Lina Natamiharja
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PERBEDAAN PENURUNAN SKOR PLAK ANTARA PENYIKATAN GIGI DENGAN CARA MEMEGANG SIKAT GIGI TEKNIK DISTAL OBLIQUE, SPOON, DAN POWER GRIP: DIFFERENCES OF PLAQUE SCORE REDUCED BETWEEN BRUSHING TEETH BY HOLDING TOOTH BRUSH DISTAL OBLIQUE, SPOON AND POWER GRIP TECHNIQUE Lina Natamiharja; Chrisnatalio Sitinjak
Dentika: Dental Journal Vol. 17 No. 3 (2013): Dentika Dental Journal
Publisher : TALENTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.326 KB) | DOI: 10.32734/dentika.v17i3.1705

Abstract

Kontrol plak secara mekanis telah terbukti merupakan cara yang paling praktis dan efektif untuk mencapai dan menjaga kebersihan mulut. Beals dkk. menyatakan ada 4 macam cara memegang sikat gigi yaitu distal oblique, oblique, power, precision dan spoon grip. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara memegang sikat gigi mana yang paling efektif dalam menyingkirkan plak. Desain penelitian ini adalah “pre and post test group”. Sebanyak 90 orang mahasiswa FKG-USU dibagi secara random menjadi 3 kelompok yaitu yang menyikat gigi dengan cara memegang sikat gigi spoon grip, distal oblique grip dan power grip. Sebelum menyikat gigi, peserta dilatih cara memegang sikat gigi pada model gigi. Kemudian diminta mengunyah biskuit selama 1 menit dan berkumur air selama 15 detik. Kemudian dilakukan pemeriksaan skor plak dengan indeks plak Loe dan Silness dan menggunakan pewarna plak. Selanjutnya diminta untuk menyikat gigi selama 2 menit dengan sikat gigi merek Pepsodent tanpa pasta gigi sesuai dengan kelompok cara memegang sikat gigi. Setelah itu diinstruksikan berkumur selama 15 detik dan dilanjutkan dengan pemeriksaan skor plak. Analisis data dilakukan dengan Uji Anova. Hasil penelitian menunjukkan pada ketiga kelompok ada penurunan skor plak yang berbeda, menyikat gigi dengan cara memegang sikat gigi distal oblique selisih skor plaknya 0,58 ± 0,28, spoon grip 0,20 ± 0,19 dan power grip 0,51 ± 0,20. Secara statistik ada perbedaan bermakna (p= 0,000). Sebagai kesimpulan, menyikat gigi dengan cara memegang sikat distal oblique lebih efektif dibandingkan dengan spoon dan power grip dalam menurunkan skor plak.
PERBEDAAN PENURUNAN SKOR PLAK ANTARA MENGUNYAH BUAH APEL DAN JAMBU BIJI PADA SISWA SMP NEGERI: DIFFERENCE OF PLAQUE SCORE DECREASING BETWEEN CHEWING APPLE AND GUAVA IN GOVERNMENT JUNIOR HIGH SCHOOL Lina Natamiharja; Evawati Sitorus
Dentika: Dental Journal Vol. 17 No. 3 (2013): Dentika Dental Journal
Publisher : TALENTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.064 KB) | DOI: 10.32734/dentika.v17i3.1730

