Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengaruh Work Life Balance terhadap Withdrawal Behavior dengan Job Dissatisfaction sebagai Variabel Mediasi (Studi Kasus pada Dinas Tenaga Kerja Kota Semarang) Latifah Febriyaningrum; Rauly Sijabat; Ika Indriasari
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.13376

Abstract

Withdrawal behavior menjadi persoalan penting dalam manajemen sumber daya manusia sektor publik karena dapat menurunkan kualitas layanan, keterlibatan pegawai, dan pencapaian target organisasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh work-life balance terhadap withdrawal behavior dengan job dissatisfaction sebagai variabel mediasi pada Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Tenaga Kerja Kota Semarang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian asosiatif kausal. Populasi penelitian berjumlah 71 pegawai dan seluruh anggota populasi dijadikan sampel melalui teknik sampling jenuh. Data primer dikumpulkan menggunakan kuesioner berskala Likert dan dianalisis dengan Structural Equation Modelling berbasis Partial Least Square (SEM-PLS) menggunakan SmartPLS 4.0. Evaluasi model dilakukan melalui pengujian outer model, inner model, dan bootstrapping untuk menguji pengaruh langsung serta tidak langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa work-life balance tidak berpengaruh signifikan secara langsung terhadap withdrawal behavior. Job dissatisfaction terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap withdrawal behavior, sedangkan work-life balance berpengaruh negatif dan signifikan terhadap job dissatisfaction. Pengujian pengaruh tidak langsung menunjukkan bahwa work-life balance berpengaruh negatif dan signifikan terhadap withdrawal behavior melalui job dissatisfaction, sehingga job dissatisfaction berperan sebagai mediasi penuh. Temuan ini menegaskan bahwa upaya menekan withdrawal behavior lebih efektif dilakukan dengan mengurangi job dissatisfaction melalui kebijakan yang mendukung keseimbangan kehidupan kerja, kejelasan kebijakan, hubungan kerja yang baik, rasa aman, dan perhatian terhadap kondisi kerja pegawai.