Muryana, I Ketut
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Gamelan Palawasan Di Dusun Peninjoan Desa Golong Kecamatan Narmada, Lombok Barat Weka Sajjana, I Nengah; Yudarta, I Gede; Muryana, I Ketut
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 5 No 1 (2019): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1325.565 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v5i1.727

Abstract

Gamelan Palawasan adalah salah satu ensambel tradisional yang hidup dan berkembang pada kalangan masyarakat Bali di Lombok. Gamelan ini memiliki fungsi yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Bali di Lombok yang berkaitan dengan pelaksaan ritual keagamaan. Berbagai jenis ritual keagamaan yang di iringi oleh gamelan palawasan diantaranya upacara Dewa Yadnya (Pujiawali), Pitra Yadnya (ngaben), Rsi Yadnya, Manusa Yadnya (perkawinan), dan Bhuta Yadnya.Gamelan palawasan yang ada di Dusun Peninjoan ini mempunyai keunikan dimana dipakai untuk mengiringi tarian sakral yaitu Tari Rejang Lilit dan Abuang.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan memakai teori Estetika, teori Organologi, dan teori Fungsi seni yang didukung dengan studi perpustakaan dan informasi-informasi yang diperoleh dari narasumber. Penelitian gamelan Palawasan sekaa gong Werdhi Mandala Peninjoan dengan topik gamelan Palawasan di Dusun Peninjoan Desa Golong Kecamatan Narmada, Lombok Barat dengan mengangkat beberapa permasalahan diantaranya : a) bentuk instrumen gamelan Palawasan di Dusun Peninjoan Desa Golong Kecamatan Narmada, Lombok Barat. b) komposisi tabuh gamelan Palawasan di Dusun Peninjoan Desa Golong Kecamatan Narmada, Lombok Barat. c) fungsi gamelan Palawasan di Dusun Peninjoan Desa Golong Kecamatan Narmada, Lombok Barat. fungsi dari gamelan Palawasan ini dibagi menjadi dua yaitu fungsi primer dan sekunder. Fungsi primernya adalah sebagai pengiring suatu upacara keagamaan baik dari upacara Dewa Yadnya, Manusa Yadnya maupun Pitra Yadnya. Sedangkan fungsi sekundernya adalah sebagai wadah atau tempat untuk melestarikan seni dan budaya yang ada di Lombok.
Yowana Egar Suatu Kebahagiaan Remaja Trisna Nugraha, I Putu; Yudarta, I Gede; Muryana, I Ketut
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Seni Indonesia Denpasar Vol 8 No 1 (2020): Maret
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.466 KB)

Abstract

Seorang anak akan tumbuh menjadi seorang remaja yang mandiri dalam hal berbuat, emosional, maupun berprinsip, apa bila cara didik orang tuanya yang baik dalam lingkungan keluarga. Mandiri dalam tingkah laku yang diartikan bebas untuk bertindak atau berbuat, tanpa terlalu bergantung pada pertolongan orang lain. Kebebasan yang sering dituntut oleh sang remaja dikarenakan mereka tidak menyukai kekangan, rishi dengan pertanyaan yang mendetail, aturan-aturan yang berlebihan sehingga menyebabkan terbatasnya gerak dan waktu si remaja. Mereka merasa orang tua selalu mengawasi gerak-gerik mereka dan menentukan keputusan yang sering tidak disetujui oleh si remaja, hal tersebut sering menyebabkan pertengkaran antara orang tua dan si remaja. Rumusan konsep karya adalah sebuah ringkasan yang dapat diartikan sebagai suatu karya yang abstrak atau konkret. Di dalam karya Yowana egar penata merumuskan untuk membedahnya menjadi 3 topik pembahasan, yaitu 1) Bagaimana wujud karya Yowana Egar, 2) Bagaimana proses pembentukan karya Yowana Egar, dan 3) Bagaimana analisis estetik dari karya Yowana Egar. Media yang digunakan dalam garapan Yowana Egar adalah gamelan Gong Suling. Wujud karya ini terbagi menjadi empat bagian, yaitu pengawit, pengawak, bapang, dan pengecet. Dengan proses kreativitas menggunakan proses krativitas yang di kembangkan oleh Alma M. Hawkins dalam bukunya Creating Through Dance yang melalui tiga tahapan, yaitu eksplorasi, percobaan, dan pembentukan. Sedangkan dalam analisa estetis menggunakan kajian estetis Djelantik, dengan empat hal yang mendasar yang menimbulkan keindahan, yaitu kerumitan (complexsity), penonjolan (dominance), keutuhan (Unity), keseimbangan (Balance).
NGELANGENIN DALAM GENDER WAYANG STUDI KASUS: GENDING BIMANIYU GAYA TENGANAN KARANGASEM Hartini, Ni Putu; Sudarta, I Gusti Putu; Muryana, I Ketut
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelestarian budaya menjadi isu penting di tengah arus globalisasi yang semakin kuat. Banyak bentuk seni tradisional terancam punah karena minimnya apresiasi dari generasi muda. Gamelan gender wayang, sebagai salah satu warisan budaya, perlu mendapat perhatian khusus agar tetap relevan serta memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan kecerdasan manusia terutama generasi mendatang. Gending Bimaniyu merupakan salah satu gending Gender Wayang yang kaya makna dan tradisi di daerah Tenganan, Karangasem, Bali. Sebagai bagian dari budaya Bali, gending ini memiliki keunikan mengandung nilai-nilai estetika dan filosofis yang mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap estetika dan makna di balik Gending Bimaniyu gaya Tenganan Karangasem. Penelitian ini akan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara dan observasi untuk mendapatkan informasi yang mendalam tentang teknik permainan. Melalui pengumpulan data yang sistematis, dihasilkan analisis yang komprehensif mengenai estetika dan makna Gending Bimaniyu Gender Wayang Gaya Tenganan yakni makna religius, kreativitas serta makna pelestarian.
AESTHETIC STUDY OF GENDING BIMANIYU REPERTOIRE OF GENDER WAYANG STYLE TENGANAN KARANGASEM Hartini, Putu; Sudarta, I Gusti Putu; Muryana, I Ketut
Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts Vol. 8 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/lksn.v8i1.3037