Abstract

Plak merupakan faktor etiologi utama terjadinya karies dan penyakit periodontal. Beberapa buah segar, setengah matang, berair, dan berserat dapat menurunkan indeks plak, seperti buah apel dan jambu biji. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan penurunan skor plak setelah mengunyah buah apel dan jambu biji dibandingkan dengan menyikat gigi. Rancangan penelitian adalah pre and post test group design. Jumlah sampel adalah 60 siswa dan dibagi menjadi 3 kelompok secara random yaitu kelompok mengunyah buah apel, mengunyah buah jambu biji dan menyikat gigi (sebagai kontrol). Yang mana masing-masing kelompok terdiri atas 20 siswa. Analisis data menggunakan uji Anova. Hasil penelitian menunjukkan rerata skor plak sebelum mengunyah buah apel adalah 1,21 ± 0,33, sesudah mengunyah buah apel 0,95 ± 0,30. Rerata skor plak sebelum mengunyah buah jambu biji adalah 1,69 ± 0,31, sesudah mengunyah buah jambu biji 1,11 ± 0,33. Rerata skor plak sebelum menyikat gigi adalah 1,92 ± 0,34, sesudah menyikat gigi 1,01 ± 0,35. Ada perbedaan yang bermakna rerata skor plak sebelum dan sesudah mengunyah buah apel, mengunyah buah jambu biji dan menyikat gigi (p< 0,05). Selisih rerata skor plak sebelum dan sesudah mengunyah buah apel adalah 0,25 ± 0,10, mengunyah buah jambu biji 0,57 ± 0,14 dan menyikat gigi 0,90 ± 0,21. Secara statistik ada perbedaan yang bermakna (p< 0,001). Sebagai kesimpulan, mengunyah jambu biji lebih baik dalam menurunkan skor plak dibandingkan dengan mengunyah buah apel, tetapi menyikat gigi paling efektif dalam menurunkan skor plak.
HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN STATUS PERIODONTAL TUKANG BECAK DI SEKITAR KAMPUS USU MEDAN: RELATIONSHIP BETWEEN SMOKING AND PERIODONTAL STATUS OF PEDICAP RIDER AROUND USU CAMPUS MEDAN Rika Alamsyah; Lina Natamiharja; Rizka Handayani
Dentika: Dental Journal Vol. 17 No. 2 (2012): Dentika Dental Journal
Publisher : TALENTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.173 KB) | DOI: 10.32734/dentika.v17i2.1757

Abstract

Konsumsi rokok di Indonesia meningkat setiap tahunnya. Riskesdas 2007 menggambarkan prevalensi merokokpenduduk Indonesia adalah 24%. Merokok merupakan salah satu faktor risiko penyakit periodontal. Penelitian inibertujuan untuk melihat hubungan kebiasaan merokok terhadap ststus periodontal yang terdiri atas oral higiene,perdarahan gingiva dan indeks periodontal pada tukang becak di sekitar kampus USU. Rancangan penelitian adalah crosssectional. Populasi penelitian adalah tukang becak yang mempunyai kebiasaan merokok dan tidak merokok. Jumlahsampel adalah 115 sampel. Sampel diambil dengan cara purposive sampling sesuai ciri-ciri kriteria inklusi. Hasilpenelitian menunjukkan prevalensi tukang becak yang merokok adalah 60,9% dan yang tidak merokok 39,1%. Rerataindeks oral higiene responden yang merokok adalah 4,54 + 1,05. Rerata indeks perdarahan gingiva responden yangmerokok adalah 0,25 + 0,26. Rerata indeks periodontal responden yang merokok adalah 3,46 + 1,67. Ada perbedaan yangbermakna indeks oral higiene, perdarahan gingiva dan indeks periodontal antara responden yang merokok dan tidakmerokok (p= 0,000). Ada hubungan antara jumlah rokok terhadap indeks oral higiene, perdarahan gingiva dan indeksperiodontal (p= 0,000). Ada hubungan yang bermakna antara lama merokok terhadap indeks oral higiene, perdarahangingiva dan indeks periodontal (p= 0,000). Sebagai kesimpulan, ada perbedaan status periodontal perokok dan bukanperokok, terdapat hubungan jumlah batang rokok yang dihisap terhadap status periodontal serta hubungan lama merokokterhadap status periodontal.
PERBEDAAN SKOR PERIODONTAL PASIEN PNEUMONIA DAN TIDAK MENDERITA PNEUMONIA DI TIGA RUMAH SAKIT MEDAN : PERIODONTAL SCORE DIFFERENCE OF PNEUMONIA PATIENT AND WITHOUT PNEUMONIA IN THREE HOSPITALS MEDAN Lina Natamiharja; Handini Naibaho
Dentika: Dental Journal Vol. 17 No. 4 (2013): Dentika Dental Journal
Publisher : TALENTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.013 KB) | DOI: 10.32734/dentika.v17i4.1788

