Tia Inayatillah
Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Validasi Modul “Kelasku Menyatu Tanpa Batas” untuk Mengubah Sikap Guru terhadap Pendidikan Inklusif Tia Inayatillah; Budi Andayani
JP3I (Jurnal Pengukuran Psikologi dan Pendidikan Indonesia) Vol 8, No 1 (2019): JP3I
Publisher : Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jp3i.v8i1.12803

Abstract

AbstractThe implementation of inclusive education in Yogyakarta has yet to reflect the granting of rights and equal access to education for students with disabilities. The misconception of inclusive term leads to negative attitudes of teachers then becomes the barriers of successful inclusive teaching. This research aims to validate “Kelasku Menyatu Tanpa Batas” module to change teacher’s attitude toward inclusive education. This research will be done through a quasi experiment using the design named Untreated Control Group Design with Dependent pre-test and post-test samples.The subjects are 18 teachers of primary schools in Yogyakarta which will be divided into 2 groups, the experiment group and the control group. Analysis will be held through Man-Withney U Test statistical test. The finding (Z= -3,054; p<0,01) shows that “Kelasku Menyatu Tanpa Batas” training could change teacher’s attitude towards inclusive education.AbstrakImplementasi pendidikan inklusif di Kota Yogyakarta masih belum mencerminkan pemberian hak dan akses pendidikan yang sesuai dengan siswa yang memiliki disabilitas. Miskonsepsi terhadap prinsip inklusi ditemukan menjadi penghambat kesuksesan inklusi dan penyebab berkembangnya belief yang membentuk sikap negatif guru terhadap pendidikan inklusif. Penelitian ini bertujuan menguji validitas modul “Kelasku Menyatu Tanpa Batas” dalam mengubah sikap guru terhadap pendidikan inklusif. Penelitian dilakukan melalui eksperimen kuasi menggunakan desain Untreated Control Group Design with Dependent pre-test and post-test samples. Subjek adalah 18 orang guru SD di Kota Yogyakarta yang terbagi kedalam dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Analisis dilakukan melalui uji statistika Man-Withney U Test (Z= -3,054; p<0,01) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan eksperimen setelah mendapat perlakuan. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pelatihan “Kelasku Menyatu Tanpa Batas” teruji valid dapat mengubah sikap guru terhadap pendidikan inklusif. 
Hubungan antara Relasi dalam Keluarga dan Kesejahteraan Subjektif Remaja Korban Perundungan Siber Nuha Dzakiyyah; Ihsana Sabriani Borualogo; Tia Inayatillah
Jurnal Riset Psikologi Volume 5, No. 1 Juli 2025, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v5i1.6352

Abstract

Abstract. Cyberbullying is increasing and negatively impacts adolescents' subjective well-being (SWB). Victims of cyberbullying often experience disruptions in interpersonal satisfaction, especially within family relationships. Family relationships, which involve social interactions and closeness among members, are essential for fostering satisfaction and happiness. This study examines how family relationships contribute to the SWB of junior high school students in Bandung City who experience cyberbullying. Participants included 239 students aged 12–16 years (N= 239; 51.6% female; 49.0% male) selected through stratified cluster random sampling in a cross-sectional survey. Family relationships were measured using the Children's World's tool and SWB was measured using the Children's Worlds Subjective Well-Being Scale (CW-SWBS5). Victim categorization followed Patchin and Hinduja’s measurement instrument. Data analysis using linear regression techniques. Results showed that victims of cyberbullying had below-average SWB (M = 64.9; SD = 28.7) compared to Cummins’ theoretical mean of 75, with female victims reporting lower SWB than males. Family relationships, such as feeling safe at home (β = .349, p < .001) and parents listening and paying attention (β = .220, p < .011), significantly positively contributed to their SWB. Therefore, building positive family relationships and interactions is crucial for enhancing the SWB of adolescent victims of cyberbullying. Abstrak. Perundungan siber semakin meningkat dan berdampak negatif pada kesejahteraan subjektif remaja. Korban sering kali mengalami gangguan dalam kepuasan interpersonal, terutama dalam hubungan keluarga. Hubungan keluarga, melibatkan interaksi sosial dan kedekatan antara anggota, sangat penting untuk menumbuhkan kepuasan dan kebahagiaan. Penelitian ini meneliti bagaimana hubungan keluarga berkontribusi terhadap SWB siswa SMP di Kota Bandung yang mengalami perundungan siber. Partisipan terdiri dari 239 siswa berusia 12-16 tahun (N= 239; 51.6% perempuan; 49.0% laki-laki) yang dipilih melalui stratified cluster random sampling dalam survei cross-sectional. Hubungan keluarga diukur dengan menggunakan alat Children's World’s dan SWB diukur dengan menggunakan Children's Worlds Subjective Well-Being Scale (CW-SWBS5). Kategorisasi korban berdasarkan instrumen pengukuran Patchin dan Hinduja. Analisis data menggunakan teknik regresi linier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korban memiliki kesejahteraan subjektif di bawah rata-rata (M = 64,9; SD = 28,7) dibandingkan dengan rata-rata teoritis Cummins yaitu 75, dengan korban perempuan melaporkan kesejahteraan subjektif yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Hubungan keluarga, seperti merasa aman di rumah (β = .349, p <.001) dan orang tua yang mendengarkan dan memberi perhatian (β = .220, p <.011), secara signifikan memberikan kontribusi positif terhadap kesejahteraan subjektif mereka. Oleh karena itu, membangun hubungan dan interaksi keluarga yang positif sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan subjektif korban.
Hubungan Self-Compassion dan Efikasi Diri Akademik pada Mahasiswa Kedokteran Raniandra Nurhanifa Ahmad; Dewi Rosiana; Tia Inayatillah
Bandung Conference Series: Psychology Science 853-860
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24101