Abstract

The gending Bimaniyu of gender wayang is one of Bali's cultural heritage that needs to be preserved. This research can provide an in-depth understanding of the aesthetics of gending, which can help its preservation efforts. The Uniqueness of the Karangasem Style The Karangasem style in the gender gending of the Bimaniyu puppet has characteristics that distinguish it from other styles. This research can reveal the uniqueness of the aesthetics of this style so that it can enrich the cultural treasures of Bali. The specific purpose of this study is to describe the aesthetics of the Gending Bimaniyu style of Tenganan Karangasem. This research will be carried out within 7 months with unique objectives, including a) aesthetics in Gending Bimaniyu style Karangasem and b) Gending Bimaniyu technique style Karangasem. This research is a qualitative descriptive research. The data source was obtained by recording and reviewing the results of the recording of Gending Bimaniyu using a literature method supported by interviews with Gender Wayang artists. The results of the data analysis used to present the results of data analysis are presented by formal and informal methods. The output of this research is in the form of journals, HKI, and teaching materials, which can be used by students and karawitan artists who graduated from ISI Denpasar in analyzing, reconstructing, and displaying a good, correct, and engaging performance composition structure in the Gender Wayang performance.
Bhava New Musical Composition | Karya Karawitan Baru Bhava Dewangga, I Kadek Wahyu Bhaskara; Muryana, I Ketut
GHURNITA: Jurnal Seni Karawitan Vol 4 No 1 (2024): Maret
Publisher : Pusat Penerbitan LPPMPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jurnalsenikarawitan.v4i1.3291

Abstract

Bhava means spiritual vibration, which arises from the sincere devotion of the community to the gods; then, the gods will always give blessings and gifts. In addition to providing gifts, it is also believed that the gods will provide spirit energy (taksu) to the worshipper. Gamelan Gender Wayang generally accompanies Wayang Wong dances. But it differs from the Wayang Wong Dramatari in the Banjar Kawan Bangli Traditional Village, which uses three Gamelan barrages. From this uniqueness, the stylist wanted to raise the euphoria presented by the sound of the three instruments that the stylist poured into the Balaganjur Bebarongan musical work entitled Bhava. The feeling referred to by the stylist in this work is a sense of happiness, fear, and gratitude that arises and is owned by the people of Pura Dalem Purwa Banjar Kawan, Bangli, because of the sound of rumbling earthquakes, and the sound of lightning, but not accompanied by rain that occurred when Ida Bhatara Sakti Dalam Purwa Napak Pertiwi first after the repair of Barong (meodak). By looking at this phenomenon, the stylist was inspired to elevate the phenomenon into a work by combining barungan gamelan balaganjur bebarongan and kroncongan instruments. In theory, the creation of       Bhava's musical work refers to the process of creating artwork according to I Wayan Dibia in the book Panca Sthiti Ngawi Sani in 2020, which consists of five stages, namely Ngawirasa (Inspiration), Ngawacak (Exploration), Ngarencana (Conception), Ngewangun (Execution), Ngebah (Production). Bhava is a religious theme presented by 17 performers using Balaganjur Bebarongan as the medium of expression with the addition of kroncongan instruments.
Munyin Tanah Experimental Music | Musik Eksperimental Munyin Tanah Candana, I Kadek Hari; Muryana, I Ketut
GHURNITA: Jurnal Seni Karawitan Vol 4 No 3 (2024)
Publisher : Pusat Penerbitan LPPMPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jurnalsenikarawitan.v4i3.3379

Abstract

Munyin Tanah is an experimental music created to materialize the composer's ideas. This work's creation hopefully provides benefits in the form of new references for musicians and audiences. The method of creation in this work is found in a book by Brewster Ghiselin entitled The Creative Process. Roger Sessions (1952) explains that creating a musical work includes inspiration, conception, and execution. Based on this method, the composer produces experimental musical works by processing musical elements using media that combines non-musical and musical instruments. The musical idea represents sounds that arise from the ground, such as rumbling booming, and sounds produced from the contact of materials made out of soil, such as the sound of rain and earth shifting crust. This is processed through rhythmic integration that explores Balinese gamelan and drumming techniques in Western music, such as single, double, and paradiddle.