Abstract

Pneumonia merupakan peradangan yang mengenai parenkim paru yang dapat terjadi akibat aspirasi bahan-bahan yang terdapat di nasofaring dan orofaring. Gigi dan jaringan periodontal dapat berperan sebagai tempat bermulanya infeksi pernafasan. Bakteri anaerob penyebab pneumonia banyak ditemukan pada plak dental, khususnya pada pasien dengan penyakit periodontal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rerata skor periodontal pasien pneumonia dan tidak menderita pneumonia. Rancangan penelitian adalah kasus kontrol. Populasi pada penelitian ini adalah pasien pneumonia yang sedang berobat di Poli Paru dan bukan pneumonia di Poli Mata RSUD dr. Pirngadi, RSUP H.Adam Malik dan RS Martha Friska. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling, diambil sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah responden adalah 66 orang yakni 33 responden penderita pneumonia (kasus) dan 33 responden yang tidak menderita pneumonia (kontrol). Pengumpulan data tentang skor periodontal dilakukan dengan cara pemeriksaan klinis menggunakan Indeks Periodontal oleh Ramfjord. Analisis perbedaan rerata skor periodontal pasien pneumonia dan tidak menderita pneumonia dilakukan dengan uji t tidak berpasangan (t-test unpaired). Hasil penelitian menunjukkan rerata skor periodontal pasien penderita pneumonia adalah 2,73 ± 0,48 dan rerata skor periodontal pasien yang tidak menderita pneumonia adalah 1,37 ± 0,89. Rerata skor periodontal pasien yang menderita pneumonia lebih tinggi dari rerata skor periodontal pasien yang tidak menderita pneumonia. Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara rerata skor periodontal pasien pneumonia dan tidak menderita pneumonia (p= 0,014).
PERAN ORANGTUA TERHADAP PEMELIHARAAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT ANAK DAN STATUS KESEHATAN GIGI DAN MULUT ANAK KELAS II SD MEDAN : PARENT’S ROLE OF DENTAL ORAL HEALTH CARE AND DENTAL HEALTH STATUS OF THE SECOND GRADE STUDENT IN MEDAN Lina Natamiharja; Margaret
Dentika: Dental Journal Vol. 16 No. 2 (2011): Dentika Dental Journal
Publisher : TALENTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8.196 KB) | DOI: 10.32734/dentika.v16i2.1863

Abstract

The main problem of dental care in children mouth not only in developed countries but also in developing countries. According to Household Health Survey in 2004 the prevalence of caries in Indonesia up to 90,05 %. This research was done to know parents role in taking care dental health of children, the dental health status and the relation between parents role with the dental health status. The type of this research is cross sectional study. The samples of this research were students and their parents. The numbers of sample were 167 students. Data sampling of children’s dental health status was being done by direct examination of oral cavity by using debris index according to Greene and Vermillion, deft index according to Klein and gingivitis index according to Ramfjord. Meanwhile data of parent’s role was being done by giving questionaires. The result of this research showed that father’s roles was still less in teaching their children how to brush teeth since 2 years old, notifying the time to brush teeth, accompanying children to dentist and checking oral health, yet there were well in taking care of children in brushing teeth till now, providing the toothbrush and toothpaste which is suitable for children and in taking care of the eating habits of children, while mother’s role was not much different. The mean of deft index of children was 4,20 ± 3,25, OHIS 0,39 ± 0,55 and gingivitis 0,03 ± 0,06. The result of the research showed that was relation between parent’s role with the mean of deft index, OHIS index and gingivitis index in children. In conclusion, the parents’ role in taking care of children’s dental health could affect the dental health status in children.
HUBUNGAN PENDIDIKAN, PENGETAHUAN, DAN PERILAKU IBU TERHADAP STATUS KARIES GIGI BALITANYA: RELATIONSHIP BETWEEN EDUCATION, KNOWLEDGE, AND MOTHER'S BEHAVIOUR TOWARD DENTAL CARIES STATUS OF HER UNDER FIVE YEARS OLD CHILDREN Lina Natamiharja; Nila Silvana Dewi
Dentika: Dental Journal Vol. 15 No. 1 (2010): Dentika Dental Journal
Publisher : TALENTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2673.228 KB) | DOI: 10.32734/dentika.v15i1.1991

