Sehabudin Salasa
Program Studi Keperawatan, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, Universitas Pendidikan Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perbandingan efektivitas kapsul sambiloto dan mengkudu terhadap gula darah lansia dengan DM tipe 2 Naufal Alvaro Ramadhan; Afianti Sulastri; Sehabudin Salasa
Hik Vol. 20 No. 3 (2026): Volume 20 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i3.2797

Abstract

Background: Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease with a high prevalence among the elderly, including in West Java, particularly in Karawang Regency, and carries a significant risk of serious complications. In addition to pharmacological therapy, Andrographis paniculata and Morinda citrifolia have potential as complementary therapies for blood glucose control, but clinical evidence in elderly patients with type 2 DM remains limited. Purpose: To determine the difference in effectiveness between Andrographis paniculata capsules and Morinda citrifolia capsules in reducing fasting blood glucose levels in elderly patients with type 2 diabetes mellitus. Method: This study used a true experimental design with a randomized controlled group pretest–posttest design. A total of 40 older adults with type 2 diabetes mellitus were selected using purposive sampling and randomly assigned into two groups (n = 20 each). The first group received Andrographis paniculata extract capsules, while the second group received Morinda citrifolia extract capsules for 4 weeks at a dose of 2 × 1 capsule per day (500 mg per capsule). Fasting blood glucose levels were measured before and after the intervention using GlucoDr. auto A (AGM-4000). Data were analyzed using the Shapiro–Wilk test, Wilcoxon Signed Rank Test, and Mann–Whitney U Test. Results: In the Andrographis paniculata group, the mean fasting blood glucose level decreased from 150.65 to 131.50, while in the Morinda citrifolia group it decreased from 143.55 to 131.45. The Wilcoxon Signed Rank Test showed a significant reduction in both groups (p < 0.001). However, the Mann–Whitney U Test found no significant difference in the reduction of fasting blood glucose levels between the two interventions (p = 0.061). Conclusion: Andrographis paniculata capsules and Morinda citrifolia capsules significantly reduced fasting blood glucose levels in elderly patients with type 2 diabetes mellitus. However, no significant difference in the reduction of fasting blood glucose levels was found between the two interventions.   Keywords: Andrographis Paniculata; Blood Glucose; Elderly; Morinda Citrifolia; Type 2 Diabetes Mellitus.   Pendahuluan: Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis dengan prevalensi tinggi pada lansia, termasuk di Jawa Barat, terutama Kabupaten Karawang, yang berisiko menimbulkan komplikasi serius. Selain terapi farmakologis, sambiloto dan mengkudu berpotensi sebagai terapi komplementer untuk mengendalikan kadar gula darah, namun bukti klinis pada lansia dengan DM tipe 2 masih terbatas. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan efektivitas kapsul sambiloto (Andrographis paniculata) dan kapsul mengkudu (Morinda citrifolia) terhadap penurunan kadar gula darah puasa pada lansia dengan diabetes melitus tipe 2. Metode: Penelitian ini menggunakan desain true experimental dengan rancangan randomized controlled group pretest–posttest. Sebanyak 40 lansia dengan DM tipe 2 dipilih menggunakan purposive sampling dan dibagi secara acak menjadi dua kelompok (masing-masing n = 20). Kelompok pertama menerima kapsul ekstrak sambiloto dan kelompok kedua kapsul ekstrak mengkudu selama 4 minggu dengan dosis 2 × 1 kapsul per hari (500 mg/kapsul). Kadar gula darah puasa diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan GlucoDr. auto A (AGM-4000). Analisis data dilakukan dengan uji Shapiro–Wilk, Wilcoxon Signed Rank Test, dan Mann–Whitney U Test. Hasil: Pada kelompok sambiloto, rata-rata kadar gula darah puasa menurun dari 150.65 menjadi 131.50, sedangkan pada kelompok mengkudu dari 143.55 menjadi 131.45. Uji Wilcoxon menunjukkan penurunan yang signifikan pada kedua kelompok (p < 0.001), namun uji Mann–Whitney tidak menemukan perbedaan penurunan kadar gula darah puasa yang signifikan antara kedua intervensi (p = 0.061). Simpulan: Pemberian kapsul sambiloto dan kapsul mengkudu menurunkan kadar gula darah puasa secara signifikan pada lansia dengan diabetes melitus tipe 2. Namun, tidak terdapat perbedaan penurunan kadar gula darah yang signifikan antara kedua intervensi.   Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe 2; Gula Darah; Lansia; Mengkudu; Sambiloto.
Pengaruh brisk walking exercise terhadap fungsi kognitif pada pasien diabetes melitus tipe-2 Sahida Noor Aninda; Upik Rahmi; Sehabudin Salasa
Hik Vol. 20 No. 3 (2026): Volume 20 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i3.2897