Abstract

Abstract. Medical students face substantial academic demands throughout their education, alongside the rapid advancement of digital technology. These conditions may increase the risk of academic challenges, making self-compassion and academic self-efficacy important psychological factors. This study aimed to examine the direction and strength of the relationship between self-compassion and academic self-efficacy among medical students. A quantitative approach with cross-sectional correlational design was employed. The participants consisted od 391 medical students recruited using convenience sampling. Data were collected using Self-Compassion Scale (Neff, 2003), adapted by Sugianto et al. (2020), and The Academic Self-Efficacy Scale (Sigone & Caroli, 2014), adapted by Darmayanti et al. (2021). The result revealed a significant positive correlation of moderate strength between self-compassion and academic self-efficacy (r= 0.471. p < .001). Students with higher self-compassion tended to report higher academic self-efficacy. These findings are expected to contribute to the development of research on psychological factors that support medical students in coping with academic demands in the digital era. Abstrak. Mahasiswa kedokteran menghadapi tuntutan akademik yang tinggi selama masa pendidikan, disertai perkembangan teknologi yang semakin pesat. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko munculnya hambatan akademik, sehingga self-compassion dan efikasi diri akademik menjadi faktor psikologis yang penting. Penelitian ini bertujuan mengetahui arah dan kekuatan hubungan antara self-compassion dan efikasi diri akademik pada mahasiswa kedokteran di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasi cross-sectional. Partisipan berjumlah 391 mahasiswa kedokteran yang diperoleh melalui convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan Self-Compassion Scale (Neff, 2003) yang diadaptasi oleh Sugianto et al. (2020) dan The Academic Self-Efficacy Scale (Sigone & Caroli, 2014) yang diadaptasi oleh Darmayanti et al. (2021). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan dengan kekuatan sedang antara self-compassion dan efikasi diri akademik (r= 0.471. p < .001). Mahasiswa dengan self-compassion yang lebih tinggi cenderung memiliki efikasi diri akademik yang lebih tinggi. Temuan ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam pengembangan kajian mengenai faktor psikologis yang mendukung mahasiswa kedokteran menghadapi tuntutan akademik di era digital.
Perfeksionisme, Ruminasi, dan Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa: Kajian Literatur Rizka Nur Fauziyah; Dewi Rosiana; Tia Inayatillah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1063-1072
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24282

