Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Journal of Public Health Concerns

Penyuluhan kesehatan tentang pencegahan risiko jatuh pada lansia dengan penggunaan alat bantu gerak Desmon Wirawati
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i1.392

Abstract

Background: Elderly is the final stage of human development or life process. Elderly people experience anatomical and physiological changes in their bodies. This decrease in function causes elderly people to fall easily. Programs to prevent falls in the elderly can include carrying out gradual mobilization exercises using assistive devices for the elderly. Purpose: To raise awareness and increase the knowledge of elderly people regarding the risk of falls and to implement training in using walking aids as an effort to prevent falls. Method: The method used is counseling about the risk of falls to the elderly at the Husnul Khotimah Nursing Home in Tangerang. The number of elderly people who took part in the counseling was 18 people. Activities will be carried out for one month, namely 27 November - 23 December 2023. Results: The results of the TUG assessment were more than half, namely 11 elderly people or 61.11% of elderly people had a high risk of falling, and 11.11% or 2 elderly people were normal. The risk of falls experienced by the elderly is due to many factors, including the physical weakness of the elderly in using mobility devices, such as weakness in the lower extremities, decreased vision and hearing function, health conditions or illnesses experienced such as gout, hypertension and DM. and the unwillingness of elderly people to use assistive devices for movement. Conclusion: The conditions experienced cause elderly people to have difficulty moving so they are at risk of falling. Another factor that puts elderly people at risk of falling is environmental factors. The underwear environment shows that the floor is made of slippery ceramics, on the walls of the room or along the hallway the underwear is not equipped with a handle on the wall, there is not enough lighting, and the influence of drugs consumed by the elderly. Suggestions: Suggestions for nursing home managers are that they can provide ongoing assistance to the elderly in the use of mobility aids. Nursing home staff are also expected to be able to minimize external factors that cause falls in the elderly. Keywords: Elderly; Fall Prevention; Fall Risk. Pendahuluan: Lanjut usia (lansia) adalah tahap akhir dari tahap perkembangan atau proses kehidupan manusia. Lansia mengalami perubahan secara anatomis dan fisiologis pada tubuh. Penurunan fungsi ini mengakibatkan lansia menjadi mudah terjatuh. Program pencegahan masalah jatuh pada lansia dapat dilakukan diantaranya dengan melakukan latiihan mobilisasi bertahap menggunakan alat bantu pada lansia. Tujuan: Untuk menumbuhkan kesadaran dan meningkatkan pengetahuan lansia terkait risiko jatuh dan mengaplikasikan latihan penggunaan alat bantu jalan sebagai upaya untuk mencegah kejadian jatuh Metode: Metode yang digunakan yaitu penyuluhan risiko jatuh kepada lansia di Panti Werda Husnul Khotimah Tangerang. Jumlah lansia yang mengikuti penyuluhan sebanyak 18 orang. Kegiatan dilakukan selama satu bulan yaitu 27 November - 23 Desember 2023. Hasil: Hasil Penilaian TUG lebih dari sebagaian yaitu 11 orang lanjut usia atau 61.11% lansia mengalami risiko jatuh tinggi, dan 11.11% atau 2 oarang lanjut usia normal. Risiko jatuh yang dialami lansia disebabkab karena banyak faktor diantaranya adalah karena kondisi kelamahan fisik yang dimiliki lansia dalam menggunakan alat gerak, seperti kelemahan pada ekstremitas bawah, penurunan fungsi penglihatan dan pendengaran, kondisi kesehatan atau penyakit yang dialami seperti asam urat, hipertensi, dan DM, serta ketidak mauan lanjut usia menggunakan alat bantu dalam bergerak. Simpulan: Kondisi yang dialami menjadi penyebab lansia mengalami kesulitan bergerak sehingga mengalami risiko jatuh. Faktor lain yang membuat lanjut usia berisiko jatuh adalah karena faktor lingkungan. Lingkungan panti terlihat lantai terbuat dari keramik yang licin, di dinding kamar atau sepanjang lorong panti tidak dilengkapi dengan pegangan pada dinding, pencahayaan yang kurang, serta pengaruh obat-obatan yang dikonsumsi oleh lanjut usia. Saran: Saran untuk pengelola panti diharapkan dapat melakukan pendampigan secara berkelanjutan pada lanjut usia dalam penggunaan alat bantu gerak. Petugas panti juga diharapkan dapat meminimalkan faktor eksternal penyebab jatuh pada lanjut usia.
Penyuluhan kesehatan tentang pencegahan risiko jatuh pada lansia dengan penggunaan alat bantu gerak Wirawati, Desmon
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i1.392

