Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI SEL FITOPLANKTON (Tetraselmis chuii) DAN FERMENTASI BAHAN ORGANIK (AMPAS TAHU, BEKATUL DAN TEPUNG IKAN) PERTUMBUHAN DAN REPRODUKSI Diaphanosoma brachyurum Adhinugroho, Istiaji; Suminto, - -; Susilowati, Titik
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.444 KB)

Abstract

Diaphanosoma brachyurum merupakan salah satu jenis pakan alami jenis cladocera yang memiliki potensi untuk dijadikan sebagai pakan alami untuk larva ikan ataupun udang. Kajian terhadap pengkayaan D. brachyurum melalui pemberian sel fitoplankton dan fermentasi bahan dengan tujuan untuk menunjang pertumbuhan dan reproduksi belum banyak dilakukan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi pakan sel fitoplankton dan fermentasi bahan organik (ampas tahu, bekatul dan tepung ikan) terhadap pertumbuhan dan reproduksi D. brachyurum serta untuk mengetahui persentase dosis kombinasi pakan yang memberikan pertumbuhan reproduksi D. brachyurum terbaik. Metode yang diterapkan dalam penelitian yaitu eksperimen laboratoris melalui penggunaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga kali ulangan. Kultur D. brachyurum  dilakukan dalam botol kaca dengan volume media 20 mL dan kepadatan awal D. brachyurum yang digunakan yaitu 1 ind/mL dengan kondisi salinitas 25 ppt, suhu 25 oC, pH 7 dan intensitas cahaya 1500 – 1800 lux dengan penyinaran selama 24 jam. Pemeliharaan D. brachyurum dilakukan selama 21 hari. Perlakuan dalam penelitian ini yaitu Perlakuan A (100% fitoplankton); Perlakuan B (75% fitoplankton : 25% bahan organik); Perlakuan C (50% fitoplankton :  50% bahan organik); Perlakuan D (25% fitoplankton : 75% bahan organik); dan Perlakuan  E (100% bahan organik). Sel fitoplankton yang digunakan pada penelitian yaitu Tetraselmsi chuii dan bahan organik yang digunakan yaitu meliputi ampas tahu, bekatul dan tepung ikan dengan persentase perbandingan masing-masing bahan 35% : 35% : 30%. Variabel yang diamati pada penelitian ini yaitu meliputi kepadatan total (stadia neonates (anakan), juvenile dan dewasa), laju pertumbuhan, produksi telur dan produksi anakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi pakan sel fitoplankton dan fermentasi bahan organik berpengaruh nyata (α<0,05) terhadap pertumbuhan dan reproduksi D. brachyurum. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa persentase dosis kombinasi pakan sel fitoplankton dan bahan organik 50% : 50%  memberikan hasil performa pertumbuhan terbaik dengan nilai  kepadatan total mencapai 38,18±3,595 ind/mL (stadia anakan 4,93±0,465 ind/mL, stadia juvenile 4,60±0,805 ind/mL dan stadia dewasa 14,60±0,953 ind/mL); laju pertumbuhan 0,182±0,005 /hari; produksi telur 2,418±0,031 telur/ind; dan produksi anakan dalam induk 2,407±0,031 /ind. Diaphanosoma brachyurum is one of potential live food organism that used for fish and shrimp larvae. The study of D. brachyurum enrichment by extending combination phytoplankton cell and fermented organic matters has not been conducted. This study aimed to determine the effect of combination of phytoplankton cell and fermented organic matters (tofu waste, rice bran and fish meal) on the growth and reproduction of D. brachyurum and the best percentage of dose of phytoplankton cell and fermented organic matters that supported the growth and reproduction of D. brachyurum. The method of this study was experimental laboratory by using completely randomized design (CRD) with five treatments and three replicates. The culture was conducted in bottle glass with 20 mL volume of culture media and the initial density of D. brachyurum was 1 ind/mL and maintained in controlled environmental condition which temperature was 25 oC; salinity 25 ppt; pH 7; and light intensity 1500 – 1800 lux with 24 hours photoperiod. The maintenance was carried out for 21 days. The treatments of this study were A (100% phytoplankton); B (75% phytoplankton :  25% fermented organic matters); C (50% phytoplankton : 50% fermented organic matters); D (25% phytoplankton : 75% fermented organic matters); and E (100% fermented organic matters). Tetraselmis chuii used as live food in this study. Fermented organic matters consisted of tofu waste, rice bran and fish meal with its  percentage for each material was 35% : 35% : 30%. The measured variables in this study were total density of D. brachyurum which consisted of few stages (nenonates, juvenile, and adult, egg-laying adult, adult with embryo), population growth rate, egg production and neonates production. The results of this study indicated that the effect of combination of phytoplankton cell and fermented organic matters were significantly different (α<0,05) on the growth and reproduction of D. brachyurum. The results of this study concluded that 50% : 50% percentage of dose of phytoplankton cell and fermented organic matters was the best for supporting growth performance with its total density reached to 38,18±3,595 ind/mL (neonates 4,93±0,465 ind/mL, juvenile 4,60±0,805 ind/mL, adult 14,60±0,953 ind/mL, egg-laying adult 14,60±0,953 ind/mL and adult with embryo 9,35±1,800 ind/mL); population growth rate 0,182±0,005 /day; egg production 2,418±0,031 egg/ind; and neonate production 2,407±0,031 /ind
PENGARUH PENAMBAHAN ENZIM PAPAIN PADA PAKAN KOMERSIAL TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, LAJU PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN SIDAT (Anguilla bicolor) Sagita, Fadil; Rachmawati, Diana; Suminto, - -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.344 KB)

