p-Index From 2021 - 2026
0.562
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Logistik
Anwar
Program Studi Teknik Industri, Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh, Indonesia Aceh 24355

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISIS KINERJA WAITING TIME PILOT DAN SERVICE TIME PADA BERBAGAI SEGMEN OPERASIONAL DI KUALA TANJUNG MULTIPURPOSE TERMINAL Anwar; Nika Manik
LOGISTIK Vol. 19 No. 02 (2026): Logistik
Publisher : Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/logistik.v19i02.70956

Abstract

Terminal Multipurpose Kuala Tanjung (KTMT) merupakan salah satu simpul pelabuhan strategis di Sumatera Utara yang melayani berbagai jenis komoditas muatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan menganalisis kinerja pelayanan kapal berdasarkan indikator Waiting Time Pilot dan Service Time. Indikator Service Time tersebut mencakup variabel Berthing Time (BT), Berth Working Time (BWT), Effective Time (ET), Idle Time (IT), Non Operating Time (NOT), serta rasio ET/BT sepanjang tahun 2025. Metode penelitian yang diterapkan adalah deskriptif kuantitatif dengan menganalisis data kinerja operasional kapal secara triwulanan. Sumber data penelitian berasal dari laporan resmi kinerja operasional pelayanan bongkar muat kapal di KTMT tahun 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Waiting Time Pilot mencatatkan angka sebesar 0 menit dari total 1.094 pergerakan kapal. Sementara itu, indikator Service Time mengindikasikan adanya variasi kinerja yang signifikan antarsegmen terminal berdasarkan kriteria BT, BWT, ET, IT, NOT, dan rasio ET/BT. Sebagai ilustrasi, pada segmen General Cargo Internasional, laporan kinerja mencatat rata-rata BT sebesar 120 jam/kapal, BWT 72 jam/kapal, ET 62 jam/kapal, IT 10 jam/kapal, NOT 48 jam/kapal, dan rasio ET/BT sebesar 52%. Temuan ini mengindikasikan adanya perbedaan efektivitas waktu pelayanan kapal antarsegmen terminal. Oleh karena itu, evaluasi secara mendalam terhadap komponen waktu operasi sangat diperlukan guna mengidentifikasi titik-titik pelayanan yang memiliki tingkat kinerja relatif lebih rendah.
OPTIMASI PENGENDALIAN PERSEDIAAN MATERIAL MINIATURE CIRCUIT BREAKER (MCB) MENGGUNAKAN METODE ECONOMIC ORDER QUANTITY (EOQ) PADA PT PLN (PERSERO) UP3 RANTAU PRAPAT Anwar; Amanda Renata Sari
LOGISTIK Vol. 19 No. 02 (2026): Logistik
Publisher : Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/logistik.v19i02.70976