Abstract

Children whose mother’s have low education level have higher caries risk compared to children whose mother’s havehigh education level. Besides mother’s education, mothers behavior about dental health such as frequency of toothbrushing and sweet food consumption also has significant relation with the caries status of her child aged 1-5 years old.This study was conducted to know the relationship between education, knowledge and mother’s behavior about childdental health care with the prevalence of free caries and def-t of the child. Population were mothers and their childrenaged 3-4 years taken from 4 play groups and 2 BKIA (welfare of mother and child department) Medan Selayang District,Sample size was counted with formula of cross-sectional study design as many as 140 subjects. Data collection was doneby clinical examination on the children and interviewed the mothers. Data analysis was done with Anova and Chi squaretest. The results showed that 65% children had dental caries. There were significant relationships between mother’seducation level with the prevalence of the caries (p= 0.001) and the def-t (p= 0.001) ; between mother’s knowledge andthe prevalence of free caries (p= 0.013) and the mean of def-t (p= 0.004) ; and there were also significant differencesbetween mother’s behaviour with the prevalence of free caries (p=0.01) and the mean of def-t (p= 0.000). It can beconcluded there were significant relationships between education, knowledge and mother behavior level with theprevalence of the caries and the mean of def-t.
STATUS ORAL HIGIENE DAN PERIODONTAL PADA PASIEN DIABETES MELITUS DAN NON-DIABETES DI RSUD Dr. PIRNGADI : ORAL HYGIENE STATUS AND PERIODONTAL DISEASE IN DIABETIC AND NON DIABETIC PATIENTS AT PIRNGADI GENERAL HOSPITAL Mardiah Rizqo; Lina Natamiharja
Dentika: Dental Journal Vol. 18 No. 2 (2014): Dentika Dental Journal
Publisher : TALENTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.844 KB) | DOI: 10.32734/dentika.v18i2.2020

Abstract

Diabetes melitus adalah penyakit gangguan metabolisme ditandai dengan meningkatnya kadar gula darah yang terjadikarena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya. Diabetes melitus merupakan salah satu penyakitsistemik yang berperan sebagai faktor risiko penyakit periodontal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status oralhigiene dan periodontal dan odd rasio periodontitis pada pasien Diabetes melitus dan non-Diabetes. Rancangan penelitianadalah case-control. Populasi penelitian adalah pasien Diabetes melitus yang sedang berobat di Poli Endokrin dan pasiennon-Diabetes di Poli Mata RSUD dr. Pirngadi. Jumlah sampel adalah 100 orang, 50 orang menderita Diabetes melitusdan 50 orang yang tidak menderita Diabetes melitus. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling,yaitu sampel diambil sesuai kriteria inklusi sampai diperoleh jumlah sesuai dengan yang ditentukan. Pengumpulan datadilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner dan pemeriksaan klinis rongga mulut menggunakan IndeksHigiene Oral Disederhanakan dan Indeks Periodontal oleh Ramfjord. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor oralhigiene pada pasien Diabetes melitus tipe 1 adalah 2,06 ± 1,35 dan pada pasien Diabetes melitus tipe 2 yaitu 2,23 ± 0,97sedangkan pada pasien non-Diabetes 0,66 ± 0,33. Rata-rata skor periodontal pada pasien Diabetes melitus tipe 1 adalah2,72 ± 0,86 dan pasien Diabetes melitus tipe 2 yaitu 2,69 ± 0,95, sedangkan pada pasien non-Diabetes 1,07 ± 0,77. Oralhigiene pasien Diabetes melitus kategori sedang dijumpai sebanyak 64% dan non-Diabetes kategori baik 98%. Persentaseperiodontitis pada pasien Diabetes melitus adalah 58% sedangkan pada pasien non-Diabetes 18% dan odd rasio 6,29.Dapat disimpulkan status oral higiene pada pasien Diabetes melitus dengan rata-rata skor oral higiene 2,19 ± 1,05 termasuk kategori sedang, dibandingkan dengan pasien non-Diabetes lebih rendah yaitu 0,66 ± 0,33 dan termasukkategori baik. Status periodontal pada pasien Diabetes melitus dengan rata-rata skor periodontal 2,69 ± 0,93 termasukstatus periodontal sedang dibandingkan dengan pasien non-Diabetes lebih rendah yaitu 1,07 ± 0,77 yang termasuk statusperiodontal baik. Pasien Diabetes melitus mempunyai risiko 6,29 kali lebih besar menderita periodontitis dibandingkanpenderita non-Diabetes.