Background: Hypertension is a significant global public health problem, often referred to as the "silent killer" because it is often asymptomatic, yet it is a major risk factor for cardiovascular disease. At the Type B Regional General Hospital in North Sulawesi Province, cases of hypertension increased dramatically, from 405 cases in 2022 to 5,243 cases in 2024. Stress is a crucial determinant of health, as it can trigger increased blood pressure through psychophysiological mechanisms. Purpose: To analyze the relationship between stress levels and blood pressure in outpatients. Method: This study used a cross-sectional, observational, and analytical design involving 137 outpatient respondents. The study was conducted at the Type B Regional General Hospital in North Sulawesi Province from 15th of September to 30th of October, 2025. Data on stress levels were collected using a questionnaire, and blood pressure was measured using a standard instrument. Data analysis used the Spearman's rho correlation test to determine the strength and direction of the relationship between variables in the population. Results: Respondents were predominantly of productive age (36–45 years) and female (55.5%). Univariate analysis showed that the majority of respondents had normal stress levels (72.3%) and normal blood pressure (53.3%), influenced by medication adherence. Bivariate analysis showed a significant association between stress levels and blood pressure (p=0.043) with a positive correlation (r=0.173), meaning that higher stress levels lead to higher blood pressure. Conclusion: From a public health perspective, non-pharmacological stress management programs and healthy lifestyle education are integral parts of primary health interventions to control the prevalence of hypertension in the community. Keywords: Blood Pressure; Hypertension; Outpatients; Stress Levels. Pendahuluan: Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat global yang signifikan, sering disebut sebagai “silent killer” karena sering kali tidak bergejala, namun menjadi faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Di RSUD Tipe B Provinsi Sulawesi Utara, terjadi lonjakan kasus hipertensi yang sangat drastis dari 405 kasus pada tahun 2022 menjadi 5,243 kasus pada tahun 2024. Salah satu determinan kesehatan yang krusial adalah stress karena melalui mekanisme psikofisiologis dapat memicu peningkatan tekanan darah. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara tingkat stres dengan tekanan darah pada pasien rawat jalan. Metode: Penelitian ini menggunakan studi observasional analitik dengan rancangan cross-sectional yang melibatkan 137 responden pasien rawat jalan. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Tipe B Provinsi Sulawesi Utara pada bulan 15 September – 30 Oktober 2025. Data tingkat stres dikumpulkan menggunakan kuesioner dan tekanan darah diukur dengan alat standar. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman’s rho untuk melihat kekuatan dan arah hubungan antarvariabel dalam populasi. Hasil: Karakteristik responden didominasi oleh kelompok usia produktif (36–45 tahun) dan perempuan (55.5%). Analisis univariat menunjukkan mayoritas responden berada pada tingkat stres normal (72.3%) dan tekanan darah normal (53.3%), dipengaruhi oleh perilaku kepatuhan pengobatan. Uji bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan tekanan darah (p= 0.043) dengan arah hubungan positif (r=0.173), berarti semakin tinggi tingkat stres, maka semakin tinggi tekanan darah. Simpulan: Berdasarkan perspektif kesehatan masyarakat, penguatan program manajemen stres nonfarmakologis, dan edukasi gaya hidup sehat sebagai bagian integral dari intervensi kesehatan primer untuk mengendalikan prevalensi hipertensi di masyarakat. Kata Kunci: Hipertensi; Pasien Rawat Jalan;Tekanan Darah; Tingkat Stres.