Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA KARTU SOAL TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN MATEMATIKA MATERI PERPANGKATAN KELAS V DI MIN 2 LAMONGAN Rohmah, Izzatur; , MUSTAJI
Jurnal Mahasiswa Teknologi Pendidikan Vol 9, No 2 (2018): Volume 9 Nomer 2 Tahun 2018
Publisher : Jurnal Mahasiswa Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan pada hasil observasi dan wawancara kepada guru kelas V khususnya di MIN 2 Lamongan, permasalahan yang terjadi siswa mengalami kesulitan dan masih belummemahami materi pelajaran matematika hal ini dilihat dari nilai ulangan yang belum maksimal, sebagian besar siswa masih menganggap mata pelajaran matematika menjenuhkan dan sulit sehinggasiswa cenderung bermain sendiri.Jika siswa merasa kebingungan, siswa menjadi pasif, dan kurangnya interaksi kerjasama antar sesama siswa.Selain itu gaya belajar yang diberikan oleh guru kurang bervariasi, guru hanya menggunakan metode ceramah yang mana pembelajaran hanya berpusat pada guru.Berdasarkan masalah pembelajaran tersebut, penuli smenerapkan model pembelajaran kooperatif tipe numbered head together. Dengan menerapkan model pembalajaran kooperatif Numbered Head Together pada mata pelajaran matematika materi perpangkatan di MIN 2 Lamongan bertujuan untuk mengatasi masalah belajar siswa dan diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Sintaks dari Numbered Head Together adalah fase 1 penomoran, fase 2 mengajukan pertanyaan, fase 3 berfikir bersama dan fase 4 menjawab. Dari hasil penelitian di hitung dengan menggunakan rumus iju t denganhasil t yang diperoleh 9,62168 dan d.b = 38, jadi apabila hasil tersebut dikonsultasikan dengan tabel statistik, maka nilai kritik pada ts0,05 = 0.68100. Dalam hal ini t hitung (9,62168) > t tabel (1,68595).Berdasarkan hasil t yang diperoleh t hitung > t tabel (taraf signifikansi 5%), maka dapat disimpulkan bahwa Ho di tolak dan Ha di terima. Maka Ada pengaruh Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together terhadap hasil belajar siswa kelas V pada mata pelajaran Matematika materi perpangkatan di MIN 2 Lamongan. Kata kunci : Penerapan, Metode Belajar, Numbered Head Together, Matematika
PUPUK ORGANIK CAIR “JAKABA” SEBAGAI ALTERNATIF MEDIA PERTANIAN BERKELANJUTAN DI DESA BALONGDOWO Rosyida, Isnaini Anniswati; Erison, Yendra; Isabel F, Natasya; Wati, Sinta; Rohmah, Izzatur; Susilo , Edi; Dwi P, Muh. Dandy
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 12 No. 2 (2025): JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT 2025
Publisher : P3M Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/abdimas.v12i2.9069

Abstract

Liquid Organic Fertilizer (POC), known as Jakaba (Eternal Lucky Mushroom), is an innovative natural fertilizer produced through a fungal fermentation process from various selected organic components. The main composition in making this fertilizer involves ingredients that are very easy to find in the surrounding environment, such as rice bran, shrimp paste (terasi), bean sprouts, rice washing water (leri), bamboo roots, bamboo leaves, and molasses as an energy source for microorganisms. The combination of these ingredients creates a nutrient-rich growing medium for Jakaba fungi, which then produces a fermented liquid with a very complete content of macro and micro nutrients for plants. Jakaba fertilizer has been widely known by farmers for its extraordinary ability to improve soil fertility and maintain overall plant health. For the people of Balongdowo Village, the application of this fertilizer is a strategic step and a sustainable choice in modern agricultural practices. This is because the production process is relatively easy, uses abundant natural ingredients, and is very friendly to environmental sustainability. The use of Jakaba provides a real solution for farmers to reduce dependence on synthetic chemical fertilizers, which if used excessively and continuously can damage the soil ecosystem, kill good microbes, and reduce land productivity in the long term.