competence in nursing students. Suggestion: Further research is recommended to apply a longitudinal or experimental design to conduct further testing of the causal relationship between variables.   Keywords: Alexithymia; Empathy; Nursing Students; Social Media.                                                                                                                                         Pendahuluan: Empati merupakan kompetensi fundamental bagi mahasiswa keperawatan untuk membangun hubungan terapeutik dan komunikasi efektif. Kemampuan ini berisiko menurun akibat fenomena alexithymia dan kecanduan media sosial. Meskipun dampaknya signifikan, penggunaan media sosial maladaptif sebagai mekanisme koping terhadap alexithymia sering kali luput dari perhatian dalam konteks pendidikan keperawatan. Identifikasi keterkaitan antara kecanduan media sosial, alexithymia, dan empati krusial untuk dilakukan. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara kecanduan media sosial, alexithymia, dan empati, serta menguji peran mediator alexithymia pada mahasiswa keperawatan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif cross-sectional pada 197 mahasiswa keperawatan yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner SMAS-SF, TAS-20, dan JSPE-R, kemudian dianalisis dengan path analysis. Hasil: Mayoritas responden mengalami kecanduan media sosial tingkat tinggi (57.4%), kondisi alexithymia (39.1%), dan memiliki empati yang tinggi (77.7%). Hasil path analysis membuktikan bahwa alexithymia bertindak sebagai mediator utama, kecanduan media sosial berhubungan signifikan dengan alexithymia (p=0.000) dan alexithymia berhubungan signifikan dengan empati (p=0.002), sementara hubungan langsung antara kecanduan media sosial dengan empati tidak signifikan (p=0.206). Simpulan: Penelitian ini membuktikan bahwa alexithymia bertindak sebagai mediator utama dalam hubungan antara kecanduan media sosial dan empati. Kecanduan media berpengaruh secara tidak langsung melalui tumpulnya sensitivitas emosi. Implikasi studi ini menekankan perlunya perhatian dalam fenomena kecanduan media sosial yang berhubungan dengan alexithymia guna mempertahankan kompetensi empati pada mahasiswa keperawatan. Saran: Penelitian selanjutnya disarankan untuk menerapkan desain longitudinal atau eksperimental guna melakukan pengujian lebih lanjut mengenai hubungan kausalitas antar variabel.   Kata Kunci: Alexithymia; Empati; Mahasiswa Keperawatan; Media Sosial.
Pengaruh brisk walking exercise terhadap fungsi kognitif pada pasien diabetes melitus tipe-2 Sahida Noor Aninda; Upik Rahmi; Sehabudin Salasa
Hik Vol. 20 No. 3 (2026): Volume 20 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i3.2897

Abstract

Background: The increasing prevalence of type 2 diabetes mellitus not only causes metabolic disorders but is also associated with decreased cognitive function, which can impair patients' quality of life. Aerobic physical activity, such as brisk walking, has the potential to improve glucose metabolism and cerebral blood flow, making it a simple intervention to improve cognitive function in patients with type 2 diabetes mellitus. However, evidence regarding its effectiveness on cognitive function in patients with type 2 diabetes mellitus in primary care settings is still limited. Purpose: To analyze the effectiveness of brisk walking exercise on cognitive function in patients with type 2 diabetes mellitus. Method: This quasi-experimental study, with a pre-test, post-test, and control group design, was conducted at the Kujangsari Community Health Center in Bandung City, in patients with type 2 diabetes mellitus for approximately 3 months (October-December 2025). The sample was selected using purposive sampling and divided into an intervention group and a control group. The intervention group participated in an 8-week brisk walking exercise program, while the control group received no intervention. Cognitive function was assessed using the Indonesian version of the MoCA-INA before and after the intervention. Data were analyzed using descriptive statistics, paired t-tests, and independent t-tests with a significance level of 0.05. Results: There was an increase in MoCA-INA cognitive function scores from 22.20 to 25.40 (a 3.20-point increase; p < 0.001) in the intervention group participating in brisk walking. In contrast, the control group showed no significant change in cognitive function (p = 0.072), with scores increasing from 20.90 to 20.10. Conclusion: Brisk walking is effective in improving cognitive function in patients with type 2 diabetes mellitus. This intervention can be an alternative, simple physical activity that helps improve cognitive health while supporting glycemic control in diabetes patients. Suggestion: Future research is recommended to develop a research design with a longer intervention duration and a larger sample size to provide a more comprehensive picture of the long-term effects of brisk walking exercise on cognitive function and glycemic control in patients with type 2 diabetes mellitus.   Keywords: Brisk Walking Exercise; Cognitive Function; Type 2 Diabetes Mellitus.   Pendahuluan: Meningkatnya prevalensi diabetes melitus tipe 2 tidak hanya menyebabkan gangguan metabolisme, tetapi juga dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif yang dapat mengganggu kualitas hidup pasien. Aktivitas fisik aerobik seperti brisk walking berpotensi untuk meningkatkan metabolisme glukosa dan aliran darah serebral, menjadikannya intervensi sederhana untuk meningkatkan fungsi kognitif pada pasien diabetes melitus tipe 2. Namun, bukti mengenai efektivitasnya terhadap fungsi kognitif pada pasien diabetes melitus tipe 2 di lingkungan perawatan primer masih terbatas. Tujuan: Untuk menganalisis efektivitas brisk walking exercise terhadap fungsi kognitif pada pasien diabetes melitus tipe 2. Metode: Penelitian quasi-experimental dengan pre-test post-test control groups design, dilakukan di UPTD Puskesmas Kujangsari Kota Bandung terhadap pasien dengan diabetes melitus tipe 2 selama kurang lebih 3 bulan (Oktober-Desember 2025). Sampel dipilih menggunakan purposive sampling dan dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Kelompok intervensi mengikuti program brisk walking exercise selama 8 minggu, sedangkan kelompok kontrol tidak menerima intervensi. Fungsi kognitif dinilai menggunakan Motreal Cognitive Assessment versi Indonesia (Moca-INA) sebelum dan sesudah intervensi. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji paired-t test, dan uji independen-t test dengan tingkat signifikansi 0.05. Hasil: Terdapat peningkatan skor fungsi kognitif MoCA-INA dari 22.20 menjadi 25.40 (peningkatan 3.20 poin; p < 0.001) pada kelompok intervensi yang melakukan brisk walking exercise. Sebaliknya, kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan signifikan pada fungsi kognitif (p = 0.072) dengan skor dari 20.90 menjadi 20.10. Simpulan: Brisk walking exercise efektif meningkatkan fungsi kognitif pada penderita diabetes melitus tipe 2. Intervensi ini dapat menjadi alternatif aktivitas fisik sederhana yang membantu meningkatkan kesehatan kognitif  sekaligus mendukung kontrol glikemik pada pasien diabetes. Saran: Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengembangkan desain penelitian dengan durasi intervensi yang lebih panjang serta jumlah sampel yang lebih besar agar dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai efek jangka panjang brisk walking exercise terhadap fungsi kognitif dan kontrol glikemik pada pasien diabetes melitus tipe 2.   Kata Kunci: Brisk Walking Exercise; Diabetes Melitus Tipe 2; Fungsi Kognitif.