Abstract

Ikan sidat (Anguilla bicolor) merupakan jenis ikan yang memiliki pertumbuhan lambat karena daya cernanya yang rendah. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pencernaan pakan adalah dengan penambahan enzim eksogenus ke dalam pakan ikan sidat. Enzim eksogenus yang sering ditambahkan ke dalam pakan adalah enzim papain. Penambahan enzim papain pada pakan komersial diduga dapat mengoptimalkan pencernaan ikan sidat (A. bicolor) melalui aktivitas proteolitiknya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh dan dosis terbaik penambahan enzim papain pada pakan komersial terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan dan kelulushidupan ikan sidat (A. bicolor). Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah elver ikan sidat (A. bicolor) sebanyak 120 ekor dengan bobot rata – rata 6,05±1,17 g/ekor. Wadah pemeliharaan yang digunakan berupa akuarium dengan volume 70 liter sebanyak 12 buah. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental RAL dengan satu faktor yaitu dosis enzim papain berbeda yang diulang sebanyak tiga kali. Perlakuan yang digunakan adalah A (dosis enzim papain  0%/kg pakan), B (dosis enzim papain 0,85%/kg pakan), C (dosis enzim papain 1,70%/kg pakan), dan D (dosis enzim papain 3,40%/kg pakan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan enzim papain pada pakan berpengaruh nyata terhadap EPP, PER, dan RGR (Sig.<0,05). Perlakuan penambahan dosis enzim papain terbaik adalah perlakuan D (dosis enzim papain 3,40%/kg pakan) yang menghasilkan nilai EPP sebesar 59,12±1,74%, PER sebesar 1,74±0,05%, dan RGR sebesar 1,59±0,10%/hari. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk pemeliharaan ikan uji. Freshwater eel (Anguilla bicolor) is a type of fish that has slow growth due to low digestibility. One effort that can be done to improve the digestion of feed is by the addition of exogenous enzymes into the eel feed. Exogenous enzyme that are often added to the feed is papain enzymes. The addition of papain enzyme into commercial feed is expected to optimize freshwater eel’s digestion through its proteolytic activities. The purpose of this study is to know the effect and the best dose of papain enzyme addition into commercial feed on feed efficiency, growth rate and survival rate of freshwater eel (A. bicolor). The test fish used in this study is elver freshwater eel  as much as 120 fish with average weight 6,05±1,17 g/fish. As many as 120 aquariums with a volume of 70 liters is used as a culture container in this study. The study was conducted by experimental method of completely randomized design with one factor that is the different dose of papain enzyme which is repeated three times. The treatment used were A (dose of enzyme papain 0%/kg feed), B (dose of enzyme papain 0,85%/kg feed), C (dose of enzyme papain 1,70%/kg feed), and D (dose of enzyme papain 3,40%/kg feed). The study result showed that the addition enzyme papain in feed had significantly effect on EPP, PER and RGR (Sig.<0,05). The best treatment is treatment D (dose of papain enzyme 3,40%/kg feed) which is produce EPP values of 59,12±1,74%, PER of 1,74±0,05%, and RGR of 1,59±0,10%/day. Water quality in media is within a reasonable range for the culture of test fish.
PEMANFAATAN EKSTRAK UBI JALAR (Ipomoea batatas var Ayumurasaki) DALAM PAKAN UNTUK PERFORMA WARNA TUBUH, PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN RAINBOW (Melanotaenia praecox) Yaeni, Tri; Suminto, - -; Yuniarti, Tristiana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (798.156 KB)