Abstract

Background: Elderly is the final stage of human development or life process. Elderly people experience anatomical and physiological changes in their bodies. This decrease in function causes elderly people to fall easily. Programs to prevent falls in the elderly can include carrying out gradual mobilization exercises using assistive devices for the elderly. Purpose: To raise awareness and increase the knowledge of elderly people regarding the risk of falls and to implement training in using walking aids as an effort to prevent falls. Method: The method used is counseling about the risk of falls to the elderly at the Husnul Khotimah Nursing Home in Tangerang. The number of elderly people who took part in the counseling was 18 people. Activities will be carried out for one month, namely 27 November - 23 December 2023. Results: The results of the TUG assessment were more than half, namely 11 elderly people or 61.11% of elderly people had a high risk of falling, and 11.11% or 2 elderly people were normal. The risk of falls experienced by the elderly is due to many factors, including the physical weakness of the elderly in using mobility devices, such as weakness in the lower extremities, decreased vision and hearing function, health conditions or illnesses experienced such as gout, hypertension and DM. and the unwillingness of elderly people to use assistive devices for movement. Conclusion: The conditions experienced cause elderly people to have difficulty moving so they are at risk of falling. Another factor that puts elderly people at risk of falling is environmental factors. The underwear environment shows that the floor is made of slippery ceramics, on the walls of the room or along the hallway the underwear is not equipped with a handle on the wall, there is not enough lighting, and the influence of drugs consumed by the elderly. Suggestions: Suggestions for nursing home managers are that they can provide ongoing assistance to the elderly in the use of mobility aids. Nursing home staff are also expected to be able to minimize external factors that cause falls in the elderly. Keywords: Elderly; Fall Prevention; Fall Risk. Pendahuluan: Lanjut usia (lansia) adalah tahap akhir dari tahap perkembangan atau proses kehidupan manusia. Lansia mengalami perubahan secara anatomis dan fisiologis pada tubuh. Penurunan fungsi ini mengakibatkan lansia menjadi mudah terjatuh. Program pencegahan masalah jatuh pada lansia dapat dilakukan diantaranya dengan melakukan latiihan mobilisasi bertahap menggunakan alat bantu pada lansia. Tujuan: Untuk menumbuhkan kesadaran dan meningkatkan pengetahuan lansia terkait risiko jatuh dan mengaplikasikan latihan penggunaan alat bantu jalan sebagai upaya untuk mencegah kejadian jatuh Metode: Metode yang digunakan yaitu penyuluhan risiko jatuh kepada lansia di Panti Werda Husnul Khotimah Tangerang. Jumlah lansia yang mengikuti penyuluhan sebanyak 18 orang. Kegiatan dilakukan selama satu bulan yaitu 27 November - 23 Desember 2023. Hasil: Hasil Penilaian TUG lebih dari sebagaian yaitu 11 orang lanjut usia atau 61.11% lansia mengalami risiko jatuh tinggi, dan 11.11% atau 2 oarang lanjut usia normal. Risiko jatuh yang dialami lansia disebabkab karena banyak faktor diantaranya adalah karena kondisi kelamahan fisik yang dimiliki lansia dalam menggunakan alat gerak, seperti kelemahan pada ekstremitas bawah, penurunan fungsi penglihatan dan pendengaran, kondisi kesehatan atau penyakit yang dialami seperti asam urat, hipertensi, dan DM, serta ketidak mauan lanjut usia menggunakan alat bantu dalam bergerak. Simpulan: Kondisi yang dialami menjadi penyebab lansia mengalami kesulitan bergerak sehingga mengalami risiko jatuh. Faktor lain yang membuat lanjut usia berisiko jatuh adalah karena faktor lingkungan. Lingkungan panti terlihat lantai terbuat dari keramik yang licin, di dinding kamar atau sepanjang lorong panti tidak dilengkapi dengan pegangan pada dinding, pencahayaan yang kurang, serta pengaruh obat-obatan yang dikonsumsi oleh lanjut usia. Saran: Saran untuk pengelola panti diharapkan dapat melakukan pendampigan secara berkelanjutan pada lanjut usia dalam penggunaan alat bantu gerak. Petugas panti juga diharapkan dapat meminimalkan faktor eksternal penyebab jatuh pada lanjut usia.
Kegiatan pendampingan dan edukasi gizi seimbang sebagai upaya meningkatkan derajat kemandirian keluarga Wirawati, Desmon
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2056