Abstract

Abstract. Academic procrastination is one of the most common problems experienced by final-year university students during the completion of their undergraduate thesis. Previous studies have consistently associated perfectionism with academic procrastination; however, the findings remain inconclusive. This inconsistency suggests that other psychological mechanisms may explain the relationship, particularly rumination. This study aimed to examine the relationship between perfectionism, rumination, and academic procrastination using a narrative literature review approach. A total of fifteen studies were analyzed narratively to identify conceptual patterns, similarities and differences across findings, and existing research gaps. The synthesis indicates that perfectionism activates a discrepancy between individuals' actual and ideal self-schemas, which can be directed through two opposing cognitive pathways. Brooding disconnects individuals from their future self, reinforcing repetitive negative self-focused thinking that increases academic procrastination, whereas reflection keeps individuals oriented toward problem-solving, functioning adaptively to reduce procrastination tendencies. These findings emphasize the importance of distinguishing between the two dimensions of rumination to better understand the psychological mechanisms underlying academic procrastination among final-year university students. Abstrak. Prokrastinasi akademik merupakan salah satu permasalahan yang banyak dialami mahasiswa tingkat akhir selama proses penyusunan skripsi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perfeksionisme berhubungan dengan prokrastinasi akademik, namun hasil yang diperoleh masih belum konsisten. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya mekanisme psikologis lain yang berperan dalam hubungan kedua variabel tersebut, salah satunya adalah ruminasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara perfeksionisme, ruminasi, dan prokrastinasi akademik melalui pendekatan narrative literature review. Sebanyak lima belas artikel yang relevan dianalisis secara naratif untuk mengidentifikasi pola hubungan antarkonsep, persamaan maupun perbedaan temuan penelitian, serta kesenjangan penelitian yang masih ada. Hasil sintesis menunjukkan bahwa perfeksionisme memicu kesenjangan antara skema diri aktual dan skema diri ideal, yang kemudian dapat diarahkan pada dua jalur kognitif yang berlawanan. Brooding memutus hubungan individu dengan diri di masa depan sehingga memperkuat pola pikir negatif berulang yang meningkatkan prokrastinasi akademik, sedangkan reflection menjaga individu tetap berorientasi pada pemecahan masalah sehingga berperan adaptif dalam menurunkan kecenderungan tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa pemisahan dimensi ruminasi penting dilakukan untuk memahami mekanisme psikologis yang mendasari prokrastinasi akademik pada mahasiswa tingkat akhir.
Keterkaitan Keterlibatan Karir dan Persepsi Kemampuan Mendapatkan Pekerjaan: Kajian Literatur Mutia Rohadatul Aisy; Dewi Rosiana; Tia Inayatillah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1113-1122
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24445

Abstract

Abstract. This study aims to examine the effect of technostress on job satisfaction among employees at PT X. The research method used is quantitative with a causal approach. Data were collected through questionnaires that measured the levels of technostress and job satisfaction. The subjects consisted of 106 employees of PT X, selected using a purposive sampling technique. The technostress variable was measured using the Technostress Scale based on Tarafdar et al.'s (2007) theory, adapted by Alma Nissa Salsabila (2022). The job satisfaction variable was measured using the Job satisfaction Survey (JSS) developed by Spector (1997), adapted by Salsabila Syani et al. (2021). Data analysis was conducted using simple linear regression with IBM SPSS Statistics version 26. The results of the study showed that the majority of employees experienced high levels of technostress (77.4%) and low levels of job satisfaction (50.94%). Regression analysis indicated that technostress had a significant negative effect on job satisfaction (p = 0.000 < 0.05; R² = 0.227; β = -0.747). These findings indicate that the research hypothesis is accepted, meaning that higher levels of technostress experienced by employees are associated with lower levels of job satisfaction Abstrak. Perubahan dunia kerja yang berlangsung cepat menuntut mahasiswa tingkat akhir untuk memiliki persepsi kemampuan mendapatkan pekerjaan yang positif, salah satunya melalui keterlibatan aktif dalam pengembangan karir. Artikel ini menyajikan kajian naratif mengenai keterlibatan karir dan persepsi kemampuan mendapatkan pekerjaan, dua konstruk yang dipandang penting dalam kesiapan mahasiswa menghadapi transisi dari dunia pendidikan menuju dunia kerja. Keterlibatan karir ditelaah melalui kerangka perilaku karir proaktif dari Hirschi, sedangkan persepsi kemampuan mendapatkan pekerjaan ditelaah melalui model multidimensional dari Rothwell. Artikel-artikel ilmiah yang relevan ditelaah dan disintesiskan secara deskriptif untuk memaparkan landasan teori, dimensi, dan anteseden dari masing-masing konstruk, serta keterkaitan konseptual dan empiris antarkeduanya berdasarkan penelitian terdahulu. Pembahasan menunjukkan bahwa keterlibatan karir, sebagai bentuk perilaku karir proaktif, secara teoretis maupun empiris berkaitan dengan bagaimana mahasiswa menilai kemampuannya sendiri untuk mendapatkan pekerjaan, meskipun kekuatan dan konsistensi hubungan ini masih bervariasi antarkonteks dan populasi. Career Construction Theory digunakan sebagai kerangka untuk memandang keterlibatan karir sebagai perilaku adaptif yang berkontribusi membentuk evaluasi mahasiswa terhadap peluang kerjanya. Kajian ini dimaksudkan untuk memberikan landasan konseptual bagi penelitian empiris lebih lanjut mengenai kontribusi keterlibatan karir terhadap persepsi kemampuan mendapatkan pekerjaan pada mahasiswa tingkat akhir, khususnya dalam konteks Indonesia
Studi Literatur tentang Gamifikasi Kahoot! dalam Mendukung Motivasi Belajar dan Keterlibatan Siswa Nasywa Atalie Salwa; Dewi Rosiana; Tia Inayatillah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1397-1404
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25722

