Pertumbuhan pesat pengguna media sosial di Indonesia membuka peluang besar bagi promosi kesehatan kulit yang lebih luas dan berbasis bukti. Namun, meningkatnya konten dari skinfluencer tanpa kompetensi medis sering memunculkan misinformasi dan praktik perawatan kulit yang tidak aman. Artikel ini bertujuan menganalisis inovasi promosi kesehatan kulit di era digital serta peran dermatologist sebagai edukator profesional di media sosial. Penelitian menggunakan metode literature review dengan menelaah artikel ilmiah dari PubMed, Scopus, ScienceDirect, dan Google Scholar periode 2018–2025 yang membahas digital health promotion, dermatology education, dan komunikasi kesehatan di media sosial. Hasil telaah menunjukkan bahwa keterlibatan aktif dermatolog dalam platform digital berpotensi meningkatkan literasi kesehatan, memperkuat kepercayaan publik, dan mengurangi risiko penggunaan obat topikal maupun kosmetik berbahaya. Strategi digital yang efektif meliputi video edukasi singkat, infografis berbasis bukti, webinar interaktif, dan kampanye tagar yang terstruktur. Tantangan utama mencakup potensi misinformasi, batasan etika profesi, serta isu keamanan data. Penelitian ini merekomendasikan penyusunan pedoman komunikasi kesehatan digital bagi dermatologist, peningkatan pelatihan literasi digital bagi tenaga medis, serta kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat kampanye nasional edukasi kulit sehat. Integrasi strategi tersebut diperlukan untuk memperkuat peran dermatolog sebagai digital health educator yang kredibel di masyarakat.