Abstract

Persediaan material Miniature Circuit Breaker (MCB) merupakan aspek penting dalam operasional PT PLN (Persero) UP3 Rantau Prapat guna menjamin kelancaran pelayanan kepada pelanggan. Kebijakan persediaan yang belum mencapai tingkat efisiensi atau keseimbangan yang ideal dalam pengelolaannya berpotensi mengakibatkan terjadinya kelebihan persediaan (overstock) maupun kekurangan persediaan (understock) seperti yang terjadi pada bulan Maret 2025 ketika stok akhir MCB hanya tersisa 183 unit. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menetapkan jumlah pemesanan material MCB yang paling efisien dan tepat, menganalisis efektivitas pengendalian persediaan dalam mengurangi risiko overstock dan understock, serta menetapkan waktu yang tepat untuk melakukan pemesanan ulang (reorder point) yang tepat agar ketersediaan material tetap terjaga. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah Economic Order Quantity (EOQ), yaitu suatu model kuantitatif dalam manajemen persediaan yang bertujuan untuk meminimalkan total biaya persediaan dengan cara menyeimbangkan antara biaya pemesanan dan biaya penyimpanan. Data yang digunakan dalam penelitian ini mencakup total penggunaan tahunan, biaya pemesanan, serta biaya penyimpanan material MCB selama periode penelitian berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kuantitas pesanan optimal menurut metode EOQ adalah sebanyak 441 unit per pesanan, dengan total penggunaan tahunan sebesar 3.506 unit, biaya pemesanan sebesar Rp. 25.000 per pesanan, dan biaya penyimpanan sebesar Rp. 900 per unit per tahun. Penerapan EOQ menghasilkan total biaya persediaan sebesar Rp. 397.202 per tahun, yang lebih rendah dibandingkan dengan kebijakan perusahaan sebesar Rp. 512.994 per tahun, sehingga terdapat penghematan sebesar 22,57%. Frekuensi pemesanan optimal yang dihasilkan adalah 8 kali per tahun. Titik pemesanan kembali (reorder point) yang tepat ditentukan pada saat stok mencapai 178 unit, dengan mempertimbangkan rata-rata pemakaian bulanan sebesar 292,16 unit, lead time pengadaan 0,5 bulan, dan Safety Stock sebesar 32 unit. Dengan demikian, penerapan metode EOQ berpotensi meningkatkan efisiensi biaya persediaan sekaligus menjaga ketersediaan material MCB secara lebih terorganisir dan terukur.
Analysis ANALISIS PENEMPATAN BARANG KONSUMSI DENGAN METODE FSN ANALYSIS DAN CLASS BASED STORAGE UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PROSES PENGAMBILAN DI GUDANG PT. ARD Annurdillah Rovika Dewi; Khairul Anshar; Anwar
LOGISTIK Vol. 19 No. 02 (2026): Logistik
Publisher : Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/logistik.v19i02.71606

Abstract

Penempatan barang yang belum mempertimbangkan tingkat pergerakan menyebabkan proses pengambilan barang di gudang menjadi kurang efisien dan dapat meningkatkan waktu operasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penempatan barang konsumsi di gudang PT. ARD menggunakan metode Fast, Slow, Non-Moving (FSN) Analysis dan Class Based Storage (CBS) guna meningkatkan efisiensi penyimpanan dan proses pengambilan barang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan memanfaatkan data persediaan periode Januari–Desember 2025 yang meliputi persediaan awal, barang masuk, barang keluar, persediaan akhir, ukuran produk, stok maksimum, serta waktu pengambilan barang. Klasifikasi FSN dilakukan berdasarkan nilai Turn Over Ratio (TOR), kemudian hasil klasifikasi digunakan sebagai dasar dalam menentukan kebutuhan area penyimpanan dan pembagian blok menggunakan metode CBS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 64 jenis produk, terdapat 30 produk kategori fast moving, 20 produk kategori slow moving, dan 14 produk kategori non-moving. Total kebutuhan area penyimpanan sebesar 270,2696 m² atau sekitar 31,80% dari luas gudang sebesar 850 m². Total jarak perpindahan sebelum perbaikan tata letak sebesar 115.357,92 meter/tahun, kemudian menurun menjadi 68.593,00 meter/tahun setelah dilakukan penempatan barang berdasarkan tingkat pergerakan. Dengan demikian, terjadi pengurangan jarak sebesar 46.764,92 meter/tahun dan diperoleh efisiensi jarak sebesar 40,54%. Total waktu picking sebelum dilakukan perbaikan tata letak mencapai 20.818 menit/tahun atau sekitar 346 jam 58 menit, sedangkan setelah penerapan usulan penempatan berdasarkan tingkat pergerakan barang, total waktu picking menurun menjadi 9.397 menit/tahun atau sekitar 156 jam 37 menit. Dengan demikian, terjadi pengurangan waktu sebesar 11.421 menit/tahun atau sekitar 190 jam 21 menit. Berdasarkan perhitungan efisiensi, penurunan tersebut menghasilkan efisiensi waktu picking sebesar 54,86%. Sehingga kapasitas gudang masih mampu mengakomodasi seluruh kebutuhan penyimpanan. Berdasarkan hasil analisis, produk fast moving direkomendasikan ditempatkan pada area depan gudang, produk slow moving pada area tengah, sedangkan produk non-moving ditempatkan pada area belakang. Penempatan berdasarkan tingkat pergerakan tersebut diharapkan dapat memperpendek jarak tempuh operator, mengurangi waktu pengambilan barang, serta meningkatkan keteraturan dan efisiensi pemanfaatan ruang penyimpanan.