Artikel ini menganalisis relasi sekolah, keluarga, dan komunitas dalam membangun mutu pendidikan dan budaya lingkungan melalui perspektif sosiologi lembaga pendidikan. Masalah yang dikaji adalah partisipasi masyarakat di sekolah dasar yang sering hadir sebagai dukungan insidental dan belum dikelola sebagai sistem sosial yang terencana, terorganisasi, terlaksana, dan terevaluasi. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif multisitus pada SD Negeri 2 Lamuk dan SD Negeri 3 Krenceng, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, termasuk Rapor Pendidikan 2025 kedua sekolah. Hasil menunjukkan bahwa mutu pendidikan dan budaya lingkungan sekolah terbentuk melalui jejaring relasional antara kepala sekolah, guru, komite sekolah, orang tua, tokoh masyarakat, alumni, dan komunitas lokal. Relasi tersebut bekerja melalui tiga jalur: dukungan keluarga terhadap proses belajar, partisipasi komunitas dalam tata kelola sekolah, dan pembiasaan ekologis melalui kegiatan lingkungan. Skor partisipasi warga satuan pendidikan SD Negeri 2 Lamuk (88,84) jauh lebih tinggi daripada SD Negeri 3 Krenceng (65,84) yang turun 12,00 poin dari tahun sebelumnya, berdampingan dengan perbedaan capaian literasi, numerasi, dan karakter peserta didik. Perbedaan itu menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dipengaruhi oleh struktur sosial, ekonomi, komunikasi, dan budaya lokal. Sosiologi lembaga pendidikan memberi kerangka untuk memahami sekolah sebagai arena kolaboratif yang menghubungkan modal sosial keluarga, kepemimpinan sekolah, komite, dan komunitas. Keterbatasan penelitian ini adalah cakupan dua sekolah dan jumlah peserta asesmen yang kecil.