Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

RESPON AIR OLAHAN LIMBAH CANTINAMIPA DENGAN PERENDAMAN BATANG PISANG DAN AMPAS TEH TERHADAP TANAMAN MANGKOKAN Natanael, Christi L.; Sulaeman, Allyn Pramudya
Chimica et Natura Acta Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.824 KB) | DOI: 10.24198/cna.v3.n1.9175

Abstract

Penyedia energi saat ini masih didominasi oleh sumber energi yang tidak dapat diperbaharui seperti Abstrak: Pemanfaatan batang pisang dan ampas teh yang berpotensi sebagai adsorben dan anti mikroba pada pengolahan limbah cair telah dilakukan pengolahan air limbah CANTINAMIPA Unpad secara alami dengan cara perendaman batang pisang dan ampas teh selama 2, 4, 6 dan 8 jam. Hasil pengamatan menunjukkan, meningkatnya nilai konduktivitas menunjukan desopsi ion elektrolit yang dengan diikuti penuruan pH seiring lamanya perendaman. Jumlah koloni total bakteri menurun setelah perendaman dengan batang pisang selama 2 jam sebesar 61,09%, akan tetapi semakin lama perendaman jumlah koloni bakteri meningkat. Secara estetika air, hasil organoleptis terjadi penurunan warna, kekeruhan dan bau air limbah setelah perendaman 6 jam. Respon terhadap pertumbuhan tanaman mangkokan pada media air hasil olahan perendaman batang pisang dan ampas teh selama 2 jam menunjukan adaptasi yang baik selama 21 hari dilihat dari muncul akar baru dan layu daun dibandingkan pada media air limbah sebagai kontrol.
KARAKTERISASI ASAM HUMAT HASIL ISOLASI DARI TANAH GAMBUT RAWA LAKBOK DAN BATUBARA ASAL KALIMANTAN SELATAN MENGGUNAKAN NATRIUM HIDROKSIDA Yuliyati, Yati B.; Sulaeman, Allyn Pramudya; Cahyaningrum, Aprilia Disti
Chimica et Natura Acta Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.86 KB) | DOI: 10.24198/cna.v2.n1.9138

Abstract

Tanah gambut dan batubara merupakan hasil proses penguraian biologis alami bertahun-tahun dimana senyawa asam humat terkandung didalamnya. Perbedaan proses pembentukannya dapat menyebabkan sifatnya berbeda pula pada asam humatnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkarakterisasi dan membandingkan asam humat hasil isolasi dari tanah gambut asal Rawa Lakbok dan batubara asal Kalimantan Selatan. Isolasi asam humat dilakukan dengan proses ekstraksi padat-cair menggunakan natrium hidroksida 0,1 N kemudian difraksinasi dengan asam sulfat 6 M. Endapan hasil fraksinasi dimurnikan dan dicuci dengan asam sulfat 1 M, akuades dan etanol. Asam humat dikarakterisasi berdasarkan kadar air, kadar abu, kapasitas tukar kation, rasio C/N, rasio E4/E6 dengan UV-visible dan spektrofotometri inframerah. Rendemen asam humat dari tanah gambut dan batubara masing-masing adalah 0,36 dan 7,31%. Rasio C/N yang lebih rendah dari asam humat batubara menunjukkan bahwa bahan organik tersebut lebih mudah terdekomposisi. Spektra inframerah asam humat batubara lebih banyak mengandung aromatik dan gugus –OH yang didukung dengan rasio E4/E6 yang rendah sedangkan asam humat tanah gambut lebih banyak mengandung alifatik dan gugus karboksilat yang didukung dengan rasio E4/E6 yang tinggi. Karakteristik asam humat dari batubara memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan asam humat dari tanah gambut meskipun kapasitas tukar kationnya lebih rendah.
RESPON AIR OLAHAN LIMBAH CANTINAMIPA DENGAN PERENDAMAN BATANG PISANG DAN AMPAS TEH TERHADAP TANAMAN MANGKOKAN Christi L. Natanael; Allyn Pramudya Sulaeman
Chimica et Natura Acta Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.824 KB) | DOI: 10.24198/cna.v3.n1.9175

Abstract

Penyedia energi saat ini masih didominasi oleh sumber energi yang tidak dapat diperbaharui seperti Abstrak: Pemanfaatan batang pisang dan ampas teh yang berpotensi sebagai adsorben dan anti mikroba pada pengolahan limbah cair telah dilakukan pengolahan air limbah CANTINAMIPA Unpad secara alami dengan cara perendaman batang pisang dan ampas teh selama 2, 4, 6 dan 8 jam. Hasil pengamatan menunjukkan, meningkatnya nilai konduktivitas menunjukan desopsi ion elektrolit yang dengan diikuti penuruan pH seiring lamanya perendaman. Jumlah koloni total bakteri menurun setelah perendaman dengan batang pisang selama 2 jam sebesar 61,09%, akan tetapi semakin lama perendaman jumlah koloni bakteri meningkat. Secara estetika air, hasil organoleptis terjadi penurunan warna, kekeruhan dan bau air limbah setelah perendaman 6 jam. Respon terhadap pertumbuhan tanaman mangkokan pada media air hasil olahan perendaman batang pisang dan ampas teh selama 2 jam menunjukan adaptasi yang baik selama 21 hari dilihat dari muncul akar baru dan layu daun dibandingkan pada media air limbah sebagai kontrol.
KARAKTERISASI ASAM HUMAT HASIL ISOLASI DARI TANAH GAMBUT RAWA LAKBOK DAN BATUBARA ASAL KALIMANTAN SELATAN MENGGUNAKAN NATRIUM HIDROKSIDA Yati B. Yuliyati; Allyn Pramudya Sulaeman; Aprilia Disti Cahyaningrum
Chimica et Natura Acta Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.86 KB) | DOI: 10.24198/cna.v2.n1.9138