Abstract

Ikan rainbow sangat berpeluang baik dalam pasar lokal maupun ekspor. Salah satu faktor yang mempengaruhi nilai ekonomis ikan rainbow adalah warna. Warna pada tubuh ikan dihasilkan dari pakan yang mengandung karotenoid. Ubi jalar merupakan salah satu tanaman yang mengandung betakaroten. Kadungan betakaroten dari 100 gram ubi jalar adalah 9900 µg. Penelitian  ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak ubi jalar ungu terhadap peforma warna tubuh, pertumbuhan, kelulushidupan serta dosis yang terbaik. Penelitian dilaksanakan di Balai Benih Ikan Siwarak, Ungaran menggunakan metode penelitian rancangan acak lengkap 4 perlakuan dan 3 ulangan. Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan rainbow berumur ± 2 bulan dengan bobot rata-rata 0,12±0,01 g/ekor. Dosis yang digunakan adalah perlakuan A tanpa penambahan ekstrak ubi jalar ungu, perlakuan B 100 mg/kg, perlakuan C 200 mg/kg dan perlakuan D 300 mg/kg. Analisis data menggunakan ANNOVA, apabila terdapat perbedaan yang nyata maka dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan ekstrak ubi jalar ungu dalam pakan memberikan selisih nilai derajat hue sebesar 17,93±0,92 dan hasil terbaik pada penambahan ekstrak ubi jalar 200 mg/kg. Hasil pertumbuhan dan kelulushidupan terbaik pada perlakuan B sebesar 1,98%±0,44 dan 85,71%±14,29. Nilai Kualitas air selama penelitian masih berada dalam kisaran yang layak yaitu suhu 24-280C; pH 7-8; DO > 4 mg/L. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan ekstrak ubi jalar ungu kedalam pakan dengan dosis yang berbeda memberikan pengaruh nyata terhadap peningkatan peforma warna tubuh, efisiensi pemanfatan pakan dan tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan, kelulushidupan ikan rainbow. Rainbow fish which  have very good opportunity either in local or export markets. One of the that influence the economic value is its color. The color in its body produced by fishmeal which contains carotenoind. Sweet potatto is one of plants which has betacaroten that parts of carotenoid. The betacarotene contain from 100 grams sweet pottato is 9900 µg. This research aim to know the influnce extracted sweet potatto addition towards the body color performance , growth, survival rate, and proper the best dosage of the treatments. This research was held in Siwarak broodstock centre, Ungaran used experiment methods which  Completely Randomized Design with 4 treatments and 3 times of repetitions. The sample fish was rainbow fish aged of ±2 months which have average weight of 0,12±0,01 g/each. Dosages which used were treatment A without extracted sweet pottato, Treatment B 100 mg/kg, treatment C 200 mg/kg, treatment D 300 mg/kg. Data analysis used was ANOVA, if there was difference then continued with Duncan test. The result of this research showed that extracted sweet pottato addition in fishmeal gave hue gap value with the best was treatment 17,93±0,92 and the best treatment 200 mg/kg. The best growth rate and survival rate result given by treatment D 1,98%±0,18 and  85,71%±14,29. Water quality during the research still in the proper state, that were temperature as 24-280C; pH 7-8; DO > 4 mg/L. Conclusion gained in the research was extracted sweet pottato in the fishmeal with different dosages gave significant difference towards the color performance increasing, feed efficiency and did not gave any difference towards on growth and survival rate.