Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Hubungan pengetahuan kesehatan reproduksi dan kesehatan mental terhadap sikap remaja dalam meningkatkan kesadaran hidup bersih dan sehat Susanti, Rosa; Mujahidah, Zakiyah
Jurnal Ilmu Kesehatan Bhakti Husada: Health Sciences Journal Vol. 14 No. 01 (2023): Jurnal Ilmu Kesehatan Bhakti Husada: Health Science Journal
Publisher : Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34305/jikbh.v14i01.699

Abstract

Latar Belakang: Periode yang kritis merupakan perubahan yang terjadi dari masa kanak-kanan ke masa dewasa dan eksplorasi berkaitan dengan seksual dan romantisme dimulai. Indeks pembangunan manusia merupakan salah satu tolak ukur keberhasilan suatu bangsa. Kualitas masyarakat yang sehat dan sejahtera merupakan keberhasilan suatu bangsa. sehingga diperlukannya upaya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat yang nantinya akan menentukan derajat keberhasilan pembangunan bangsa Indonesia. Selain mengenai kesehatan reproduksi sektor lain terpenting dalam mewujudkan kesehatan secara menyeluruh adalah kesehatan mental. Metode: Pada penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh hubungan pengetahuan kesehatan reproduksi dan kesehatan mental terhadap sikap remaja  dalam meningkatkan kesadaran hidup bersih dan sehat. Responden pada penelitian ini adalah Mahasiswa Keperawatan dan Kebidanan Universitas MH. Thamrin. Penelitian ini berlangsung selama 1 (satu) bulan. Data Pada penelitian yang digunakan adalah data primer, sedangkan teknik analisis menggunakan analisis univariat dan bivariat (Uji Chi Square). Hasil: Pada penelitian ini diketahui bahwa terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan kesehatan reproduksi dan kesehatan mental terhadap sikap remaja  dalam meningkatkan kesadaran hidup bersih dan sehat. Saran: Dari penelitian ini diperlukan penyuluhan terkait kesehatan reproduksi dan mental terhadap peningkatan kesadaran hidup bersih dan sehat.
Tingkat kecemasan anak dirawat di ruang pediatric intensive care unit Mujahidah, Zakiyah; Puspitasari, Feni Amelia; Pangestu, Dimas Aditya Dyah
Jurnal Praktik Dan Pendidikan Keperawatan Vol 5 No 1 (2024): Journal of Nursing Practice and Education
Publisher : Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Garawangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34305/jnpe.v5i1.1428

Abstract

Latar Belakang: Orang tua yang anaknya megalami hospitalisasi akan merasa takut dan cemas. Respon cemas dari orang tua berbeda beda, adapun faktor yang mempengaruhi cemas adalah usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan.Tujuan: Mengetahui hubungan karakteristik orang tua terhadap tingkat kecemasan  selama anak dirawat di ruang pediatric intensive care unit RS Bhayangkara TK I PUSDOKKES POLRI.Metode: Metode penelitian ini adalah korelasional. Sampel berjumlah 37 responden yang diambil secara Purposive sampling. Kecemasan orang tua diukur dengan Zung Self Rating Anxiety Scale. Data dianalisa menggunakan uji Chi-Square.Hasil: Karkteristik jenis kelamin perempuan sebanyak 67,6%. Karakteristik usia dengan usia muda sebanyak 70,3%. Karakteristik pendidikan dengan pendidikan tinggi sebanyak 78,4%. Karakteristik bekerja 70,3%. Dengan karakterisitik kecemasan  ringan sebanyak 58,6%. Dengan hasil terdapat hubungan antara Jenis kelamin, usia, pendidikan, dan pekerjaan orang tua dengan tingkat kecemasan orang tua.Kesimpulan: Dari penelitian ini di harapkan menjadi masukan bahwa orang tua yang anaknya mengalami hospitalisasi dapat mengalami kecemasan dan perlu mendapatkan asuhan keperawatan.
Acne Vulgaris dan perubahan harga diri Zakiyah Mujahidah; Suwarningsih Suharto; Irna Fitri
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 05 (2023): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v12i05.2239