Abstract

Background: The increasing prevalence of type 2 diabetes mellitus not only causes metabolic disorders but is also associated with decreased cognitive function, which can impair patients' quality of life. Aerobic physical activity, such as brisk walking, has the potential to improve glucose metabolism and cerebral blood flow, making it a simple intervention to improve cognitive function in patients with type 2 diabetes mellitus. However, evidence regarding its effectiveness on cognitive function in patients with type 2 diabetes mellitus in primary care settings is still limited. Purpose: To analyze the effectiveness of brisk walking exercise on cognitive function in patients with type 2 diabetes mellitus. Method: This quasi-experimental study, with a pre-test, post-test, and control group design, was conducted at the Kujangsari Community Health Center in Bandung City, in patients with type 2 diabetes mellitus for approximately 3 months (October-December 2025). The sample was selected using purposive sampling and divided into an intervention group and a control group. The intervention group participated in an 8-week brisk walking exercise program, while the control group received no intervention. Cognitive function was assessed using the Indonesian version of the MoCA-INA before and after the intervention. Data were analyzed using descriptive statistics, paired t-tests, and independent t-tests with a significance level of 0.05. Results: There was an increase in MoCA-INA cognitive function scores from 22.20 to 25.40 (a 3.20-point increase; p < 0.001) in the intervention group participating in brisk walking. In contrast, the control group showed no significant change in cognitive function (p = 0.072), with scores increasing from 20.90 to 20.10. Conclusion: Brisk walking is effective in improving cognitive function in patients with type 2 diabetes mellitus. This intervention can be an alternative, simple physical activity that helps improve cognitive health while supporting glycemic control in diabetes patients. Suggestion: Future research is recommended to develop a research design with a longer intervention duration and a larger sample size to provide a more comprehensive picture of the long-term effects of brisk walking exercise on cognitive function and glycemic control in patients with type 2 diabetes mellitus.   Keywords: Brisk Walking Exercise; Cognitive Function; Type 2 Diabetes Mellitus.   Pendahuluan: Meningkatnya prevalensi diabetes melitus tipe 2 tidak hanya menyebabkan gangguan metabolisme, tetapi juga dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif yang dapat mengganggu kualitas hidup pasien. Aktivitas fisik aerobik seperti brisk walking berpotensi untuk meningkatkan metabolisme glukosa dan aliran darah serebral, menjadikannya intervensi sederhana untuk meningkatkan fungsi kognitif pada pasien diabetes melitus tipe 2. Namun, bukti mengenai efektivitasnya terhadap fungsi kognitif pada pasien diabetes melitus tipe 2 di lingkungan perawatan primer masih terbatas. Tujuan: Untuk menganalisis efektivitas brisk walking exercise terhadap fungsi kognitif pada pasien diabetes melitus tipe 2. Metode: Penelitian quasi-experimental dengan pre-test post-test control groups design, dilakukan di UPTD Puskesmas Kujangsari Kota Bandung terhadap pasien dengan diabetes melitus tipe 2 selama kurang lebih 3 bulan (Oktober-Desember 2025). Sampel dipilih menggunakan purposive sampling dan dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Kelompok intervensi mengikuti program brisk walking exercise selama 8 minggu, sedangkan kelompok kontrol tidak menerima intervensi. Fungsi kognitif dinilai menggunakan Motreal Cognitive Assessment versi Indonesia (Moca-INA) sebelum dan sesudah intervensi. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji paired-t test, dan uji independen-t test dengan tingkat signifikansi 0.05. Hasil: Terdapat peningkatan skor fungsi kognitif MoCA-INA dari 22.20 menjadi 25.40 (peningkatan 3.20 poin; p < 0.001) pada kelompok intervensi yang melakukan brisk walking exercise. Sebaliknya, kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan signifikan pada fungsi kognitif (p = 0.072) dengan skor dari 20.90 menjadi 20.10. Simpulan: Brisk walking exercise efektif meningkatkan fungsi kognitif pada penderita diabetes melitus tipe 2. Intervensi ini dapat menjadi alternatif aktivitas fisik sederhana yang membantu meningkatkan kesehatan kognitif  sekaligus mendukung kontrol glikemik pada pasien diabetes. Saran: Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengembangkan desain penelitian dengan durasi intervensi yang lebih panjang serta jumlah sampel yang lebih besar agar dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai efek jangka panjang brisk walking exercise terhadap fungsi kognitif dan kontrol glikemik pada pasien diabetes melitus tipe 2.   Kata Kunci: Brisk Walking Exercise; Diabetes Melitus Tipe 2; Fungsi Kognitif.