Abstract

Background: Families play a central role in ensuring the health of each member. One important aspect of maintaining family health is ensuring that all family members receive a balanced nutritional intake. Limited knowledge about balanced nutrition is a challenge that requires immediate attention. Purpose: To provide balanced nutrition education and support in implementing family health behaviors as an effort to increase family independence. Method: Counseling activities were conducted from March to April 2025 in the Bojong Community Health Center (Puskesmas) area. The target group was families with infants, toddlers, and pregnant women. Twenty respondents participated in the counseling. The counseling used an interactive communicative approach accompanied by a direct question-and-answer discussion. The questionnaire used a pre-test and post-test to measure the level of family knowledge and independence. The level of family independence was grouped based on criteria (Table 1). The level of family knowledge and independence was evaluated by observing changes in questionnaire scores between the pre-test and post-test scores. Results: Data showed that the level of knowledge of respondents before the educational activity (pre-test) was 8 in the good category, and after the educational activity (post-test), the level of knowledge increased to 12 in the good category. Regarding the level of independence of respondents, before the educational activity (pre-test), 12 families were in the TK-II independence group and 8 families in the TK-III family independence group. After the educational activity (post-test), 6 families were in the TK-II family independence group, 10 families in the TK-III family independence group, and 4 families in the TK-IV family independence group. Conclusion: Community service activities based on education and mentoring have proven effective in increasing knowledge of balanced nutrition, food selection to meet family nutritional needs, and understanding of the level of family independence, especially in families at risk of stunting. This increased knowledge also has a positive impact and can change parenting behaviors and eating patterns to be healthier. Keywords: Balanced nutrition; Family health; Family independence; Health education; Stunting Pendahuluan: Keluarga memiliki peran sentral dalam usaha menwujudkan kesehatan setiap anggota keluarganya. Salah satu upaya penting dalam menjaga kesehatan keluarga adalah bagaimana memastikan seluruh anggota keluarga mendapatkan asupan gizi yang seimbang. Keterbatasan pengetahuan tentang gizi seimbang menjadi tantangan tersendiri yang perlu segera diberikan perhatian khusus. Tujuan: Memberikan edukasi gizi seimbang dan pendampingan dalam penerapan perilaku kesehatan keluarga sebagai upaya meningkatkan derajat kemandirian keluarga. Metode: Kegiatan penyuluhan dilaksanakan pada Maret-April 2025 di wilayah binaan Puskesmas Bojong. Sasaran dalam kegiatan ini adalah keluarga yang memiliki bayi, balita, dan keluarga dengan ibu hamil. Kegiatan ini melibatkan 20 orang untuk menjadi responden. Penyuluhan dilakukan dengan pendekatan komunikatif interaktif yang disertai dengan diskusi tanya-jawab langsung. Instrumen kegiatan menggunakan kuesioner untuk mengukur tingkat pengetahuan dan kemandirian keluarga yang diberikan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Tingkat kemandirian keluarga dikelompokkan berdasarkan kriteria (Tabel 1). Evaluasi tingkat pengetahuan dan kemandirian keluarga dengan melihat perubahan nilai kuesioner antara sebelum kegiatan edukasi (pre-test) terhadap nilai sesudah kegiatan edukasi (post-test). Hasil: Mendapatkan data bahwa tingkat pengetahuan responden sebelum kegiatan edukasi (pre-test) sebanyak 8 orang dalam kategori baik dan terjadi peningkatan tingkat pengetahuan responden setelah  kegiatan edukasi (post-test) menjadi sebanyak 12 orang yang dalam kategori baik. Untuk tingkat kemandirian responden menunjukkan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) sebanyak 12 keluarga dalam kelompok kemandirian TK-II dan sebanyak 8 keluarga dalam kelompok kemandirian keluarga TK-III, sedangkan untuk sesudah kegiatan edukasi (post-test) sebanyak 6 keluarga dalam kelompok kemandirian keluarga TK-II, sebanyak 10 keluarga dalam kelompok kemandirian keluarga TK-III dan sebanyak 4 keluarga dalam kelompok keluarga mandiri TK-IV. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat yang berbasis pendidikan dan pendampingan terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan gizi seimbang, pemilihan jenis makanan dalam pemenuhan gizi keluarga dan pemahaman tentang derajat kemandirian keluarga, khususnya pada keluarga yang berisiko stunting. Peningkatan pengetahuan ini juga berdampak baik dan mampu mengubah perilaku pola asuh dan pola makan menjadi lebih sehat..