This study aims to analyze the representation of unity in Leila S. Chudori’s novel Laut Bercerita and its relevance to the social communication of young people. This research employs a descriptive qualitative approach using the documentation method. The research data consist of narratives, dialogues, and events in the novel related to solidarity, cooperation, social concern, and collective struggle. The data are analyzed using Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis, which encompasses three dimensions: text, discourse practice, and sociocultural practice. The findings show that the value of unity is represented through discussion activities, community assistance, the division of responsibilities, action coordination, and the expression of aspirations. These representations demonstrate that unity is not only manifested through togetherness but also through communication, concern for social issues, and cooperation to achieve common goals. From the perspective of Pancasila, these findings are related to the third principle, Unity of Indonesia. The relevance to young people’s social communication lies in the importance of building mutual understanding, respecting differences, expressing aspirations responsibly, and developing solidarity through both direct interaction and digital media. This study shows that the novel can serve as a source of reflection for understanding the relationship between social communication and the value of unity in society. Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi nilai persatuan dalam novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori dan relevansinya terhadap komunikasi sosial generasi muda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi dokumentasi. Data penelitian berupa narasi, dialog, dan peristiwa dalam novel yang berkaitan dengan solidaritas, kerjasama, kepedulian sosial, dan perjuangan kolektif. Data dianalisis menggunakan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough yang mencakup tiga dimensi, yaitu teks, praktik diskursif, dan praktik sosial. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai persatuan direpresentasikan melalui kegiatan diskusi, pendampingan masyarakat, pembagian tanggung jawab, koordinasi aksi, dan penyampaian aspirasi. Representasi tersebut memperlihatkan bahwa persatuan tidak hanya diwujudkan melalui kebersamaan, tetapi juga melalui komunikasi, kepedulian terhadap persoalan sosial, dan kerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam perspektif Pancasila, temuan tersebut berkaitan dengan sila ketiga, yaitu Persatuan Indonesia. Relevansinya terhadap komunikasi sosial generasi muda terletak pada pentingnya membangun pemahaman bersama, menghargai perbedaan, menyampaikan aspirasi secara bertanggung jawab, dan mengembangkan solidaritas melalui interaksi langsung maupun media digital. Penelitian ini menunjukkan bahwa novel dapat menjadi bahan refleksi untuk memahami hubungan antara komunikasi sosial dan nilai persatuan dalam kehidupan masyarakat.