Abstract

Tanah gambut dan batubara merupakan hasil proses penguraian biologis alami bertahun-tahun dimana senyawa asam humat terkandung didalamnya. Perbedaan proses pembentukannya dapat menyebabkan sifatnya berbeda pula pada asam humatnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkarakterisasi dan membandingkan asam humat hasil isolasi dari tanah gambut asal Rawa Lakbok dan batubara asal Kalimantan Selatan. Isolasi asam humat dilakukan dengan proses ekstraksi padat-cair menggunakan natrium hidroksida 0,1 N kemudian difraksinasi dengan asam sulfat 6 M. Endapan hasil fraksinasi dimurnikan dan dicuci dengan asam sulfat 1 M, akuades dan etanol. Asam humat dikarakterisasi berdasarkan kadar air, kadar abu, kapasitas tukar kation, rasio C/N, rasio E4/E6 dengan UV-visible dan spektrofotometri inframerah. Rendemen asam humat dari tanah gambut dan batubara masing-masing adalah 0,36 dan 7,31%. Rasio C/N yang lebih rendah dari asam humat batubara menunjukkan bahwa bahan organik tersebut lebih mudah terdekomposisi. Spektra inframerah asam humat batubara lebih banyak mengandung aromatik dan gugus –OH yang didukung dengan rasio E4/E6 yang rendah sedangkan asam humat tanah gambut lebih banyak mengandung alifatik dan gugus karboksilat yang didukung dengan rasio E4/E6 yang tinggi. Karakteristik asam humat dari batubara memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan asam humat dari tanah gambut meskipun kapasitas tukar kationnya lebih rendah.
Yield and Characteristics of Biodiesel as an Impact of Varying Types of Cooking Oil Waste: Rendemen dan Karakteristik Biodiesel sebagai Dampak Variasi Jenis Limbah Minyak Goreng Haryono; Rostika Noviyanti, Atiek; Pramudya Sulaeman, Allyn; Dayu Kusuma, Hersandy; Rahmadona, Nova
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 5 No. 1 (2024): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Juli 2024
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Increased activity in various sectors causes fuel demand to increase. Therefore, it is necessary to provide renewable alternative fuels. Biodiesel is an alternative fuel for diesel engines that comes from plant oils, animal fats or waste cooking oil. The aim of this research is to study the effect of the type of cooking oil waste on the yield and characteristics of biodiesel in the synthesis of biodiesel with a homogeneous catalyst. Biodiesel synthesis goes through four stages of treatment, namely: purification of waste cooking oil, esterification with a sulfuric acid catalyst, transesterification with a potassium hydroxide catalyst, and biodiesel purification. The types of cooking oil waste vary based on the waste source, in the form of waste oil from frying pans, seafood and fried chicken. The research results showed that biodiesel from waste cooking oil for frying fritters, chicken and seafood was obtained with successive yields of 54.70; 64.25; and 58.11%. The characteristics of biodiesel from each type of cooking oil waste meet the biodiesel quality requirements based on SNI 7182-2015. AbstrakPeningkatan aktivitas di berbagai sektor menyebabkan kebutuhan bahan bakar semakin meningkat. Oleh sebab itu dibutuhkan ketersediaan bahan bakar alternatif yang bersifat terbarukan. Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif untuk mesin diesel yang berasal dari minyak tumbuhan, lemak hewan, ataupun limbah minyak goreng. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh jenis limbah minyak goreng terhadap rendemen dan karakteristik biodiesel pada sintesis biodiesel dengan katalis homogen. Sintesis biodiesel melalui empat tahap perlakuan, yaitu: pemurnian limbah minyak goreng, esterifikasi dengan katalis asam sulfat, transesterifikasi dengan katalis kalium hidroksida, dan pemurnian biodiesel. Jenis limbah minyak goreng divariasikan berdasarkan sumber limbah, berupa limbah minyak dari penggorengan gorengan, seafood, dan ayam goreng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biodiesel dari limbah minyak goreng untuk penggorengan gorengan, ayam, dan seafood diperoleh dengan rendemen berturut-turut sebesar 54,70; 64,25; dan 58,11%. Karakteristik biodiesel dari masing-masing jenis limbah minyak goreng tersebut telah memenuhi syarat mutu biodesel berdasarkan SNI 7182-2015.