Abstract

Acne vulgaris merupakan penyakit kulit yang muncul dan mendominasi bagian wajah dan mengganggu penampilan juga memberikan efek bagi perkembangan mental remaja. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk melihat korelasi antara usia, jenis kelamin, dan derajat keparahan acne vulgaris terhadap perubahan harga diri siswa SMAN 1 Setu Kabupaten Bekasi. Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain potong lintang. Jumlah populasi penelitian ini sebanyak 1.270 siswa dan responden yang dilibatkan sebagai sampel penelitian adalah 98 orang yang diambil menggunakan metode random sampling. Penghitungan berat ringannya acne vulgaris memakai Global Acne Grading System sementara pengukuran harga diri dengan The Rosenberg Self Esteem Scale. Hasil penelitian menunjukkan bahwa acne vulgaris paling banyak terjadi pada remaja pertengahan berusia 14-17 tahun dan jenis kelamin perempuan (52%) dengan derajat acne vulgaris paling banyak berada pada tingkatan ringan (73,5%). Selain itu, mayoritas responden tidak mengalami masalah yang berarti dengan harga dirinya selama mengalami acne vulgaris (87,8%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa usia (nilai p = 0,001), jenis kelamin (nilai p = 0,045), dan derajat keparahan acne vulgaris (nilai p = 0,001) berhubungan signifikan dengan harga diri remaja selama mengalami acne vulgaris.
Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Pasien Tuberkulosis Dengan Perilaku Pencegahan Penularan Penyakit Tuberkulosis Paru di Poli Paru Mujahidah, Zakiyah; Silalahi, Martha Katarina; Prestisia, Reftiana Puspita; Djubaidah, Siti
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 15 No 1 (2023): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/jik.v15i1.1103

Abstract

Latar Belakang: Penyakit Tuberkulosis merupakan penyakit menular langsung oleh Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis paru dapat ditularkan dari  individu ke individu lainnya melalui udara yang tercampur dengan bakteri serta makanan yang sudah terkontaminasi oleh penderita tuberkulosis paru. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap  dengan perilaku  pencegahan penyakit TB (Tuberkulosis) paru. Metode: Rancangan penelitian yang digunakan adalah metode cross sectional dan menggunakan total sampling. Penelitian ini dilaksanakan di Poli Paru pada  bulan Agustus 2021, dengan sampel sebanyak 120 orang. Hasil: Hasil dari penelitian ini diperoleh bahwa ada hubungan antara pengetahuan dan perlilaku pencegahan tuberkulosis paru ini ditujukan oleh nilai p value < 0,000 ( α = < 0,05) dan nilai OR = 1,619 (95% CI = 1,189 – 2,205). Ada hubungan antara sikap dan perilaku pencegahan penularan TB Paru ini ditujukan oleh nilai p value < 0,000 ( α = < 0,05) dan nilai OR = 1,648 (95% CI = 1,244 - 2,184). Kesimpulan: Penelitian ini menunjukan adanya hubungan antara pengetahuan  dan  sikap pasien TB dengan perilaku pencegahan penularan penyakit TB Paru.
Kebiasaan minum kopi dengan kejadian hipertensi Mujahidah, Zakiyah; Fina Aprilianita
Jurnal Praktik Dan Pendidikan Keperawatan Vol 6 No 01 (2025): Journal of Nursing Practice and Education
Publisher : Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Garawangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34305/yd5qm585