Abstract

Abstract. Gamification has been widely adopted in education to enhance students' learning motivation and engagement by integrating game elements into learning activities. Among various gamified platforms, Kahoot! is one of the most widely used assessment tools. However, previous studies have reported inconsistent findings regarding its effectiveness. Therefore, this study reviews previous research on the use of Kahoot! to improve students' learning motivation and engagement. This study employed a literature review method using journal articles retrieved from Google Scholar, ScienceDirect, SpringerLink, and ERIC. The selected studies were analyzed using a narrative synthesis approach. The findings show that Kahoot! generally improves students' learning motivation and engagement through interactive features such as immediate feedback, points, leaderboards, and time limits. However, its effectiveness depends on factors including implementation duration, learner characteristics, subject area, instructional design, and the gamification elements used. Overall, Kahoot! has the potential to enhance learning motivation and engagement when implemented appropriately. Abstrak. Gamifikasi semakin banyak diterapkan dalam pembelajaran untuk meningkatkan motivasi belajar dan keterlibatan siswa melalui integrasi elemen permainan. Salah satu media yang banyak digunakan adalah Kahoot!, meskipun efektivitasnya masih menunjukkan hasil yang beragam. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan mengkaji penelitian terdahulu mengenai penggunaan Kahoot! sebagai media evaluasi pembelajaran terhadap motivasi belajar dan keterlibatan siswa. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan menganalisis artikel ilmiah dari Google Scholar, ScienceDirect, SpringerLink, dan ERIC menggunakan sintesis naratif. Hasil kajian menunjukkan bahwa Kahoot! umumnya meningkatkan motivasi belajar dan keterlibatan siswa melalui fitur immediate feedback, sistem poin, leaderboard, dan batas waktu. Namun, efektivitasnya dipengaruhi oleh durasi penggunaan, karakteristik peserta didik, mata pelajaran, desain pembelajaran, serta elemen gamifikasi yang diterapkan. Dengan demikian, Kahoot! berpotensi menjadi media evaluasi yang mendukung motivasi belajar dan keterlibatan siswa apabila diterapkan sesuai konteks pembelajaran.
Hubungan Efikasi Diri Pengasuhan dengan Stres Pengasuhan pada Ibu di Era Digital Revina Nika Anjani; Dewi Rosiana; Tia Inayatillah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1433-1442
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25905

Abstract

Abstract. Advances in digital technology have brought about changes in family dynamics, particularly in parenting practices, as mothers shoulder increasing responsibilities in supervising their children’s use of digital devices. This situation positions parenting self-efficacy as a psychological resource that helps mothers cope with the demands of parenting and is believed to be associated with parenting stress. This study aims to examine the relationship between parenting self-efficacy and parenting stress among mothers with children aged 9–12 years who actively use digital devices. This quantitative correlational study involved 130 mothers in Bandung City, selected using convenience sampling. The inclusion criteria were mothers aged 30–45 years with children aged 9–12 years who used digital devices for at least 2 hours per day, as well as mothers who were active users of digital devices themselves. Data were collected using the Self-Efficacy for Parenting Tasks Index (SEPTI, 36 items, α = 0.889) and the Parenting Stress Scale (PSS), an adapted version of the Parental Stress Scale (15 items, α = 0.828). Descriptive results showed that the majority of mothers had high parenting self-efficacy (72.3%). Meanwhile, the majority of mothers had low levels of parenting stress (70%). Results from the Spearman’s Rho correlation test indicated a significant negative relationship between parenting self-efficacy and parenting stress (rs = -0.585; p < 0.01). These findings indicate that among mothers with children aged 9–12 years who actively use digital devices, the higher the parenting self-efficacy, the lower the level of perceived parenting stress. Abstrak. Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan dalam dinamika keluarga, khususnya dalam praktik pengasuhan, dengan bertambahnya tanggung jawab ibu dalam mendampingi penggunaan perangkat digital anak. Kondisi tersebut menjadikan efikasi diri pengasuhan sebagai salah satu sumber daya psikologis yang berperan dalam membantu ibu menghadapi tuntutan pengasuhan dan diduga berhubungan dengan stres pengasuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri pengasuhan (parenting self-efficacy) dan stres pengasuhan (parenting stress) pada ibu yang memiliki anak usia 9–12 tahun yang aktif menggunakan perangkat digital. Penelitian kuantitatif korelasional ini melibatkan 130 ibu di Kota Bandung yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Kriteria subjek adalah ibu berusia 30-45 tahun dengan anak usia 9-12 tahun yang menggunakan gawai minimal 2 jam per hari serta ibu yang aktif menggunakan perangkat digital. Data dikumpulkan menggunakan instrumen Self-Efficacy for Parenting Tasks Index (SEPTI, 36 butir, α = 0,889) dan Skala Stres Pengasuhan (SSP) hasil adaptasi Parental Stress Scale (PSS, 15 butir, α = 0,828). Hasil deskriptif menunjukkan mayoritas ibu memiliki efikasi diri pengasuhan yang tinggi (72,3%). Sementara itu, mayoritas ibu memiliki tingkat stres pengasuhan yang rendah (70%). Hasil uji korelasi Spearman’s Rho menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara efikasi diri pengasuhan dan stres pengasuhan (rs = -0,585; p < 0,01). Temuan ini menunjukkan bahwa pada ibu yang memiliki anak usia 9-12 tahun yang aktif menggunakan perangkat digital, semakin tinggi efikasi diri pengasuhan maka semakin rendah tingkat stres pengasuhan yang dirasakan.
Hubungan Strategi Belajar Menghadapi Ujian dengan Stres Akademik pada Siswa SMP Alifya Sukma Noor Islami; Dewi Rosiana; Tia Inayatillah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1485-1492
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25969

