Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Kompetensi Profesional Guru Pendamping Khusus dalam Menangani Siswa Berkebutuhan Khusus di Sekolah Dasar Inklusif Eva Siswanti; La Ode Amril; Yusuf Safari
Jurnal Pengajaran Sekolah Dasar Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Pengajaran Sekolah Dasar
Publisher : EDUPEDIA PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56855/jpsd.v5i3.2384

Abstract

Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan inklusif sangat bergantung pada kesiapan Guru Pendamping Khusus (GPK) dalam mendampingi peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK). Persoalannya, mayoritas GPK di lapangan tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang Pendidikan Luar Biasa, sehingga kajian terhadap kompetensi profesional mereka menjadi penting untuk dilakukan. Studi ini bertujuan mengkaji bagaimana GPK merencanakan layanan pembelajaran, menjalankan proses pendampingan, dan mengembangkan kompetensi profesionalnya, dengan mengacu pada teori kompetensi guru, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009, konsep Program Pembelajaran Individual (PPI), serta teori reflektif Schön. Desain penelitian yang digunakan adalah studi kasus kualitatif yang dilaksanakan di sebuah sekolah dasar berbasis Islam penyelenggara pendidikan inklusif, dengan tiga GPK kelas III sebagai sumber data utama, dilengkapi guru kelas dan kepala sekolah sebagai sumber data pembanding. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan telaah dokumen, lalu diolah dengan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña serta diperkuat melalui triangulasi sumber. Temuan memperlihatkan bahwa ketiga GPK sanggup mengenali karakteristik masing-masing peserta didik, menyesuaikan materi dan media secara fleksibel, menerapkan pola pendampingan yang adaptif, menjalin kerja sama dengan guru kelas, serta rutin melakukan evaluasi dan refleksi atas praktik yang dijalankan, kendati kesempatan mengikuti pelatihan formal masih minim. Dapat disimpulkan bahwa kompetensi profesional GPK lebih banyak tumbuh dari pengalaman di lapangan, inisiatif belajar mandiri, dan kolaborasi antarprofesi, sehingga sekolah perlu menjadikan penguatan pelatihan formal serta pemerataan akses jaringan profesional sebagai agenda kebijakan prioritas.