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang sering terjadi pada dewasa madya. Salah satu faktor yang dapat memengaruhinya adalah kebiasaan minum kopi yang mengandung kafein. Kafein diketahui meningkatkan tekanan darah melalui vasokonstriksi dan stimulasi sistem saraf. Tujuan Penelitian ini menganalisis hubungan antara kebiasaan minum kopi dengan kejadian hipertensi pada dewasa madya.Metode: Metode penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel dipilih dengan teknik purposive sampling sebanyak 91 responden usia 40-60 tahun di RW 009 Kelurahan Lengkong Wetan, Kota Tangerang Selatan. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pengukuran tekanan darah dianalisis menggunakan uji Chi-Square.Hasil: Hasil penelitian mayoritas responden minum kopi hampir setiap hari. Namun, hasil uji statistik menunjukkan p = 0,369 (>0,05), yang berarti tidak terdapat hubungan signifikan antara kebiasaan minum kopi dan hipertensi.Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara kebiasaan minum kopi dan hipertensi, karena hal ini bisa lebih dipengaruhi oleh faktor usia, keturunan, pola makan, dan kurangnya aktivitas fisik.
Analisis Formulasi Kue Kering Tinggi Protein sebagai Intervensi Gizi untuk Balita Stunting di Kota Tangerang Dewi, Maharani Kusuma; Paundrianagari, Meilita Dwi; Mujahidah, Zakiyah
Indonesian Journal of Thousand Literacies Vol. 2 No. 12 (2024): Indonesian Journal of a Thousand Literacy
Publisher : Nindikayla Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57254/ijtl.v2i12.74

Abstract

Stunting in toddlers is a chronic nutritional problem that requires comprehensive intervention. This study aims to analyze the formulation of high-protein cookies as a nutritional intervention for stunted toddlers in Tangerang City. This case study uses a descriptive approach by examining the composition of raw materials, the formulation process, physicochemical characteristics, and potential as a nutritional intervention. Data were obtained from document analysis, interviews with nutritionists and producers, and a literature review. The analysis results indicate that the high-protein cookie formulation has the potential to be an effective supplementary food, but requires attention to consumer acceptance and food safety. Key findings include the identification of optimal protein sources, nutrient proportions appropriate to the needs of stunted toddlers, and an evaluation of the potential positive impact on nutritional status. The study concludes that high-protein cookies have the potential to be an innovative solution in efforts to reduce stunting in Tangerang City, with the need for formulation improvements and further testing. Recommendations include sustainable product development, increased nutrition education, and policy support from the local government.
Parent-adolescent communication and adolescent mental health outcomes: A systematic review Saraswati, Dewa Ayu Sri; Mujahidah, Zakiyah; Komalasari, Oom
Lentera Perawat Vol. 7 No. 2 (2026): April - June
Publisher : School of Health Sciences Al-Ma'arif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52235/lp.v7i2.767

Abstract

Background: Parent-adolescent communication is an essential family process that may influence adolescent mental health outcomes, particularly during a developmental period marked by emotional, social, and behavioral transitions. Poor communication within the family may increase adolescents’ vulnerability to depression, anxiety, emotional difficulties, behavioral problems, suicidal ideation, and low psychological well-being. Objective: This systematic review aimed to synthesize current evidence on the relationship between parent-adolescent communication and adolescent mental health outcomes. Methods: This review followed the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses 2020 guideline. Literature searches were conducted in Scopus, ProQuest, PubMed, and SAGE Journals, with the final search completed in March 2026. Eligible studies were primary empirical articles published between 2015 and 2026 in English or Indonesian, involving adolescents aged 10–19 years or samples predominantly composed of adolescents. Study selection, quality appraisal, and data extraction were conducted independently by two reviewers, with disagreements resolved through discussion or consultation with a third reviewer. The Joanna Briggs Institute Critical Appraisal Checklists were used to assess methodological quality. A narrative synthesis was performed because of heterogeneity in study designs, populations, communication measures, and mental health outcomes. Results: Of 10,803 records initially identified, 10 studies were included in the final synthesis. The evidence showed that positive, open, consistent, and culturally sensitive parent-adolescent communication was associated with better adolescent mental health outcomes. Poor communication was linked to higher depressive symptoms, anxiety, emotional distress, behavioral problems, family conflict, and reduced treatment engagement. Communication also supported emotional disclosure, help-seeking behavior, parental care management during suicidal crises, and engagement in family-centered mental health interventions. Cultural context, digital exposure, parental mental health literacy, and structural barriers influenced the quality of communication. Conclusion: Parent-adolescent communication is a key protective factor for adolescent mental health. Family-centered prevention and clinical interventions should strengthen parental listening, emotional validation, mental health literacy, crisis response, and culturally responsive communication.