Abstract

Abstract. Bullying in higher education is a form of interpersonal trauma that can have serious consequences for students' mental health, including prolonged anger, resentment, and difficulties in the forgiveness process. Forgiveness is essential to prevent the long-term psychological consequences of traumatic experiences, and one psychological factor that may facilitate forgiveness is post-traumatic growth (PTG). This study aimed to examine the effect of post-traumatic growth on forgiveness among university students who have experienced bullying. The study employed a quantitative approach using a predictive correlational design. A total of 122 university students with experiences of bullying were selected through purposive sampling. The instruments used were an adapted version of the Post-Traumatic Growth Inventory (PTGI) based on the theory of Tedeschi and Calhoun, and the Transgression-Related Interpersonal Motivations (TRIM-18) scale based on McCullough's theory. The categorization results indicated that both post-traumatic growth and forgiveness were at high levels. The findings revealed a positive and significant effect of post-traumatic growth on forgiveness (B = 0.332, p < .001, and R2 = 0.125), with post-traumatic growth accounting for 12.5% of the variance in forgiveness. These findings suggest that higher levels of post-traumatic growth are associated with higher levels of forgiveness among university students who have experienced bullying. Therefore, post-traumatic growth serves as an important psychological factor that facilitates the forgiveness process among victims of bullying in higher education Abstrak. Perundungan di perguruan tinggi merupakan bentuk trauma interpersonal yang berdampak serius terhadap kesehatan mental mahasiswa, termasuk munculnya kemarahan berkepanjangan, dendam, dan hambatan dalam proses pemaafan. Kemampuan pemaafan dibutuhkan agar dampak traumatis tidak berkelanjutan, dan salah satu faktor yang diduga dapat memfasilitasinya adalah post-traumatic growth (PTG). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh post-traumatic growth terhadap pemaafan pada mahasiswa korban perundungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan predictive correlational design. Sampel diperoleh melalui teknik purposive sampling dengan jumlah 122 mahasiswa korban perundungan. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah adaptasi Post-traumatic growth Inventory (PTGI) yang didasari oleh teori Tedeschi & Calhoun dan skala Transregression-Related Interpersonal Motivation (TRIM)-18 yang didasari oleh teori Mccullough. Hasil kategorisasi menunjukkan bahwa post-traumatic growth dan pemaafan berada pada kategori tinggi. Hasil uji menunjukkan terdapat pengaruh positif dan signifikan post-traumatic growth terhadap pemaafan (B = 0.332, p < 0.001, dan R2 = 0.125) dengan kontribusi sebesar 12.5% terhadap pemaafan. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat post-traumatic growth yang dimiliki mahasiswa korban perundungan, maka semakin tinggi pula pemaafan, sehingga post-traumatic growth berperan sebagai salah satu faktor psikologis penting dalam memfasilitasi proses pemaafan pada korban perundungan di perguruan tinggi.